KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai pengembangan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang ditunjukkan para kepala sekolah, guru dan para murid SMA, SMK serta SLB sebagai salah satu bentuk inovasi nyata dan berdampak sehingga harus terus dijaga keberlanjutannya, dikembangkan serta diperluas manfaatnya.

Menurut dia, program yang diinisiasi Dinas Pendidikan Jawa Timur tersebut tidak hanya menjadi media pembelajaran untuk membangun kemandirian dan jiwa kewirausahaan peserta didik, tetapi juga menjadi kontribusi konkret.

“Terutama dalam mendukung penguatan ketahanan pangan nasional yang menjadi salah satu prioritas Presiden RI Prabowo Subianto,” ujar Gubernur Khofifah di Surabaya pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Ia menilai, apa yang dilakukan para guru sudah melakukan sesuatu yang tidak hanya memberikan nilai tambah bagi ekonomi di sekolah masing-masing, namun juga menjadi bagian dari penguat program ketahanan pangan yang oleh Presiden Prabowo terus digaungkan, lalu diikuti Panglima TNI, seluruh Kepala Staf Angkatan serta Kapolri.

Khofifah menyampaikan hasil pengembangan SIKAP telah diperkenalkan secara luas kepada masyarakat. Salah satunya dalam rangkaian Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi 17 Agustus 2026.

Baca Juga:
Sematkan 467 Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya, Gubernur Khofifah Ingatkan ASN Jatim Terus Kembangkan Inovasi Berdampak

Pada momentum tersebut, berbagai hasil pertanian, buah-buahan hingga produk pangan olahan dari program SIKAP ditampilkan sekaligus dibagikan kepada para tamu undangan dan masyarakat.

Salah satunya adalah produk keripik ikan patin dari SMKN 1 Tulungagung yang secara khusus ditampilkan lengkap dengan identitas produk SIKAP. Hal tersebut, menurut Khofifah, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kepada masyarakat bahwa sekolah juga mampu berkontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan.

"Tema HUT kemerdekaan RI kali ini adalah Indonesia berdaulat, adil dan makmur. Maka dari Indonesia berdaulat, adil dan makmur secara khusus yang diusung Jawa Timur adalah ketahanan pangan,” katanya.

“Terima kasih para kepala sekolah para guru-guru dari semua SMA/SMK negeri dan swasta serta SLB yang sudah menyiapkan program SIKAP," tambah orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut.

Baca Juga:
Rayakan Kemerdekaan RI, Gubernur Khofifah Undang Puluhan Anak di Grahadi

Gubernur Khofifah juga mengapresiasi sekolah-sekolah di Jawa Timur yang terus mengembangkan SIKAP di tengah berbagai keterbatasan lahan. Menurutnya, ketersediaan lahan yang tidak terlalu luas bukan menjadi penghalang untuk mengembangkan inovasi ketahanan pangan.

Tak hanya ketahanan pangan, Gubernur Khofifah juga mengapresiasi berbagai sekolah yang mulai melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

Jika sebelumnya area belakang sekolah kerap menjadi tempat penumpukan sampah, lanjut dia, kini berbagai sekolah telah melakukan pemilahan dan pengolahan sampah. Sampah organik bahkan dimanfaatkan menjadi pupuk yang dapat digunakan kembali untuk mendukung penghijauan maupun program ketahanan pangan di sekolah.

"Bapak ibu guru tidak sekedar menguatkan ketahanan pangan, tetapi juga memperhatikan pengolahan sampah sesuai pesan Presiden Prabowo, ayo bersihkan sampah dan sekolah melakukannya," tutur Khofifah.

Praktik serupa, lanjut Khofifah, juga telah dikembangkan di sejumlah perangkat daerah dan unit kerja Pemprov Jatim, antara lain RSUD Dr. Soetomo dan UPT di lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Khofifah berharap praktik baik tersebut diperluas ke seluruh sekolah, perangkat daerah dan unit kerja pemprov. Ia mendorong agar sampah dapat dipilah dan diolah sedekat mungkin dari sumbernya sehingga volume sampah yang harus dikirim menuju tempat pemrosesan akhir dapat terus dikurangi.

"Saya berpesan di lingkungan kerja kita masing-masing pastikan bahwa sampah selesai di sekolah, maupun perkantoran pemerintah sehingga tidak harus dikirim lagi ke tempat pembuangan akhir," ungkapnya.

Menurut Khofifah, program SIKAP dan pengelolaan sampah merupakan contoh konkret bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Inovasi dapat tumbuh dari persoalan yang ditemui sehari-hari, kemudian dicarikan solusi yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. (*)