KETIK, LOMBOK TENGAH – Kejuaraan dunia balap motor Grand Prix (MotoGP) tidak hanya menyuguhkan aksi balap yang memacu adrenalin. Di balik persaingan di sirkuit, terdapat tiga jenjang kelas bagi para pembalap untuk saling berpacu, yakni Moto3, Moto2, dan MotoGP.

Meski sama-sama digelar dalam satu rangkaian kejuaraan, ketiga kelas tersebut memiliki karakteristik, spesifikasi teknis, serta regulasi yang berbeda. Dengan memahaminya secara lebih mendalam, pencinta balap tidak hanya dapat memperkaya wawasan, tetapi juga melihat bagaimana jenjang karier profesional dibangun di dunia balap motor internasional.

Di kelas terbawah, terdapat Moto3 yang menjadi tahap pengenalan motor balap prototipe sekaligus ajang pembibitan talenta pembalap muda. Kelas ini pertama kali diperkenalkan pada 2012 untuk menggantikan kelas GP 125 yang menggunakan mesin dua tak.

Dari sisi spesifikasi, motor Moto3 menggunakan mesin empat tak berkapasitas 250 cc dengan satu silinder. Pabrikan seperti Honda dengan NSF250RW dan KTM dengan RC250GP menjadi bagian dari persaingan di kelas ini. Setiap pabrikan dapat mengembangkan sasis sendiri, tetapi tetap harus mematuhi regulasi teknis dan batas biaya yang telah ditetapkan.

Untuk menjaga kompetisi tetap terjangkau sekaligus menarik minat lebih banyak tim, MotoGP Sports Entertainment Group selaku pemegang hak komersial MotoGP telah menunjuk Yamaha sebagai pemasok tunggal mesin Moto3 untuk musim 2028 hingga 2033.

Baca Juga:
Kabar Baik! MotoGP Mandalika Lanjut hingga 2031

Di jenjang menengah, terdapat Moto2 yang menjadi tahap lanjutan sebelum pembalap naik ke kelas utama. Kelas ini diperkenalkan pada 2010 untuk menggantikan kelas GP 250 yang menggunakan mesin dua tak berkapasitas 250 cc. Sejak awal penyelenggaraannya, Moto2 telah mengusung konsep penggunaan mesin dari satu pemasok.

Pada periode 2010 hingga 2018, mesin yang digunakan berbasis Honda CBR600 dengan konfigurasi empat silinder segaris berkapasitas 600 cc yang telah disesuaikan untuk kebutuhan balap. Selanjutnya, mulai 2019, pabrikan asal Inggris, Triumph, dipercaya sebagai pemasok mesin Moto2 dengan spesifikasi tiga silinder berkapasitas 765 cc.

Di kelas Moto2, tim balap memiliki keleluasaan untuk memilih sasis sesuai regulasi. Pada musim 2026, sasis produksi Kalex menjadi salah satu pilihan favorit, bersaing dengan sasis dari produsen lain, seperti Boscoscuro dan Forward Racing.

Selanjutnya, MotoGP merupakan kasta tertinggi dalam kejuaraan dunia balap motor. Kelas ini menjadi tempat berkumpulnya para pembalap terbaik dunia sekaligus ajang persaingan teknologi bagi berbagai pabrikan motor.

Baca Juga:
Kisah Mario Aji, Anak Magetan yang Mengaspal di Kejuaraan Dunia

Sebelum dikenal sebagai MotoGP, kelas utama ini bernama GP500. Pada era tersebut, motor menggunakan mesin dua tak berkapasitas 500 cc yang memiliki karakter agresif dan mampu menghasilkan tenaga sekitar 180 hingga 200 tenaga kuda.

Seiring perkembangan teknologi, pertimbangan keselamatan, dan regulasi, era mesin dua tak di kelas utama berakhir. Pada 2002, kelas GP500 beralih ke mesin empat tak dengan kapasitas hingga 990 cc dan berganti nama menjadi MotoGP.

Untuk menghentikan laju motor prototipe yang melaju pada kecepatan tinggi, sistem pengereman menjadi salah satu komponen penting. Motor MotoGP umumnya menggunakan cakram rem karbon pada roda depan, dengan Brembo sebagai salah satu pemasok utama. Sementara itu, untuk sistem suspensi, tim balap banyak mengandalkan produk dari Öhlins.

Dalam perjalanannya, MotoGP telah beberapa kali mengalami perubahan kapasitas mesin. Pada periode 2002 hingga 2006, kelas utama menggunakan mesin berkapasitas hingga 990 cc. Kapasitas tersebut kemudian diturunkan menjadi 800 cc pada 2007 hingga 2011, sebelum kembali menjadi 1.000 cc mulai 2012.

Sama seperti Moto3 dan Moto2, pengembangan mesin MotoGP juga diatur oleh regulasi teknis yang ketat. Tim tidak dapat secara bebas mengubah komponen internal mesin di luar ketentuan yang berlaku. Pengembangan motor dilakukan melalui berbagai sesi pengujian, termasuk tes pramusim dan tes resmi yang dijadwalkan sepanjang musim.

Menariknya, mulai musim balap 2027, kapasitas mesin MotoGP akan kembali berubah menjadi 850 cc. Selain perubahan kapasitas mesin, regulasi baru juga mencakup pembatasan perangkat aerodinamika, termasuk pengurangan ukuran winglet.

Penggunaan perangkat holeshot dan ride-height device, yang berfungsi mengubah ketinggian motor untuk meningkatkan performa saat start maupun ketika melaju di lintasan, juga akan dilarang.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya penyelenggara untuk mengatur performa motor, meningkatkan keselamatan pembalap, dan menjaga persaingan tetap kompetitif pada era baru MotoGP.