KETIK, MALANG – Penurunan signifikan harga telur ayam di berbagai pasar tradisional di Kota Malang dalam beberapa pekan terakhir, ternyata tidak serta merata mendongkrak daya beli masyarakat. Sebaliknya, para pedagang justru mengeluhkan omzet penjualan yang merosot tajam hingga 75 persen akibat sepinya pembeli.
Salah satu pedagang telur di Pasar Madyopuro Kota Malang, Eka Wijaya, menuturkan bahwa harga telur ayam ras saat ini berada di kisaran Rp22.500 per kilogram. Jauh di bawah harga normal yang biasanya mencapai hingga Rp27.000 per kilogram.
"Kalau telur yang kondisinya tidak terlalu baik atau bentes, sekitar Rp20.000 per kilogram, hampir sama seperti harga dari peternak," ujarnya saat ditemui di lapaknya pada Rabu, 24 Juni 2026.
Diketahui, anjloknya harga telur dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya, disebabkan karena berhentinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
Dengan berhentinya serapan dari program tersebut, membuat pasokan telur di peternak menumpuk dan sementara produksi dari kandang tetap berjalan normal.
Baca Juga:
Libatkan 20 Ketua SPPG, Kejari Kota Malang Perkuat Edukasi Hukum dan Budaya AntikorupsiSelain itu, momen tahun ajaran baru juga ikut mempengaruhi pola belanja masyarakat. Pasalnya, para orang tua memprioritaskan alokasi dananya untuk kebutuhan pendidikan anak seperti untuk biaya pendaftaran dan perlengkapan sekolah.
Dengan lesunya penjualan telur, ia mengaku berpengaruh terhadap omzet penjualan yang merosot hingga 75 persen dibandingkan kondisi normal pada umumnya.
"Kami juga bingung dengan kondisi saat ini, karena telur tidak bisa disimpan dalam waktu yang terlalu lama," tambahnya.
Selain telur ayam, anjloknya harga juga terjadi pada telur puyuh yang merosot tajam. Dari yang biasanya sekitar Rp40.000 per kilogram, kini menjadi Rp19.000 per kilogram.
Baca Juga:
DPRD Dalami Laporan Pertanggungjawaban APBD 2025 Pemkot Malang, Soroti Realisasi Pendapatan dan BelanjaDi sisi lain, merosotnya harga telur dimanfaatkan oleh konsumen untuk meningkatkan porsi belanja. Salah seorang ibu rumah tangga asal Kelurahan Sawojajar, Nabila, mengaku memborong satu kilogram telur dari yang biasanya hanya setengah kilogram untuk kebutuhan mingguan.
"Mumpung telur harganya murah, biasanya beli setengah kilogram kini beli satu kilogram. Lumayan untuk stok bahan pangan di rumah," ungkapnya.
Namun, ia mengaku enggan membeli dalam jumlah yang terlalu banyak. Selain karena risiko telur cepat membusuk, ia juga harus membagi anggaran belanja untuk kebutuhan pokok yang merangkak naik.
"Kalau lebih dari satu kilogram buat apa, nanti telurnya rusak. Uangnya juga dibagi, karena kebutuhan semua lagi naik," pungkasnya. (*)