KETIK, JAWA TENGAH – Dalam penanggalan kalender Hijriah pada bulan ketiga disebut bulan Rabiul Awal dan masyarakat Indonesia pada umumnya menyebut bulan Maulid. Pada bulan Maulid terdapat peristiwa agung yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal.
Umat muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk rasa syukur dan ungkapan kegembiraan serta menganggungkan dengan kehadiran beliau.
Memperingati Maulid Nabi SAW tergolong bid'ah hasanah yang artinya baik dan membuahkan pahala karena mengagungkan Nabi Muhammad SAW dan menampakkan rasa gembira dan kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad.
Dalam bukunya Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Syuyuthi, secara substansi tujuan perayaan Maulid Nabi SAW adalah berkumpulnya umat Islam untuk bersama-sama membaca Al-Qur'an, membaca kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dan amalan lainnya.
Beberapa dalil menjelaskan tentang keutamaan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga:
Ratusan Warga Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Kediaman Ketua Umum DPP IkamaBerikut beberapa dalilnya :
1. Termasuk Amalan Baik Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara baik, maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun." (HR. Muslim)
2. Bentuk Syukur atas Kelahiran Nabi Muhammad SAW ,Imam Muslim dalam kitab shahihnya menuliskan, Rasulullah SAW ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab, "Hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan." (HR Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan puasa pada hari Senin sebagai bentik syukur kepada Allah SWT. Ini adalah isyarat dari Rasulullah SAW bahwa beliau mensyukuri hari kelahirannya. Maulid Nabi SAW menjadi bentuk syukur umat Islam atas kelahiran Rasulullah SAW.
Baca Juga:
Cahaya Maulid Sinari Suak Nibong, Ratusan Jemaah MPTT-I Larut dalam Zikir Tolak Bala3. Amalan Berpahala Surga,Abu Bakar RA berkata, "Barang siapa membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga."
Umar RA berkata, "Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam."
Utsman RA berkata, "Barang siapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW maka seakan-akan ia ikut serta menyaksikan perang Badar dan Hunain. "Ali RA berkata, "Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi SAW dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan Maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke surga tanpa hisab."
4. Masuk dalam Golongan Mukminin Imam Syafi'i berkata, "Barang siapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na'im."
5. Amalan Bid'ah Hasanah (Hal Baik) Ahmad Ibn Hajar al-Asqalani menuliskan, "Asal peringatan maulid adalah bid'ah yang belum pernah dinukil dari kaum salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan, jadi barang siapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal buruk), maka itu adalah bid'ah hasanah."
Al-Hafidz ibn Hajar juga mengatakan, "Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang sahih."
Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 25 Agustus 2026, satu hari besar islam yang merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam ini dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."(QS Al-Aḥzāb: 21). (*)