KETIK, MALANG – Pengasuh Pesantren Tahfidz Bani Yusuf Malang, KH. Dr. Abd. Rouf, M.HI memadukan dua tradisi pesantren besar sebagai dasar sistem pembelajaran di pesantren yang diasuhnya. Perpaduan tersebut menggabungkan penekanan pada sistem membentuk kualitas hafalan santri dan fashohah/kefasihan atas bacaan dan hafalan para santri sehingga mampu mencetak santri yang memiliki militansi terhadap Al-Qur'an.
Kyai Rouf menuturkan bahwa karakter suatu pesantren tidak akan terlepas dari latar belakang pendidikan pengasuhnya. Menurutnya, pengalaman belajar adalah bekal utama dalam menyusun metode pendidikan yang diterapkan kepada para santri.
Salah satu tradisi yang dia terapkan di pesantren ini adalah tradisi yang beliau dapatkan selama nyantri di Madrasatul Qur'an (MQ) Tebuireng, Jombang. Di Pesantren tersebut menekankan pembinaan fashahah atau kefasihan bacaan Al-Qur'an secara kontinu.
Karena itu, santri di Pesantren Tahfidz Bani Yusuf ini dibiasakan mengikuti pembinaan fashahah sebelum menyetorkan hafalan agar kualitas bacaan tetap terjaga dan juga bisa tetap menjaga ritme bacaan agar tidak terlalu cepat, tandas beliau.
Selain menjaga kualitas bacaan, kyai juga menerapkan tradisi lain yang beliau pelajari dan terapkan ketika beliau nyantri di Nazzalal Furqoon yang diampuh oleh Simbah Kyai Munawwir Munajat dan di Pesantren Daar al-Furqoon Kudus yang diasuh oleh Sayyid Abdul Qodir.
Baca Juga:
CDC UIN Malang Review Pedoman Tracer Study, Perkuat Peran Alumni"Di sana menekankan kualitas hafalan, tidak diperkenankan naik juz juka benar-benar secara kualitas hafalan belum baik. Dari keduanya kemudian itu digabung di pesantren ini, sehingga menjadi distingsi (pembeda) dengan pesantren-pesantren sekitar," ujarnya.
Perpaduan kedua tradisi tersebut menjadi dasar sistem pembelajaran di Pesantren Tahfidz Bani Yusuf. Sistem itu mencakup pembiasaan fashahah, setoran hafalan, tasmi', dan evaluasi berkala. Menurut Abd. Rouf, seluruh tahapan tersebut saling melengkapi untuk menjaga kualitas bacaan dan hafalan santri.
"Fashohah itu untuk menjaga kualitas bacaan termasuk temponya, kalau sistem tasmi' hingga kubronan (baca 30 juz bil-ghoib sekali dududuk) itu untuk menguatkan kualitas hafalannya," jelasnya.
Abd. Rouf menegaskan bahwa ia merancang sistem tersebut untuk mewujudkan visi utama pesantren, yakni mencetak santri yang memiliki militansi terhadap Al-Qur'an. Baginya, militansi bukan sekadar semangat menghafal. Militansi juga berarti menjaga kualitas bacaan, hafalan, dan kedisiplinan selama menempuh pendidikan.
Baca Juga:
Sejarah Berdirinya Pesantren Tahfidz Bani Yusuf Kota Malang, Berawal dari Kesetiaan Santri Setor Hafalan di Kontrakan Kyai Rouf yang Berpindah-pindah"Militan itu totalitas. Dzahir batin, itu militan," ujarnya.
Lebih lanjut Ia menambahkan bahwa menghafalkan Al-Qur'an memerlukan usaha yang tidak biasa. Karena itu, ia menerapkan berbagai pembiasaan dan aturan untuk mendorong santri dalam menjaga konsistensi hafalan.
"Pesantren ini mengajarkan bahwasanya menghafalkan Al-Qur'an tidak bisa dengan cara yang biasa, harus dengan cara yang luar biasa," pungkasnya. (*)