KETIK, MALANG – Wisudawan terbaik jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Ahmad Zahidin Al Faruq berhasil mengembangkan startup edupreneur berbasis game RPG (Role-Playing Game) sebagai inovasi lintas disiplin ilmu.

Program Studi PGSD Universitas PGRI Kanjuruhan Malang sebagai jurusan yang berfokus pada ilmu pendidikan dasar telah menciptakan lulusan yang tak hanya menjadi pengajar. Namun juga menciptakan inovasi pengembangan digital di era teknologi saat ini. 

Dunia pendidikan dasar yang diindetikkan dengan media pembelajaran konvensional seperti alat peraga fisik atau buku cerita. Namun, lulusan terbaik jurusan ini dengan IPK 3,97 justru berhasil membuktikkan bahwa ekosistem kampus dapat memberikan gebrakan baru.

Ahmad Zahidin Al-Faruq sebagai alumni PGSD Unikama berhasil memikat investor nasional pada kartanya yang mengembangkan startup edupreneur berbasis game RPG (Role-Playing Game).

Cerita suksesnya, berawal dari mata kuliah Pengembangan Media pada semester 3, dimana banyak mahasiswa yang memiliki zona aman dengan membuat media pembelajaran basic atau konvensional. Namun, Faruq lebih tertantang untuk melakukan lompatan besar.

Baca Juga:
Jelang Iduladha, Perajin Besek Bambu di Kota Malang Kebanjiran Pesanan

Inovasi Faruq terinspirasi dari hobinya bermain game Pokemon sejak SMP. Ia mulai berpikir bahwa akan lebih seru jika materi pembelajaran sekolah dasar dikemas ke dalam petualangan RPG. Bersama relasi antar-mahasiswa Unikama, khususnya dari program studi Sistem Informasi (SI), ia mulai berdiskusi dan mempelajari logika serta algoritma pemrograman.

Melihat peluang inovasi tersebut, para dosen e-business dari prodi SI mulai memberi bimbingan kepada Faruq dengan proses belajar otodidak selama satu tahun, hingga ia berhasil menciptakan RPG Caria Quest. Karyanya tersebut adalah game edukasi interaktif yang mencakup mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Jawa, hingga Bahasa Jepang untuk anak-anak SD.

Strategi Belajar dan Membagi Waktu

Dalam proses mengembangkan inovasinya, Faruq juga masih bisa menyeimbangkan dengan tugas kuliah yang padat melalui strategi "Kerja Pintar" di lingkungan kampus. Ia juga mengatakan jika strategi tersebut dapat menghemat waktu.

Baca Juga:
SPMB Kota Malang Memanas! Ribuan Siswa Tak Bisa Masuk Sekolah Negeri

"Saya lebih mendingan kerja pintar daripada kerja keras. Jadi selalu mengutamakan efektivitas waktu," ujar Faruq.

Sebagai mahasiswa, Faruq sendiri dikenal sebagai pribadi yang disiplin. Ia selalu menetapkan deadline tugas sendiri yang jauh lebih awal dari target pengumpulan dosen. Ia bercerita jika tugas wajib dikumpulkan hari Senin, Faruq sudah menyelesaikan di hari Rabu minggu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa wisudawan terbaik ini pandai dalam mengatur waktu. Sehingga, ia tetap memiliki waktu santai di tengah kesibukan riset dan pengembangan teknologi.

Menghilangkan Stigma Negatif pada Game 

Produk karya lulusan Unikama ini mampu membuktikan bahwa memiliki dampak besar dan mengubah stigma negatif para orang tua terhadap dunia game. Dengan hadirnya RPG Caria Quest menunjukkan bahwa game dapat menjadi sarana belajar yang efektif bagi anak-anak mereka.

Karya yang Menarik Investor 

Tak hanya itu, Faruq bersama tim yang beranggotakan 5 orang ini berhasil lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemendikbudristek pada tahun 2023 dengan dukungan penuh dari ekosistem kewirausahaan kampus.

Prestasinya terus berlanjut hingga di tahun 2024, mereka berhasil masuk dalam top 30 untuk melakukan pitching secara langsung di depan investor melalui ajang Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka (AWMM) di Universitas Brawijaya. Pada kompetisi ini, Faruq bersama tim sukses menggandeng mitra Nihongo Monggo dalam pengembangan konten bahasa Jepang dan meraih penghargaan Best Video Demo Day.

Komitmen Kampus dalam Memberikan Ruang Inovasi 

Dalam hal ini, Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si turut memberikan apresiasi kepada Faruq dan menegaskan bahwa kampus akan terus berkomitmen penuh dalam memfasilitasi setiap minat dan bakat mahasiswa agar bisa berkembang secara terarah.

"Kami di Unikama selalu berupaya menyediakan ekosistem dan fasilitas terbaik agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada teori di dalam kelas, tetapi juga mampu mengasah potensi unik mereka secara terarah. Prestasi Ahmad Zahidin adalah bukti nyata bahwa ketika kompetensi mahasiswa difasilitasi dengan tepat, mereka mampu melahirkan inovasi lintas disiplin yang berdampak luas dan diakui secara nasional," tutur Prof. Sudi Dul Aji.

Menurut Faruq, kesempatan berinovasi yang diberikan oleh Unikama menjadi midal yang lebih berharga daripada sekadar selembar ijazah. Ketika banyak lulusan baru masih bingung mencari pekerjaan, Faruq bersama tim justru telah siap tancap gas untuk membesarkan startup edupreneur mereka.

"Goals kami memang ingin startup yang sudah awal mula terbangun ini bisa jadi ujung tombak ketika lulus. Jadi anggapannya kita sudah punya pekerjaan dan penghasilan dari startup tersebut," ucap Faruq optimis.

Dari kisah inspiratif Ahmad Zahidin Al Faruq menunjukkan bahwa Unikama tak hanya menjadi kampus yang mentransfer ilmu di dalam kelas, namun juga memberikan ruang serta kesempatan bagi mahasiswa yang ingin berinovasi mengembangkan kreativitasnya dengan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan menjadi pemenang di industri masa depan.(*)