KETIK, MALANG – Memasuki tahun ajaran baru, Pustakawan Universitas Negeri Malang, Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust.,M.M., berpendapat perkuliahan menjadi fase penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Kota Malang sebagai kota pelajar, tentunya menjadi tempat untuk seluruh anak muda untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Menjadi mahasiswa bukan hanya menuntut ilmu akademik dengan baik, tetapi juga melatih kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang beragam.

Menurut Teguh, kondisi tersebut menjadikan Kota Malang sebagai ruang belajar yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di tengah masyarakat.

Mereka juga akan belajar cara beradaptasi dengan budaya sekitar hingga bersosialisasi dengan warga lokal secara langsung.

Baca Juga:
Kasus Bunuh Diri di Malang Meningkat, Akademisi UM Tekankan Pentingnya Dukungan Orang Terdekat

“Malang bukan sekadar tempat untuk menempuh pendidikan tinggi. Kota ini adalah ruang tumbuh yang memungkinkan mahasiswa belajar tentang keberagaman, budaya, dan kehidupan sosial secara langsung,” ungkap sang pustakawan UM.

Ia juga menegaskan banyak para mahasiswa perantau datang ke Kota Malang hanya fokus pada capaian gelar akademik. Padahal, pengalaman berinteraksi bersama masyarakat dan memahami budaya lokal juga menjadi bagian penting dari sebuah pendidikan.

“Mahasiswa perlu menyadari bahwa keberhasilan kuliah tidak hanya diukur dari indeks prestasi. Kemampuan beradaptasi, membangun relasi sosial, dan menghargai perbedaan juga menjadi bekal penting setelah lulus,” jelas teguh.

Dalam bidang akademik, Teguh menekankan kemampuan dalam mengatur waktu belajar yang mandiri di awal perkuliahan menjadi sangat penting.

Baca Juga:
Disdikbud Kota Malang Pastikan Zonasi SPMB Akurat 100 Persen

Pembelajaran di perguruan tinggi akan mendorong mahasiswa untuk terbiasa dalam mengelolanya waktu, jadwal capaian belajar, dan mengevaluasi perkembangan diri secara konsisten.

“Mahasiswa perlu memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, seperti perpustakaan, ruang belajar bersama, komunitas akademik, hingga kesempatan berdiskusi dengan dosen. Semua itu dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran,” tuturnya.

Tak hanya aspek akademik, Teguh juga menyampaikan bahwa keterlibatan dalam lingkungan sosial juga dinilai mampu memberikan pengalaman dan memperluas wawasan. 

Sehingga, ia mengingat bagi para mahasiswa untuk tidak hanya berinteraksi dengan teman satu daerah saja, melainkan bisa memperluas pergaulan dengan mahasiswa daerah lain untuk belajar memahami perspektif yang berbeda.

Selain di lingkungan kampus, mahasiswa juga diharapkan untuk bisa aktif mengenal lingkungan tempat tinggal, hingga turut berpartisipasi pada kegiatan kemasyarakatan.

Menurut Teguh, mahasiswa bisa memulai langkah sederhana dengan menyapa tetangga, mengikuti kerja bakti, hingga ikut serta dalam kegiatan warga. 

“Kedekatan dengan masyarakat lokal akan memberikan banyak manfaat, mulai dari rasa aman, jaringan sosial yang lebih luas, hingga pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan di Malang,” ujarnya.

Hal tersebut tentunya dapat membantu membangun hubungan baik dengan warga sekitar. Serta, mahasiswa akan mendapatkan kesempatan untuk memahami budaya lokal tempat tinggal.

Budaya lokal akan menjadi salah satu kunci keberhasilan bagi mahasiswa dalam beradaptasi selama berada di tanah rantauan.

Selain itu, warga Malang yang masih sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh, gotong royong, hingga sikap hormat kepada orang yang lebih tua juga menjadi pembelajaran secara langsung bagi mahasiswa.

“Mahasiswa yang menghormati budaya setempat biasanya lebih mudah diterima oleh lingkungan. Menghargai budaya lokal bukan berarti meninggalkan identitas sendiri, tetapi belajar hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat,” ucap Teguh.

Teguh juga menyoroti kesehatan mental yang wajib untuk dijaga bagi mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Menurutnya, permasalahan mental health terjadi karena tekanan akademik, persoalan ekonomi, dan kerinduan terhadap keluarga yang dihadapi mahasiswa perantau.

“Mahasiswa tidak boleh mengabaikan kondisi psikologisnya. Ketika mengalami stres berlebihan, jangan ragu mencari bantuan, baik kepada teman, keluarga, maupun layanan konseling yang tersedia di kampus,” tegas Teguh dalam isu mental health di kalangan mahasiswa.

Sebagai upaya pencegahannya, Teguh menjelaskan jika olahraga teratur, pola hidup sehat, dan keberadaan tenan yang dapat dipercaya menjadi faktor penting dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa selama masa studi.

Teguh sendiri berharap agar mahasiswa bisa memanfaatkan masa kulian di Kota Malang sebagai kesempatan untuk berkembang secara utuh, baik pada aspek akademik maupun karakter dalam bersosialisasi.(*)