KETIK, SIDOARJO – Lorong kelas menjadi tempat belajar sementara bagi murid-murid SDN Segoro Tambak, Kecamatan Sedati. Akibat diterjang angin kencang pada Senin (5 November 2024) lalu, satu ruang kelas roboh dan dua kelas lainnya rusak. Komisi D DPRD Sidoarjo memastikan gedung diperbaiki pada 2025.
Komisi D DPRD Sidoarjo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Segoro Tambak pada Rabu (14 November 2024). Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo H Dhamroni Chudlori datang ke SDN Segoro Tambak bersama anggota Komisi D H Sutadji. Dua legislator PKB itu diterima Kepala SDN Segoro Tambak Ahmad Fauzi. Ada pula beberapa guru dan perangkat desa.
Begitu tiba di lokasi, Dhamroni dan Sutadji menyaksikan ruang kelas yang rusak parah. Masing-masing kelas IV, V, dan VI. Atap kelas roboh. Kayu-kayu bekas atap tampak berserakan. Reruntuhan bangunan masih tersisa.
Dua kelas lain atapnya juga rusak. Dindingnya juga sudah rontok. Karena dianggap membahayakan, ruang itu dikosongkan. Murid-murid pindah tempat belajar. Ada yang di perpustakaan. Malah lesehan di lorong kelas.
"Bagaimana anak-anak? Apa sekolahnya mau diperbaiki?" tanya Dhamroni.
Baca Juga:
Plafon SDN Kemantren 1 Tulangan Ambrol, Rehab Total Terkendala Status Cagar Budaya”Maaaau,” jawab anak-anak dengan gembira.
Dhamroni kemudian bertanya kepada para guru dan kepala sekolah. Apa saja yang dibutuhkan sekolah tersebut. Terutama sarana dan prasarana untuk kegiatan belajar dan mengajar siswa.
Yang pertama, perbaikan ruang kelas yang rusak parah. Kelas-kelas dibangun lagi dua lantai. Dengan begitu, sekolah bisa punya ruang lebih banyak untuk berbagai kebutuhan. Perbaikan sudah direncanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo.
Baca Juga:
Anggota DPRD Sidoarjo Siap Bantu Pokir untuk SDN Sidokepung, Dinas Pendidikan Perbaiki 54 Sekolah Rp 47 M”Karena tiga kelas itu dibangun pada tahun yang sama, 2002. Material dan konstruksinya sama. Jadi potensi roboh juga,” ungkapnya.
Ahmad Fauzi menambahkan, sekolah, guru, wali murid, dan komite sekolah berharap gedung itu dibangun dua lantai. Didek. Tahun depan bisa dibangun lagi. Sehingga, tidak terjadi lagi kondisi seperti ini.
Yang kedua, musala untuk tempat ibadah. Total saat ini ada 84 siswa di SDN Segoro Tambak. Selama ini, anak-anak kalau ada kegiatan ibadah, terpaksa pakai teras. Koridor di depan kelas. Kebutuhan tempat ibadah sangat mendesak.
Ketiga, halaman sekolah. SDN Segoro Tambak selama ini tidak punya halaman. Bahkan, jalan masuk sekolah itu merupakan jalan milik desa. Akses untuk keluar masuk warga kampung setempat.
”Kami tetap memotivasi anak-anak agar tetap semangat dan bangkit dari kondisi ini,” tegas Ahmad Fauzi.
Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori mengatakan bersyukur jika sudah ada rencana perbaikan pada 2025 mendatang. Anggarannya dana alokasi khusus (DAK) dari pusat. Dia setuju kelas itu dibangun dua lantai. Tapi, jika anggaran belum cukup, atapnya dulu yang perlu dicor. Sehingga, tinggal membangun lantai dua pada tahun berikutnya.
"Minimal didek dulu. Nanti tinggal melanjutkan," jelasnya.
Kedua soal musala. Kasek SDN Segoro Tambak diminta mengajukannya sebagai kebutuhan sarana dan prasarananya. Bukan usul tempat ibadah. Usul itu lebih mudah dipenuhi daripada tempat ibadah. Sebab, pembangunan tempat ibadah bukanlah ranah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo.
Ketiga soal halaman sekolah. Dhamroni justru mengaku kaget bukan main karena SDN Segoro Tambak tidak punya halaman sekolah. Tanah untuk jalan dan halaman adalah milik desa. Padahal, banyak anak-anak yang lalu lalang setiap hari. Berbahaya bila ada mobil atau kendaraan lain lewat.
"Nanti kita carikan solusi. Misalnya, berunding bagaimana jalan desa itu bisa jadi halaman sekolah. Ditukar dengan aset desa lain yang bisa dipakai untuk jalan,” terangnya.
Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Sutadji menambahkan, penanganan bangunan kelas yang rusak itu memang harus segera dilakukan. Kasihan anak-anak jika harus belajar di teras kelas dan ruang perpustakaan.
Selain itu, lanjut Sutadji, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo bisa berunding dengan Pemerintah Desa Segoro Tambak. Membahas soal jalan desa yang menjadi halaman sekolah. Kendaraan warga bisa keluar masuk setiap saat. Tentu itu bisa membahayakan keselamatan anak-anak.
”Sebaiknya dibicarakan dinas dan pemerintah desa. Dicarikan solusi. Penanganan harus segera agar anak-anak bisa belajar nyaman lagi, tidak dilorong kelas,” ungkapnya. (*)