KETIK, TUBAN – Kemitraan Gudang Cahyo Tobacco dengan PT Alliance One Indonesia (AOI) terus membuka akses pasar bagi hasil panen tembakau petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kerja sama yang berjalan sejak 2023 itu kini memasuki tahun keempat.
Pemilik Gudang Cahyo Tobacco, Busono, mengapresiasi komitmen PT AOI yang secara berkelanjutan menyerap tembakau hasil panen petani, khususnya dari wilayah Tuban bagian selatan.
Menurut Busono, keberlanjutan kerja sama tersebut memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus membantu menjaga keberlangsungan ekosistem usaha tembakau di daerah.
"Kami mulai kerja sama sejak 2023 dan sekarang sudah tahun ke-4. Terima kasih kepada PT Alliance One Indonesia yang terus mendampingi dan menyerap hasil bumi kami,” ungkap Busono kepada ketik.com, Sabtu, 5 September 2026.
Baca Juga:
Kejari Tuban Serahkan Rp1,27 Miliar Uang Sitaan Korupsi ke Pemkab, Bupati Mas Lindra: Langsung Masuk Kasda
Busono menjelaskan, Gudang Cahyo Tobacco secara rutin mengirim tembakau kering rajangan ke PT AOI. Pada musim panen 2026, gudang yang berada di Desa Rayung, Kecamatan Senori, itu telah menyetorkan 1,55 ton tembakau kering rajangan jenis serumpung atau sekitar 31 balle dengan berat rata-rata 50 kilogram per balle.
Pengiriman tersebut berlangsung secara rutin. Busono menyebut Gudang Cahyo Tobacco mengirim tembakau rajangan kepada PT AOI hingga tiga kali dalam sepekan.
Baca Juga:
Aksi Spontan Warga Ring 1 Desak Berdayakan Tenaga Lokal dan Evaluasi Kontrak Kerja PT SI di Jenu Tuban"Alhamdulillah, pengiriman tembakau rajangan 31 balle ini secara intensif rutin tiga kali dalam seminggu," jelas Busono kepada Ketik.com.
Ia menyebut PT AOI memiliki kapasitas penyerapan yang cukup besar sehingga membantu menciptakan kepastian pasar bagi petani tembakau. Dalam satu musim, volume tembakau kering yang terserap dapat mencapai 50 hingga 100 ton.
"Setiap musim bisa mencapai 50 hingga 100 ton tembakau kering. Volume ini kami topang produksi perajangan di tiga gudang penyangga milik kami di Senori," imbuhnya.
Aktivitas perdagangan dan pengolahan tembakau tersebut juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Gudang Cahyo Tobacco mempekerjakan sekitar 50 tenaga kerja lokal, baik laki-laki maupun perempuan.
Para pekerja terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari perajangan, penjemuran, hingga pengepakan tembakau sebelum dikirim kepada PT AOI. Aktivitas tersebut membuat rantai ekonomi tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat yang bekerja di sektor pengolahan tembakau.
Busono mengatakan keberadaan pasar bagi tembakau kering turut mendukung terbentuknya harga yang kompetitif di tingkat gudang. Ia menyebut harga tembakau kering di tingkat gudang berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram, bergantung pada kualitas.
"Sedangkan, pada tingkat petani daun tembakau basah kisaran harga Rp 2.500 sampai Rp 5.000 per kilogram tergantung kualitas," jelas Busono saat ditemui di Gudang Cahyo Tobacco.
Menurut Busono, jangkauan penyerapan PT AOI juga semakin luas sejak kemitraan tersebut berjalan. Jika sebelumnya aktivitas lebih banyak berfokus di Kecamatan Senori dan Singgahan, kini penyerapan juga menjangkau sebagian petani tembakau di Kecamatan Montong.
Di sisi lain, Busono menilai penguatan sektor tembakau membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan berbagai pihak. Ia menyoroti masih terbatasnya perhatian terhadap sektor pengolahan atau pengrajangan daun tembakau di gudang-gudang lokal.
Busono yang juga aktif sebagai pengurus PAC PDI Perjuangan Kecamatan Senori berharap partai politik dapat mengambil peran dalam mengawal kepentingan masyarakat, khususnya petani tembakau. Ia mendorong adanya kebijakan dan advokasi yang dapat memperkuat hubungan antara petani, gudang pengolahan, dan perusahaan penyerap tembakau.
"Harapan kami, parpol bisa ikut bergerak menjembatani kebutuhan mesin atau industri kecil gudang agar ekonomi kerakyatan benar-benar tumbuh dan mendapat dukungan kebijakan yang kuat," tambahnya.
Ia berharap pemerintah dan pemangku kepentingan turut memperkuat fasilitas serta kapasitas pengolahan tembakau di tingkat lokal. Menurutnya, dukungan tersebut dapat membuat kemitraan antara petani dan perusahaan besar berjalan lebih optimal sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas tembakau.
Busono juga berharap PT AOI mempertahankan komitmennya dalam menyerap hasil panen tembakau dari wilayah Senori dan sekitarnya. Ia menilai konsistensi serapan akan membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.
“Harapan kami, PT AOI konsisten menyerap tembakau daun kering atau rajangan hasil panen raya di Senori. Dengan begitu, ekonomi lokal bisa terus berputar positif,” pungkas Busono. (*)