KETIK, ACEH BARAT DAYA – Kisah pilu datang dari Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Seorang anak yatim berusia 15 tahun, Salakun, kini hanya bisa terbaring lemas di atas kasur setelah selama enam bulan menderita infeksi jantung.

Di tengah kondisi kesehatannya yang semakin memprihatinkan, Salakun membutuhkan perawatan dan kontrol rutin ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuat langkah pengobatan tersebut sulit dilakukan.

Ibu Salakun, Nurhayati, mengatakan kondisi anaknya telah berlangsung selama sekitar enam bulan. Sejak Salakun jatuh sakit, dirinya juga tidak lagi dapat bekerja karena harus merawat sang anak.

“Sudah sekitar enam bulan anak saya terbaring lemas. Sejak dia sakit, saya sudah lama tidak bekerja,” ujar Nurhayati, Selasa (15/9/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nurhayati dan Salakun kini hanya mengandalkan bantuan dari keluarga serta warga sekitar.

Baca Juga:
Tim Voli Abdya Lolos ke PORA, Bupati Safaruddin: Jadi Kebanggaan Kita Semua

Menurut Nurhayati, berdasarkan anjuran dokter, Salakun harus menjalani kontrol secara rutin di RSUDZA Banda Aceh. Kontrol tersebut penting untuk memantau kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.

Namun, jarak Banda Aceh yang cukup jauh serta biaya perjalanan dan kebutuhan selama menjalani pengobatan menjadi kendala besar bagi keluarga.

“Kata dokter harus rutin kontrol ke Rumah Sakit Zainal Abidin di Banda Aceh. Tapi kami terkendala biaya untuk membawa Salakun berobat ke sana,” tutur Nurhayati.

Kondisi Salakun sangat memprihatinkan. Dalam usia yang seharusnya masih menikmati masa sekolah dan bermain bersama teman-teman, Salakun justru harus menghabiskan sebagian besar waktunya di atas tempat tidur.

Baca Juga:
Bupati Simeulue Sampaikan Rancangan KUPA-PPAS Tahun 2026, Perkuat Arah Kebaikan Anggaran Pembangunan Daerah

Kondisi tersebut mengetuk kepedulian masyarakat dan para dermawan untuk bersama-sama membantu meringankan beban Salakun dan keluarganya.

Selain bantuan dari masyarakat, perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya juga sangat diharapkan agar Salakun dapat memperoleh akses pengobatan yang layak dan menjalani kontrol medis sesuai anjuran dokter.

Bagi keluarga kurang mampu seperti Nurhayati, biaya perjalanan menuju Banda Aceh bukan persoalan kecil. Karena itu, uluran tangan dari para dermawan, lembaga sosial, maupun pihak pemerintah sangat berarti bagi keberlanjutan pengobatan Salakun.

Harapan keluarga sederhana: Salakun dapat kembali mendapatkan perawatan, kondisinya membaik, dan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya.

Kini, Salakun membutuhkan kepedulian kita. Sedikit bantuan yang diberikan dapat menjadi harapan besar bagi seorang anak yatim untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkannya. (*)