KETIK, BATU – Wisatawan yang berburu oleh-oleh khas Kota Batu kini harus merogoh kocek lebih dalam. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat biaya produksi sejumlah produk meningkat sehingga pelaku usaha ritel terpaksa menyesuaikan harga jual yang diterima konsumen.

Kondisi tersebut dirasakan salah satunya oleh Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan di Jalan Ir. Soekarno, Kota Batu.

Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan produk yang dipasarkan mengalami kenaikan harga setelah para pemasok menyampaikan adanya peningkatan biaya produksi, terutama pada sektor kemasan yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Supervisor Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan, Tinton Suprapto, mengatakan sistem penjualan konsinyasi yang diterapkan membuat pihaknya harus mengikuti harga terbaru yang ditetapkan oleh masing-masing pemasok.

"Sebagian besar penyesuaian harga berasal dari supplier. Mereka menyampaikan bahwa biaya produksi meningkat sehingga harga jual ke toko juga ikut naik. Karena itu, kami harus menyesuaikan harga kepada konsumen," ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.

Baca Juga:
Kasus Dugaan Penganiayaan di Kota Batu, Kuasa Hukum Sinal Abidin dkk Buka Suara

Menurut Tinton, lebih dari 40 persen produk yang dijual di gerainya mengalami perubahan harga dengan besaran yang bervariasi.

Kenaikan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh bahan baku utama, melainkan meningkatnya biaya kemasan, seperti plastik dan kardus, yang masih menggunakan material berbasis impor.

"Yang paling terasa justru biaya packaging. Banyak komponen kemasan masih bergantung pada bahan impor sehingga sangat terpengaruh oleh perubahan kurs dolar," katanya.

Sejumlah produk oleh-oleh khas Kota Batu tercatat mengalami kenaikan harga antara Rp1.000 hingga beberapa ribu rupiah per item. Keripik tempe yang sebelumnya dijual sekitar Rp13 ribu kini menjadi Rp14 ribu per kemasan.

Baca Juga:
Persikoba Kota Batu Waspadai Agresivitas Persepam Pamekasan di Babak 32 Besar Liga 4

Sementara itu, sambal lauk kemasan 200 gram mengalami kenaikan dari Rp33 ribu menjadi Rp40 ribu. Adapun keripik buah dalam kemasan premium naik dari Rp76 ribu menjadi Rp80 ribu.

Kenaikan harga tersebut, lanjut Tinton, mulai memengaruhi perilaku belanja wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu. Konsumen kini cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja dan mengurangi jumlah produk yang dibeli.

"Kami melihat rata-rata nilai transaksi per pelanggan mengalami penurunan. Konsumen sekarang lebih selektif dan biasanya hanya membeli produk yang benar-benar dibutuhkan," ungkapnya.

Perubahan pola belanja juga terlihat dari penggunaan kemasan tambahan. Jika sebelumnya banyak wisatawan memilih kardus untuk membawa oleh-oleh dalam jumlah besar, kini sebagian besar beralih menggunakan kantong plastik karena dianggap lebih hemat.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar rupiah dapat segera membaik agar biaya produksi kembali terkendali.

Dengan demikian, harga yang diterima dari pemasok dapat turun sehingga produk oleh-oleh khas Kota Batu kembali lebih terjangkau bagi wisatawan.

"Harapan kami, kondisi ekonomi segera membaik dan harga dari supplier bisa kembali turun. Jika itu terjadi, tentu kami juga akan menyesuaikan harga jual agar lebih ramah bagi konsumen," pungkasnya.