KETIK, JAKARTA – Krisis kemanusiaan di Sudan semakin memburuk. Lebih dari 200.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di wilayah Kordofan akibat meningkatnya intensitas pertempuran sejak akhir tahun lalu. Situasi diperparah oleh serangan drone yang menyasar infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan fasilitas air di Kota El Obeid.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan bahwa lonjakan pengungsian terjadi di tengah ancaman banjir musiman yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Darfur Utara.
“Tidak mungkin mengabaikan tanda-tanda peringatan ini. Di seluruh Sudan, keluarga-keluarga melarikan diri dari kekerasan, kehilangan akses terhadap air, listrik, dan layanan kesehatan, serta kini menghadapi beban tambahan akibat banjir yang merusak,” kata Direktur Jenderal IOM Amy Pope dilansir dari Aljazeera, Kamis, 20 Agustus 2026.
IOM mencatat, jumlah pengungsi di Distrik Sheikan, wilayah yang mencakup Kota El Obeid, meningkat hingga 25 persen dalam delapan bulan terakhir.
Di El Obeid, serangan berulang dan serangan drone terhadap trafo listrik utama kota menyebabkan terganggunya pasokan listrik. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap operasional rumah sakit, sistem pemompaan air, serta layanan komunikasi.
Baca Juga:
Batu 3,1 Kilogram Bersarang di Kandung Kemih Pasien hingga 10 Tahun Berhasil DiangkatSelain di Kordofan, krisis pengungsian juga terjadi di wilayah lain. Sekitar 78.000 warga di Negara Bagian Blue Nile dilaporkan telah melarikan diri dari rumah mereka. Sementara itu, sekitar 18.000 orang di Darfur Barat mengungsi pada paruh pertama Agustus 2026.
Banjir turut memperburuk keadaan. Di wilayah Tawila, Darfur Utara, hujan deras merusak hampir 1.350 rumah dan menyebabkan lebih dari 1.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.
“Sudan adalah salah satu krisis pengungsian terbesar di dunia. Dampak gabungan dari konflik, kerusakan infrastruktur, dan banjir telah membuat ribuan keluarga berada dalam kondisi yang sangat sulit,” ujar Pope.
Perang saudara Sudan yang pecah sejak April 2023 telah menimbulkan dampak besar. Diperkirakan sekitar 59.000 orang meninggal dunia, sementara 8,6 juta warga mengungsi di dalam negeri dan lebih dari 4,2 juta lainnya melarikan diri ke negara-negara tetangga.
Baca Juga:
Trump Unggah Peta Selat Hormuz Jadi Wilayah Baru ASPBB memperkirakan sekitar 33,7 juta warga Sudan kini membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kota El Obeid menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Kota yang sebelumnya berpenduduk sekitar 750.000 jiwa itu kini diperkirakan menampung sekitar 3,4 juta orang akibat gelombang pengungsi. (*)