KETIK, SLEMAN – Kebahagiaan tengah menyelimuti Prof Dr Istiana Hermawati, SPd MSos beserta keluarga. Usai resmi dikukuhkan sebagai Profesor Riset oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pakar Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat ini menggelar acara syukuran yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan di Gedung LKS Panti Asuhan BIMa, Sedayu, Bantul, Minggu 21 Juni 2026.

Pantauan di lokasi, acara syukuran ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi pencapaian akademik tertinggi, melainkan juga momen reuni yang emosional. Suasana haru sekaligus ceria pecah saat rombongan besar dari masa lalu sang profesor tiba di lokasi.

Sebanyak 16 teman akrab dari SMPN 2 Jepara hadir langsung untuk bernostalgia. Tak kalah kompak, sekitar 30 teman sekolahnya dari SPG Sragen bahkan sengaja menyewa satu bus rombongan demi bisa merayakan momen spesial ini bersama-sama di Bantul.

Kebahagiaan acara kian lengkap dengan kehadiran rekan-rekan tangguh dari Prajabatan serta para kolega akademisi dari program, S1, S2 Doktoral (S3) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Perkumpulan Periset Indonesia kolega dari Jakarta, Semarang, Magelang dan seputar DIY.

Pencapaian tertinggi di bidang akademik ini sekaligus mengukir sejarah tersendiri bagi tanah kelahirannya. Prof Istiana tercatat sebagai Profesor kedua yang lahir dan berasal dari Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Di mata para sahabatnya, Prof Istiana memang dikenal sebagai sosok yang sangat gigih dan rajin sejak masa sekolah.

Tekad kuatnya dalam menuntut ilmu mengantarkannya meraih berbagai prestasi akademik, termasuk menjadi salah satu penerima beasiswa bergengsi Supersemar pada masa studinya. Rekam jejak perjuangan masa lalu itulah yang dinilai para sahabat membentuk karakter tangguhnya hingga berhasil mencapai puncak karier.

H Mahyudin Al Mudra, dalam testinominya menyampaikan di awal pertemuannya di tahun1996 istiana datang ke kantornya penerbit Adicita Karya Nusa Yogyakarta melihat sosok perempuan desa yang sangat lugu dan tampak kurang percaya diri untuk memohon bimbingan tentang penulisan sebuah karya yang layak untuk diterbitkan.

Selain itu ia menyampaikan dengan kondisi yang sakit ternyata mampu menujukkan sebagai seorang peneliti, penulis, dosen, dan seorang wirausaha sosial dengan berbagai kegiatan sosial terutama anak-anak yatim dan dhuafa, disabilitas dan lansia dalam wadah LPPM Bina Insan Mandiri (BIMa)

Hampir senada semua testimoni dari keluarga, teman SD, SMP, SPG, S1,S2,S3, rekan kerja dan para kolega bahwaIstianadikenal sebagai sosok yang pesakitan tetapi disiplin dan mempunyai tekad yang besar untuk menunjukkan meskipun dengan kondisi yang sakit mampu untuk mengerjakan tugasnya, terbukti sekarang mampu mencapai puncak karirnya sebagai profesor.

Baca Juga:
Catatan dari Diskusi Hukum Pasca-UU Penyesuaian Pidana di Sleman

Prof Istiana Hermawati, saat diapit oleh puluhan rekan seangkatan masa sekolahnya di SPG Sragen dalam acara syukuran gelar Profesor Riset BRIN. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

Apresiasi dari Bupati Sleman, dan Jejak Pengabdian di BIMa

Apresiasi mendalam terhadap pencapaian tertinggi Prof Istiana datang langsung dari jajaran pemerintahan regional. Sebelum acara syukuran dimulai, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyempatkan diri menghubungi lewat sambungan video call untuk memberikan ucapan selamat secara langsung.

Bupati Harda yang saat itu sedang berada di Manado dalam rangka menjalankan tugas, menyampaikan rasa bangga yang luar biasa atas pengukuhan tersebut.

Dalam obrolan virtual yang berlangsung hangat itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menggarisbawahi pentingnya sinergi antara dunia riset dan kebijakan praktis di daerah.

"Pengukuhan Prof Istiana sebagai Profesor Riset BRIN bukan hanya kebanggaan bagi dunia akademik, tetapi juga aset berharga bagi pembuat kebijakan seperti kami di pemerintahan daerah," ujar Harda Kiswaya dari seberang panggilan.

Bupati Sleman ini menambahkan bahwa tantangan sosial memerlukan pendekatan yang lebih presisi dan berbasis data kuat. Ia menaruh harapan besar agar kepakaran, pemikiran, serta dedikasi ilmiah Prof Istiana dapat segera diimplementasikan untuk mendukung program-program pembangunan daerah, khususnya dalam memetakan dan mengentaskan kemiskinan di Sleman serta wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta secara lebih luas.

Gayung bersambut, gagasan substantif sang profesor mengenai kebijakan publik memang sangat selaras dengan tantangan daerah saat ini. Berangkat dari naskah pidatonya yang bertajuk “Transformasi Kebijakan Publik untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensi melalui Inovasi Sosial dan Pemberdayaan Komunitas”,

Prof Istiana menegaskan bahwa penanggulangan kemiskinan memerlukan lompatan paradigma radikal. Menurutnya, ukuran kesejahteraan tidak bisa lagi sekadar ditakar dari pendekatan pendapatan konvensional.

Merujuk tesis ekonom Amartya Sen, ia memaparkan bahwa kemiskinan sejati adalah keterbatasan kemampuan manusia untuk mewujudkan potensi penuh mereka. Melalui validasi empiris lewat Confirmatory Factor Analysis (CFA) dari rangkaian riset panjangnya sejak di Jayapura (2011) hingga Kulon Progo (2022–2023).

Ia menawarkan formula Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) versi Indonesia yang mencakup enam dimensi inti: ekonomi, partisipasi sosial, pendidikan, kesehatan, serta aspek gender dan teknologi digital. Prof. Istiana mendorong agar masyarakat diposisikan sebagai subjek aktif melalui inovasi sosial, seperti gerakan "Dapur Bude" yang sempat ia inisiasi di Yogyakarta saat pandemi Covid-19.

Pemilihan Gedung LKS BIMa sebagai lokasi syukuran pun sarat akan makna historis. Prof Istiana merupakan Ketua Umum dari LPPM/LKS-Panti Asuhan BIMa (Bina Insan Mandiri) yang ia rintis sejak tahun 2000. Lembaga ini semula lahir dari perjuangan mandiri Istiana beserta suaminya Agus Darmono yang disokong penuh oleh dana pribadinya, sebelum akhirnya berkembang pesat menjadi sebuah Yayasan resmi.

Jika dulu BIMa menjadi tempat bernaung bagi anak-anak yatim piatu yang tinggal di dalam panti, kini jangkauannya kian luas. Warga dan anak binaan luar panti jumlahnya terus bertambah, di mana setiap hari Ahad Legi, panti ini selalu menjadi pusat kegiatan bersama sebagian anak-anak binaan tersebut untuk merawat asa mereka.

"Pencapaian ini bukan hanya milik saya pribadi, tetapi juga berkat doa dan dukungan dari keluarga, instansi, serta para sahabat yang selalu menemani perjalanan hidup saya dari masa sekolah, masa prajabatan, hingga kuliah dulu. Saya sangat terharu mereka bela-belain datang jauh-jauh," ujar Prof Istiana di sela-sela acara.

Kilas Balik Pengukuhan Resmi di Jakarta

Acara syukuran di Bantul ini merupakan kelanjutan dari prosesi sakral Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di lingkungan BRIN yang digelar sebulan lalu, tepatnya pada Kamis, 21 Mei 2026. Prosesi pengukuhan ilmiah tersebut dilaksanakan secara luring di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie Lantai 3, Jakarta Pusat.

Dalam sidang terbuka tersebut, Prof Istiana Hermawati dikukuhkan sebagai Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN bersama empat orator lainnya, yaitu:

Baca Juga:
Kukuhkan 400 Pengurus Jaga Warga Sariharjo, Bupati Sleman Minta Aktif Redam Konflik dan Laporkan Jalan Rusak

1. Prof Dr Dra N Sri Hartati, MSi. (Pakar Biologi Molekuler Tanaman - Pusat Riset Rekayasa Genetika)
2. Prof Dr Istiana Hermawati, SPd MSos. (Pakar Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat - Pusat Riset Kebijakan Publik)
3. Prof Anastasia Wheni Indrianingsih, PhD. (Pakar Kimia Organik Ramah Lingkungan - Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan)
4. Prof Dr Rahmat Arief, Dipl Ing. (Pakar Penginderaan Jauh Radar - Pusat Riset Geoinformatika)
5. Prof Dr Syaiful Bakhri (Pakar Aplikasi Energi Nuklir - Organisasi Riset Tenaga Nuklir)

Jalannya acara di Gedung LKS BIMa berlangsung khidmat, diselingi dengan ramah tamah, doa bersama, dan sesi foto bersama yang penuh tawa.

Melalui kepakarannya di bawah Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, gelar Profesor Riset yang disandang Prof Istiana diharapkan dapat melahirkan kebijakan publik kontemporer yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan sosial di Indonesia. (*)