KETIK, JAKARTA – Francesco Bagnaia harus kembali menjalani balapan yang jauh dari ekspektasi bersama Ducati.
Dalam MotoGP Austria 2026 di Red Bull Ring, Minggu (20/9/2026), Pecco hanya mampu finis di posisi ketujuh setelah sepanjang balapan berjuang dengan minimnya grip dan masalah pada rem depan.
Hasil tersebut memang bukan posisi yang biasanya ditargetkan juara dunia dua kali itu. Namun, melihat situasi Ducati sepanjang akhir pekan, Pecco memilih melihat sisi positif dari hasil tersebut.
Bagnaia mengawali balapan dari baris depan dan langsung berada di rombongan terdepan setelah start. Ia menutup lap pertama di posisi ketujuh, tepat di belakang Pedro Acosta dan Marc Marquez. Sementara di depan, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi langsung terlibat pertarungan untuk memimpin balapan.
Namun, Pecco segera menyadari bahwa kecepatan Ducati GP26 miliknya belum cukup untuk bertarung dengan KTM dan Aprilia.
Baca Juga:
Marc Marquez Selamat dari Masalah Rem di AustriaIa juga tidak mendapatkan grip seperti yang diharapkan. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan ketika memasuki tikungan, terutama saat harus memperlambat motor dan kemudian kembali mendapatkan traksi ketika keluar tikungan.
Memasuki sekitar lap kelima dan keenam, Bagnaia mengambil keputusan untuk mengubah pendekatannya.
Ia menaikkan ritme secara bertahap dan mencoba mempertahankan waktu putaran di kisaran 1 menit 30,6–30,7 detik selama mungkin.
Menurut Pecco, strategi tersebut menjadi pilihan paling masuk akal karena ia merasa tidak memiliki kecepatan lebih untuk mengejar rombongan di depannya.
Baca Juga:
Marco Bezzecchi Bawa Aprilia ke Podium GP Austria“Saya memutuskan untuk menaikkan ritme sekitar setengah detik agar bisa membawa motor sejauh mungkin ke depan. Saya mempertahankannya selama mungkin dan itu menjadi strategi yang bagus karena memang saya tidak punya lebih dari itu,” ujar Bagnaia seperti dilansir Sky Sport.
Masalah lain kemudian muncul.
Sekitar lap keenam atau ketujuh, Bagnaia mulai merasakan persoalan pada rem. Tuas rem depan beberapa kali mendekat hingga menyentuh tangannya, sehingga ia harus melakukan penyesuaian selama balapan.
Situasi tersebut tentu bukan kondisi ideal di Red Bull Ring, salah satu sirkuit yang terkenal sangat menuntut sistem pengereman.
Namun Pecco mampu mengendalikan situasi hingga finis.
“Saya mengalami sedikit masalah pada rem, tetapi karena saya sudah pernah menghadapi situasi seperti ini, saya bisa merespons dengan cara yang benar dan membawa motor sampai finis,” kata Pecco.
Menariknya, Bagnaia juga mengungkap bahwa kondisi fisiknya ikut membantunya menghadapi masalah tersebut. Ia baru menjalani operasi sekitar satu bulan sebelumnya dan merasa bisa mengelola persoalan yang muncul dengan lebih baik.
Di tengah semua masalah itu, Pecco akhirnya finis P7.
Ia bahkan sempat mendekati Fermin Aldeguer dan Brad Binder pada fase akhir balapan, tetapi tidak memiliki cukup kecepatan untuk masuk ke perebutan posisi lima besar. Setelah penalti tiga detik untuk Aldeguer, posisi Bagnaia akhirnya naik menjadi P7.
Hasil ini semakin menarik jika melihat performa Ducati secara keseluruhan.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Ducati gagal memenangkan Sprint maupun balapan utama di Austria. KTM membawa pulang kemenangan melalui Acosta, sedangkan Aprilia mengamankan dua tempat podium melalui Martin dan Bezzecchi.
Bagnaia mengakui bahwa Ducati kehilangan cukup banyak performa dibandingkan potensi yang biasanya mereka miliki di Red Bull Ring.
“Kami kehilangan banyak potensi yang kami punya di trek ini. Itu sangat disayangkan,” ujar Pecco seperti dilansir GPOne.
Menurutnya, masalah Ducati bukan hanya satu area.
Motor mereka kehilangan kecepatan saat memasuki tikungan, ketika berada di tengah tikungan, hingga fase awal akselerasi. Traksi juga menjadi persoalan sehingga Ducati tidak bisa memanfaatkan karakter Red Bull Ring seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
Pecco bahkan menilai bahwa dirinya bukan benar-benar menjadi lebih dekat dengan Ducati lain.
Justru menurutnya, Ducati lain yang mendekat ke levelnya.
“Lebih dari saya yang mendekati Ducati lain, sebenarnya merekalah yang mendekati saya,” kata Bagnaia.
Kalimat tersebut cukup menggambarkan posisi Pecco di Austria.
Ia memang finis ketujuh, tetapi hasil itu bukan berarti Ducati sudah sepenuhnya kembali menemukan performanya. Bagnaia masih melihat adanya pekerjaan besar yang harus dilakukan, terutama dalam hal kecepatan masuk tikungan dan traksi ketika membuka gas.
Meski demikian, Pecco tidak sepenuhnya pesimistis.
Ia menilai kerja tim selama akhir pekan Austria sudah maksimal dan hasil tersebut bisa menjadi dasar untuk menghadapi seri berikutnya.
“Saya pikir ini adalah titik awal yang bagus,” ujar Bagnaia.
Pecco juga memberikan komentar positif mengenai kemenangan Pedro Acosta. Menurutnya, rider KTM itu memang sudah layak mendapatkan kemenangan MotoGP setelah beberapa kali gagal mengubah kecepatannya menjadi kemenangan.
“Pedro sudah layak mendapatkannya sejak lama. Dia pembalap yang sangat kuat dan dari generasi baru, dia adalah salah satu yang paling cepat,” kata Bagnaia.
Bagi Bagnaia sendiri, Austria bukan akhir dari masalah Ducati, tetapi setidaknya memberikan sesuatu yang bisa dibawa pulang.
Setelah beberapa seri yang sulit, ia berhasil menyelesaikan balapan, mengatasi persoalan rem, menjaga posisi di tengah tekanan, sekaligus mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai area yang harus diperbaiki Ducati.
Kini perhatian beralih ke Jepang.
Dan bagi Pecco, tantangannya bukan hanya mengejar kemenangan, tetapi membuktikan apakah “titik awal yang bagus” di Austria benar-benar bisa menjadi awal kebangkitan Ducati. (*)