KETIK, JAKARTA – Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang papan reklame raksasa berisi wajah sejumlah tokoh yang dianggap sebagai musuh politik Israel.
Reklame tersebut muncul di salah satu jalan utama Tel Aviv menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026.
Sejumlah tokoh terpampang dalam papan reklame itu, di antaranya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Wali Kota New York Zohran Mamdani, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, serta pemimpin Hizbullah Naim Qassem.
Di bagian reklame juga tertulis pesan berbahasa Ibrani yang berbunyi, “Mereka ingin Netanyahu kalah, jangan biarkan mereka menang.”
Pemasangan reklame tersebut disebut menjadi bagian dari kampanye politik kubu Netanyahu dalam mempertahankan kekuasaan menjelang pemilu.
Baca Juga:
Hamas Tunggu Jawaban Resmi BoP, Persoalkan Penarikan Pasukan IsraelLikud menghadapi persaingan ketat setelah sejumlah survei terbaru menunjukkan posisi partai pimpinan Netanyahu mengalami tekanan.
Dalam jajak pendapat Channel 12 yang dilakukan pada Jumat, 20 Agustus 2026, Partai Likud diproyeksikan memperoleh 21 kursi parlemen.
Posisi tersebut berada di bawah Partai Yashar yang didirikan mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Gadi Eisenkot, yang diperkirakan memperoleh 24 kursi.
Survei yang sama juga menunjukkan Eisenkot lebih unggul dalam tingkat preferensi publik sebagai calon Perdana Menteri.
Baca Juga:
Isu Nuklir, Kedubes Iran Beri Respons Tegas atas Polemik Pidato PrabowoSebanyak 44 persen responden memilih Eisenkot, sementara Netanyahu memperoleh 34 persen.
Meski demikian, Perdana Menteri Israel tidak dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilih menentukan partai politik yang akan duduk di parlemen, kemudian Presiden Israel menunjuk tokoh yang dinilai paling mampu membentuk koalisi mayoritas.
Kemunculan reklame tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Turki.
Beberapa hari setelah pemasangan papan reklame, jet tempur Israel dilaporkan menyerang pangkalan udara Abu al-Dahar di Suriah utara yang disebut berkaitan dengan keberadaan pasukan dan kepentingan militer Turki.
Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan operasional dan informasi intelijen mengenai persiapan penempatan pasukan serta peralatan Turki di kawasan tersebut.
Namun, sejumlah pihak mempertanyakan waktu terjadinya serangan. Utusan Presiden Amerika Serikat untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, bahkan menilai tindakan Israel tersebut sebagai langkah agresif yang kemungkinan memiliki keuntungan politik menjelang pemilu.
Pihak Turki juga menolak penjelasan Israel dan menuding pemerintahan Netanyahu menjalankan kebijakan yang berpotensi memperluas konflik serta meningkatkan ketidakstabilan di kawasan.
Di tengah tekanan politik domestik dan dinamika keamanan regional, reklame raksasa yang memajang wajah sejumlah tokoh tersebut kini menjadi sorotan.
Pesan kampanye Likud itu memperlihatkan upaya kubu Netanyahu membangun narasi politik menjelang pertarungan menentukan dalam pemilu Israel pada Oktober 2026.(*)