KETIK, MALANG – ‎Program studi Sosiologi Universitas Brawijaya (UB) menjalin kolaborasi dengan Persatuan Pekerja Rumah Tangga Migran Indonesia (Pertimig) di Malaysia dalam kegiatan Dosen Berkarya (DOKAR) 2026 Universitas Brawijaya.

‎Kegiatan berlangsung selama tiga hari, pada 5 hingga 7 September 2026, bertempat di sekretariat Pertimig, Kuala Lumpur.

‎Tim dosen yang diketuai oleh Ayu Kusumastuti, beranggotakan Nike Kusumawanti dan Anik Susanti, memaparkan bahwa tujuan utama DOKAR 2026 adalah menjalin kerja sama dengan mitra luar negeri non perguruan tinggi (LN Non PT).

‎Kolaborasi ini diarahkan untuk menghasilkan produksi pengetahuan dan penelitian kolaboratif berupa pembuatan buku cerita berilustrasi yang mendokumentasikan pengalaman, suara, dan perjalanan hidup para pekerja rumah tangga migran perempuan asal Indonesia.

‎Ruang Aman untuk Bercerita dan Healing

‎Selain sebagai kegiatan riset, kolaborasi ini juga menjadi bentuk pengabdian bersama mitra eksternal melalui program Ethnographic, Storytelling dan Healing. 

‎Program ini menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi para pekerja rumah tangga migran Indonesia untuk berbagi pengalaman, mengekspresikan emosi, dan menemukan proses pemulihan melalui bercerita serta refleksi kolektif.

Sesi foto bersama di akhir kegiatan kolaborasi Pertimig-Sosiologi Brawijaya (Dokumentasi Tim UB September 2026)

Dalam pelaksanaannya, lima anggota Pertimig turut serta dalam rangkaian kegiatan. Tim dosen melakukan wawancara sejarah hidup yang menggali sejumlah tema, mulai dari keputusan berangkat merantau, ritme kerja sehari-hari, solidaritas antar sesama pekerja migran, hingga harapan-harapan mereka ke depan.

‎Kegiatan turut dilengkapi dengan sesi seni visual, di mana para pekerja migran diajak menggambarkan peta perjalanan hidup, situasi di tempat bekerja, perasaan yang berkaitan dengan tubuh dan emosi, serta menuliskan harapan-harapan mereka dalam bentuk kotak harapan.

‎Suara dari Pertimig

‎Koordinator Pertimig, Naskriah Paidin, menegaskan bahwa masih banyak pekerja rumah tangga migran yang belum mendapatkan hak-hak bekerja yang layak. 

‎"Kehadiran Pertimig menjadi sarana bagi para pekerja migran untuk saling menguatkan sekaligus mengadvokasi hak-hak mereka," jelasnya.

‎Senada dengan itu, Ayu Kusumastuti menyampaikan bahwa program ini berupaya mendokumentasikan suara para pekerja migran secara menyeluruh.

‎"Mulai dari masa kecil di tanah air, keputusan untuk berangkat merantau, relasi dengan majikan, hingga partisipasi mereka dalam organisasi migran," ucapnya.

‎Ia menambahkan, program ini juga penting untuk mendokumentasikan praktik baik dari kerja-kerja advokasi sipil yang dilakukan oleh pekerja migran perempuan di Malaysia.

‎Harapan ke Depan

‎Melalui luaran berupa buku cerita dengan ilustrasi, tim dosen berharap karya ini dapat menjadi media untuk menyebarluaskan kelembagaan perlindungan dan penguatan bagi pekerja migran, khususnya mereka yang bekerja di sektor domestik di Malaysia.

‎"Kolaborasi antara Sosiologi Universitas Brawijaya dan Pertimig ini diharapkan dapat menjadi model kerja sama riset dan pengabdian yang tidak hanya menghasilkan produk akademik. Tetapi juga memberi dampak nyata bagi penguatan komunitas pekerja migran Indonesia di luar negeri," kata Ayu. (*)

Baca Juga:
UB Siapkan 6 Fakultas Predikat WBK, KemenPAN-RB Dorong Kampus Bebas Gratifikasi
Baca Juga:
Ratusan Foto dan Video Syur Rekan Magang Ditemukan di HP Mahasiswa UB, Korban Lintas Kampus