KETIK, BOJONEGORO – Berawal dari persoalan sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 04 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur mencoba menghadirkan sebuah solusi sederhana melalui teknologi tepat guna.

Bukan sekadar membeli alat yang sudah jadi, mahasiswa justru merancang Alat Pembakaran Sampah Minim Asap atau Rocket Stove dari awal untuk kemudian diperkenalkan dan diserahkan kepada masyarakat Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro.

Program tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKN dalam merespons persoalan lingkungan yang ditemui di tengah masyarakat. Rocket Stove dirancang sebagai alternatif dalam pengelolaan sampah dengan mengedepankan pembakaran yang lebih terarah dan minim asap dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.

Yang menarik, proses lahirnya alat tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Mulai dari proses perancangan hingga pembangunan, mahasiswa harus melewati beberapa tahapan sebelum Rocket Stove benar-benar siap digunakan. Desain alat dibuat dari nol oleh salah satu anggota kelompok KKN Kelompok 04.

Mahasiswa KKN Kelompok 04 UPN “Veteran” Jawa Timur saat melakukan proses pembangunan dan penyusunan konstruksi Alat Pembakaran Sampah Minim Asap (Rocket Stove) secara mandiri di Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (6/8/2026). (Foto: Dok. KKN Kelompok 04 Bojonegoro UPN "Veteran" Jawa Timur)

Baca Juga:
Mahasiswa KKN UPN "Veteran" Jatim Dorong Inovasi Olahan Lele di Desa Karangdayu Bojonegoro

Mahasiswa KKN terlibat langsung dalam proses perancangan Rocket Stove, menyesuaikan bentuk dan konstruksi alat dengan kebutuhan yang telah ditentukan. Setelah desain disiapkan, proses pembangunan kemudian dilakukan selama tiga hari, yakni pada 5–7 Agustus 2026.

Pembuatan alat tidak langsung berakhir setelah konstruksi selesai. Mahasiswa kemudian melakukan uji coba Rocket Stove pada 9 Agustus 2026 untuk memastikan alat dapat berfungsi sebelum diperkenalkan kepada masyarakat. Tahap uji coba menjadi bagian penting dalam rangkaian program karena mahasiswa perlu melihat secara langsung kinerja alat yang telah dibangun. Selain memastikan alat dapat digunakan, pengujian juga dilakukan sebagai persiapan sebelum Rocket Stove diperkenalkan dan diserahkan kepada masyarakat Desa Karangdayu.

Sehari setelah uji coba, rangkaian kegiatan dilanjutkan pada 10 Agustus 2026 melalui agenda pemaparan, pengesahan, sekaligus penyerahan Rocket Stove kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Desa Karangdayu, Ibu Tutik, bersama warga setempat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN menjelaskan latar belakang pembuatan Rocket Stove, fungsi alat, serta cara pemanfaatannya sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah.

Penyerahan secara simbolis dokumen panduan penggunaan Model Rocket Stove oleh perwakilan mahasiswa KKN Kelompok 04 UPN “Veteran” Jawa Timur kepada Sekretaris Desa Karangdayu, di depan bangunan Alat Pembakaran Sampah Minim Asap di Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Senin (10/8/2026). (Foto: Dok. KKN Kelompok 04 Bojonegoro UPN "Veteran" Jawa Timur)

Pemaparan dilakukan agar masyarakat tidak hanya menerima alat yang telah selesai dibuat, tetapi juga memahami tujuan dan cara penggunaan Rocket Stove. Dengan begitu, alat yang diserahkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara tepat dan tidak berhenti sebagai hasil program kerja mahasiswa selama KKN.

Kehadiran Ibu Tutik bersama warga Desa Karangdayu juga menjadi bagian dari proses pengenalan alat kepada masyarakat. Warga mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung Rocket Stove yang sebelumnya melalui proses pembangunan dan uji coba oleh mahasiswa KKN.

Menanggapi inovasi yang dihadirkan, Sekretaris Desa Karangdayu, Ibu Tutik, menyampaikan apresiasi positif mewakili warga dan pemerintah desa. “Kami dari pemerintah desa sangat terbantu dan mengapresiasi inisiatif yang dibawa oleh adik-adik KKN UPN ‘Veteran’ Jawa Timur. Masalah pembakaran sampah secara terbuka memang sering dikeluhkan karena polusi asapnya mengganggu pemukiman. Dengan adanya Rocket Stove ini, warga tidak hanya mendapat fasilitas baru, tapi juga diedukasi tentang cara pembakaran yang lebih aman dan minim asap. Harapan kami, alat ini bisa terus dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh warga,” ungkap Ibu Tutik.

Program ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi mahasiswa dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam merespons persoalan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya membawa gagasan, tetapi juga berupaya mewujudkannya dalam bentuk alat yang dapat diperkenalkan dan dimanfaatkan di lingkungan desa.

Bagi masyarakat, pengenalan Rocket Stove memberikan wawasan baru mengenai alternatif pengelolaan sampah. Pemaparan yang dilakukan juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mengetahui fungsi serta cara pemanfaatan alat sebelum nantinya digunakan dalam kegiatan pengelolaan sampah.

Pemerintah Desa Karangdayu turut menerima dan mendukung keberadaan program tersebut sebagai salah satu inovasi yang diperkenalkan mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan warga diharapkan dapat membantu keberlanjutan pemanfaatan alat setelah masa KKN selesai.

Selain menghasilkan sebuah alat, proses pembuatan Rocket Stove juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki untuk menjawab persoalan yang ditemukan di lingkungan masyarakat. Rangkaian kegiatan yang dimulai dari pembangunan selama tiga hari, uji coba pada 9 Agustus, hingga pemaparan, pengesahan, dan penyerahan pada 10 Agustus menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN Kelompok 04 dalam menghadirkan program yang memiliki manfaat langsung bagi Desa Karangdayu.

Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap Rocket Stove dapat menjadi salah satu alternatif yang mendukung pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih terarah. Kehadiran Rocket Stove di Desa Karangdayu menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Tidak hanya meninggalkan sebuah alat, mahasiswa juga berupaya meninggalkan pengetahuan dan pemahaman agar inovasi yang telah dibuat dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir.(*)