KETIK, MALANG – Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai terkuak. Diduga, kejadian itu berawal dari aktivitas manusia menyalakan api unggun.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, titik awal api berada di area puncak tebing yang memiliki jalur trabasan tradisional.
"Karena di puncak tebing itu, ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dan Ranu Pani. Kemungkinan ada yang melintas dan karena dingin, bikin perapian (api unggun) lalu menjadi pemicu kebakaran," ujarnya kepada wartawan usai meninjau area yang terdampak kebakaran Gunung Bromo, Jumat, 7 Agustus 2026.
Diduga, api unggun tersebut tidak padam sempurna. Ditambah dengan vegetasi kering dan angin kencang, sehingga terjadi kebakaran tersebut.
Meski begitu, pihaknya mengaku masih berfokus pada upaya pemadaman. Dikarenakan kebakaran terus meluas bahkan sudah masuk wilayah Kabupaten Malang.
Baca Juga:
Karhutla Bromo Meluas Jadi 176 Hektare, Dua Helikopter Water Bombing DikerahkanTerkait kemungkinan sanksi terhadap pihak yang diduga menjadi penyebab kebakaran, masih menunggu hasil penyelidikan. Tindakan lebih lanjut akan diambil setelah kebakaran tersebut berhasil dipadamkan.
Dengan adanya peristiwa tersebut, berdampak pada sektor pariwisata di kawasan Bromo. Pasalnya, wisatawan yang telah memesan penginapan memilih membatalkan kunjungan dan membuat tingkat kunjungan turun hingga 25 persen.
"Memang, ada beberapa pengunjung yang sudah memesan penginapan kemudian melakukan pembatalan. Meski kami sarankan masih bisa lewat jalur Pasuruan dan Cemoro Lawang, tetapi sepertinya beberapa pengunjung tetap memilih membatalkan kunjungan," terangnya.
Sedangkan untuk akses jalur dari wilayah Kabupaten Malang, akan dipertimbangkan untuk dibuka kembali. Mengingat, kebakaran di titik tersebut sudah terkendali dan tidak digunakan sebagai jalur utama operasi pemadaman.
Baca Juga:
Cetak Generasi 'Kebal Hoaks', Dispusip Probolinggo Bekali 50 Pelajar Jelang Lomba Resensi BukuTerkait dampak kebakaran terhadap satwa liar maupun tumbuhan, pihaknya menilai dampaknya tidak terlalu besar. Dikarenakan kebakaran terjadi di area yang sebagian besar berada di kawasan tebing.
"Kalau disini, tidak begitu banyak satwa yang ditemukan, karena ini banyak tebingnya. Kecuali yang berada di area tengah, masih ada tanaman endemik seperti Suket Malelo dan satwa ular Bumi Tengger," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kebakaran hutan melanda Blok Bantengan yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin, 3 Agustus 2026 malam. Diketahui, peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB dan saat ini proses pemadaman masih terus dilakukan.
Dengan adanya kebakaran tersebut, kunjungan Wisata Bromo melalui pintu masuk Jemplang dan Coban Trisula yang berada di wilayah Kabupaten Malang dan Senduro di Lumajang ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan. Dialihkan ke akses masuk Cemoro Lawang di Probolinggo dan Wonokitri di Pasuruan.
Meski demikian, wisatawan hanya bisa mengakses kawasan wisata tersebut hingga area Lautan Pasir dan tidak diperkenankan berkunjung ke area Savana.(*)