KETIK, TUBAN – Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) Pusat Madiun Ranting Senori, Cabang Tuban, tidak hanya menjadi kawah candradimuka para pesilat. Di tangan warga SH Terate, padepokan tersebut kini bertransformasi menjadi laboratorium inovasi hijau.
Organisasi pencak silat terbesar ini sukses menyulap limbah plastik yang menjadi momok dan mencemari lingkungan untuk dijadikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bernilai ekonomis.
Langkah progresif menjadi sinyal kuat dukungan akar rumput terhadap target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional sebesar 23 persen sekaligus penerapan nyata ekonomi sirkular.
Aksi unjuk gigi hasil destilasi diperkenalkan dalam deklarasi kegiatan "Mengendalikan Sampah Plastik Dengan Memanfaatkannya Menjadi Energi Minyak Terbarukan" digelar Sabtu malam, 26 September 2026.
Secara teknis, inovasi tersebut mengadopsi prinsip kerja kilang atau refinery migas sederhana. Metode digunakan dengan sistem pirolisis, yaitu proses termokimia untuk membakar sampah plastik tanpa melibatkan oksigen di dalam reaktor tertutup bersuhu tinggi.
Inisiator kegiatan, Mas Agus Sutarno, menjelaskan bahwa proses pembakaran tersebut bertujuan untuk melakukan perengkahan atau cracking pada struktur kimia plastik yang kompleks.
"Tujuannya untuk memecah rantai panjang polimer plastik yang susah hancur menjadi rantai hidrokarbon yang lebih pendek berupa fasa uap atau gas," ujar Mas Agus di sela-sela demonstrasi alat.
Setelah fasa gas terbentuk, proses dilanjutkan ke tahap pemurnian menggunakan metode destilasi atau penyulingan. Uap hasil pirolisis dialirkan menuju kolom fraksionasi untuk dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didihnya (boiling point).
"Fungsinya memisahkan uap hasil pirolisis menjadi jenis fraksi BBM yang lebih murni. Kondensasi pada suhu rendah menghasilkan fraksi gasoline,suhu sedang menjadi kerosin atau minyak tanah, dan suhu tinggi dikonversi menjadi diesel," imbuhnya.
Secara ringkas, alur proses dimulai dari pemilahan sampah plastik sebagai feedstock, yang dimasukkan ke reaktor pirolisis, diubah menjadi uap hidrokarbon, lalu dialirkan ke kondensor alat destilasi untuk bisa menghasilkan produk akhir berupa bahan bakar minyak siap pakai.
Skema memanfaatkan sampah plastik dengan sistem pirolisis hingga distilasi yang menghasilkan minyak bahan bakar, Minggu 27 September 2026 (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)
Ketua SH Terate Ranting Senori Cabang Tuban, Mas Zakki Mubarok, menegaskan bahwa proyek pengolahan dan pengendalian limbah sampah bukan sekadar eksperimen sains biasa, melainkan implementasi langsung ajaran luhur organisasi yang berpusat di Madiun tersebut.
"Ini adalah wujud nyata ajaran SH Terate Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara . Artinya, kita harus ikut menjaga keindahan dunia dan memberantas angkara murka, termasuk angkara murka sampah yang merusak lingkungan," tegas Mas Zakki.
Mas Zakki optimistis gerakan mandiri energi dapat menjadi solusi ganda atau double solution. Di satu sisi, langkah warga SH Terate mampu menekan volume timbunan sampah plastik yang sulit terurai di wilayah Senori hingga Kecamatan Bangilan.
Di sisi lain, proyek produksi energi alternatif untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar kompor, mesin diesel pertanian, hingga penerangan rumah tangga.
"Ke depan, SH Terate Ranting Senori berencana meningkatkan skala kapasitas atau scale-up alat pirolisis agar dapat diadopsi oleh setiap ranting wilayah cabang Tuban dan tentu masyarakat umum sebagai bagian dari dedikasi dan pengabdian sosial SH Terate kepada lingkungan," pungkasnya.(*)
