KETIK, HALMAHERA SELATAN – Demam Piala Dunia 2026 sangat terasa di Halmahera Selatan (Halsel). Obrolan bola bukan lagi sebatas siapa paling ramai, siapa paling fanatik, atau siapa paling duluan pasang bendera.

Di tengah panasnya dukungan lintas negara, Wakil Ketua France Indonesia Suporters (FIS) Bacan Halsel Doglas, tampil dengan keyakinan penuh. Ia menjagokan Prancis sebagai kandidat paling kuat untuk menjadi juara dunia.

Bagi pria bernama lengkap Rifandy Rustam ini, Prancis bukan sekadar tim besar yang hidup dari nama. Les Bleus disebut punya paket lengkap: kedalaman skuad, transisi cepat, kualitas individu, pressing modern, dan mental turnamen.

“Kalau bicara juara dunia, Prancis itu bukan modal euforia. Prancis punya skuad, punya struktur permainan, punya kualitas pemain, dan punya rekam jejak. Jadi jangan asal bunyi,” kata Doglas, Senin 22 Juni 2026.

Doglas mengakui, fans Prancis di Halmahera Selatan memang bukan kelompok mayoritas. Jumlah mereka tidak sebesar pendukung negara-negara lain yang lebih sering terlihat ramai di ruang publik.

Baca Juga:
Lama Tak Ikuti Perkembangan Sepak Bola, Anna Luthfie Yakin Belanda Rebut Titel Juara Piala Dunia 2026

Namun, menurut dia, minoritas bukan berarti lemah. Justru secara data dan kualitas sepak bola modern, Prancis dinilai menjadi tim paling ngeri dengan komposisi skuad yang ada.

“Fans Prancis di Halsel mungkin minoritas. Tapi kalau bicara pengetahuan bola, boleh diadu. Kita kecil secara jumlah, tapi jangan remehkan isi kepala,” ujar Doglas.

Doglas menyebut, kekuatan Prancis bisa dilihat dari banyak aspek. Mulai dari lini belakang yang solid, gelandang dengan mobilitas tinggi, hingga lini serang yang punya kecepatan, kreativitas, dan daya bunuh.

Menurutnya, Prancis punya karakter sepak bola modern. Tim ini bisa bermain direct football, kuat dalam duel satu lawan satu, berbahaya saat counter attack, dan tetap rapi dalam fase bertahan.

Baca Juga:
Usaha Ayam Hi. Ibrahim di Sambiki Halsel Belum Berizin, Warga Keluhkan Bau dan Lalat

“Prancis itu punya balance. Mereka bisa main cepat, bisa main taktis, bisa menekan, dan bisa sabar. Dalam turnamen besar, tim seperti ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Doglas juga menjadikan Paris Saint-Germain atau PSG sebagai salah satu tolok ukur. Menurut dia, performa klub raksasa Prancis itu memberi gambaran bahwa ekosistem sepak bola Prancis berada di level elite.

Ia menilai PSG bukan hanya klub besar, tetapi juga simbol bagaimana sepak bola Prancis terus berkembang dalam intensitas, taktik, fisik, dan kualitas pemain.

“PSG itu salah satu cermin. Dari sana kita bisa lihat bagaimana sepak bola Prancis bergerak. Intensitasnya tinggi, pemainnya matang, dan cara bermainnya sudah sangat modern,” urai Doglas.

Doglas yakin Prancis punya jalan besar menuju final. Ia menyebut Les Bleus memiliki pengalaman turnamen, pemain kelas dunia, serta kedalaman bangku cadangan yang bisa mengubah arah pertandingan.

Dalam bahasa bola, Doglas melihat Prancis punya banyak senjata. Ada kecepatan di wide area, kreativitas di half-space, agresivitas pressing, dan kemampuan mematikan lawan lewat transisi.

“Prancis tidak perlu banyak bicara. Di lapangan mereka bisa menghukum lawan hanya dari satu momen. Salah posisi sedikit, selesai,” paparnya.

Namun, Doglas tidak hanya bicara soal Prancis. Ia juga menyentil sebagian fans Piala Dunia di Halmahera Selatan yang menurutnya terlalu cepat membuat prediksi, tetapi minim dasar analisis.

Ia meminta pendukung negara lain tidak hanya saling sindir, saling ejek, atau melempar kalimat panas tanpa data. Bagi Doglas, debat bola harus punya isi.

“Silakan dukung Brasil, Argentina, Jerman, Inggris, Belanda, Spanyol, Portugal, atau negara lain. Tapi kalau mau bicara bola, jangan cuma pakai emosi. Bawa data, bawa statistik, bawa analisis,” katanya.

Dengan nada sedikit guyon, Doglas menyebut sebagian fans kadang lebih siap konvoi daripada siap membaca komposisi skuad. Bendera sudah berkibar, tapi analisis tactical shape belum sampai ke kepala.

“Jangan sampai jersey lengkap, bendera besar, suara paling keras, tapi ditanya formasi saja langsung cedera hamstring,” ujar Doglas sambil tertawa.

Menurutnya, Piala Dunia harus menjadi ruang edukasi sepak bola. Fans boleh fanatik, tetapi fanatisme harus naik kelas. Bukan hanya ramai di jalan, tetapi juga matang dalam membaca pertandingan.

Doglas menilai sebagian pendukung di Halsel masih terkesan sebagai penggembira. Mereka hadir dalam euforia, tetapi belum tentu punya pemahaman memadai soal permainan, statistik, dan dinamika taktik.

“Bukan berarti fans lain tidak intelek. Tapi kadang ada prediksi yang tidak punya dasar. Sepak bola modern itu bukan sekadar suka satu negara, lalu semua lawan dianggap lemah,” katanya.

Ia menegaskan, fans Prancis di Halmahera Selatan cukup intelektual dalam membaca sepak bola modern. Mereka tidak hanya bicara peluang juara, tetapi juga melihat kualitas skuad dan model permainan.

“Fans Prancis itu tidak asal dukung. Kita lihat skuad, lihat performa, lihat statistik, lihat kedalaman tim. Jadi kalau bilang Prancis juara, itu ada dasarnya,” ujar Doglas.

Doglas bahkan mengusulkan adanya podcast khusus sepak bola di Halmahera Selatan. Ruang itu bisa dipakai untuk mempertemukan fans berbagai negara dalam debat terbuka dan sehat.

Menurutnya, podcast bola akan membuat atmosfer Piala Dunia lebih menarik. Fans bisa adu argumen soal taktik, pemain kunci, expected goals, ball progression, pressing line, hingga mentalitas turnamen.

“Kalau ada podcast, kita duduk. Bawa fans semua negara. Kita debat bola dengan kepala dingin. Bukan saling ejek di jalan, tapi saling uji argumen,” katanya.

Doglas juga mengingatkan soal pawai kemenangan. Ia tidak melarang pendukung merayakan euforia, tetapi meminta semua pihak tetap menjaga batas.

Menurutnya, pengalaman pawai fans di berbagai ajang sepak bola harus menjadi pelajaran. Euforia tidak boleh berubah menjadi risiko sosial, apalagi sampai menimbulkan korban.

“Pawai boleh, tapi jangan berlebihan. Sepak bola itu kegembiraan, bukan alasan untuk menciptakan bahaya. Menang boleh dirayakan, tapi keselamatan tetap nomor satu,” ujar Doglas.

Bagi Doglas, Piala Dunia 2026 harus menjadi panggung kegembiraan sekaligus pendidikan sepak bola. Fans boleh panas, tetapi pikiran tetap jernih. Dukungan boleh keras, tetapi argumen harus jelas.

Ia menutup dengan pesan menantang untuk fans negara lain di Halmahera Selatan. Menurutnya, Prancis siap bicara di lapangan, dan fans Prancis siap bicara di meja debat.

“Kalau mau debat, saya siap. Tapi jangan datang hanya bawa sindiran. Bawa data. Karena menurut saya, Prancis bukan hanya layak ke final, tapi sangat layak angkat trofi,” tutup Doglas.