KETIK, JAKARTA – Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Namun, kondisi tertentu pada jenis, ukuran, habitat, dan lokasi penangkapan dapat membuat ikan ini berisiko mengandung ciguatoksin, racun penyebab ciguatera.

Prof. Joko Santoso, dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan IPB University, mengatakan masyarakat tidak perlu menghindari ikan kakap secara umum. Menurutnya, risiko kesehatan hanya muncul pada kondisi tertentu.

“Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama terkait jenis dan ukuran ikan, habitat, lokasi penangkapan, serta cara penanganannya,” ujar Prof Joko.

Ciguatera merupakan keracunan yang terjadi akibat ciguatoksin. Racun tersebut berasal dari rantai makanan di laut dan dapat terakumulasi dalam tubuh ikan setelah ikan memakan organisme laut yang telah terkontaminasi.

Salah satu organisme yang dapat menghasilkan ciguatoksin adalah mikroalga atau ganggang laut berukuran kecil dari kelompok Gambierdiscus. Ketika masuk ke dalam rantai makanan, toksin yang dihasilkan organisme tersebut dapat berpindah dan terakumulasi pada ikan.

Baca Juga:
Air Minum Isi Ulang Aman Diminum? Pakar IPB Ungkap Faktor Penentunya

Namun, risiko ciguatoksin tidak berlaku pada seluruh ikan kakap. Ikan kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang, berukuran besar, berumur lebih tua, dan berperan sebagai predator cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengakumulasi racun.

“Spesies, habitat, ukuran, umur, dan lokasi penangkapan menjadi faktor penting. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang dan berukuran lebih besar serta lebih tua cenderung lebih berisiko mengakumulasi ciguatoksin.

“Selain itu, ciguatera terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu. Karena itu, tidak semua perairan memiliki tingkat risiko yang sama,” ujarnya.

Artinya, asal ikan menjadi salah satu informasi penting sebelum masyarakat mengonsumsi kakap. Konsumen perlu mengetahui lokasi penangkapan, terutama jika ikan berasal dari wilayah yang memiliki peringatan resmi terkait ciguatera.

Baca Juga:
Pemkab Abdya Bantu Salakun, Anak Yatim Pengidap Bocor Jantung Segera ke RSUDZA

Prof. Joko juga mengingatkan bahwa ikan yang mengandung ciguatoksin tidak selalu menunjukkan tanda-tanda khusus. Ikan dapat tetap terlihat sehat sehingga konsumen tidak bisa memastikan keberadaan racun hanya melalui tampilan, bau, atau rasanya.

Selain ciguatoksin, ikan yang berasal dari perairan tercemar juga dapat mengandung merkuri atau polutan lainnya. Risiko tersebut lebih diperhatikan pada ikan predator berukuran besar dan berumur panjang.

“Selain ciguatoksin, ikan dari perairan tercemar dapat mengandung merkuri atau polutan lainnya. Risiko biasanya lebih diperhatikan pada ikan predator yang besar dan berumur panjang,” kata Prof Joko.

Karena itu, masyarakat tidak perlu menganggap seluruh ikan kakap berbahaya. Pemilihan ikan dari sumber yang jelas, perhatian terhadap lokasi penangkapan, serta pemahaman mengenai ukuran dan jenis ikan dapat membantu konsumen mengurangi risiko.

Bagi konsumen, tantangannya bukan hanya memilih ikan yang terlihat segar. Ciguatoksin tidak dapat dikenali hanya dari kondisi fisik ikan, sehingga informasi mengenai asal tangkapan menjadi penting.

Selain mengetahui risikonya, konsumen juga dapat menerapkan sejumlah langkah saat memilih ikan kakap, mulai dari mengetahui sumber dan lokasi penangkapan hingga memperhatikan ukuran ikan. Cara tersebut penting terutama ketika ikan berasal dari wilayah yang diketahui memiliki risiko ciguatera. (*)