KETIK, SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur menyelenggarakan pagelaran wayang kulit menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 provinsi pada Kamis sore, 29 Oktober 2026 di halaman gedung setempat.
Masyarakat Surabaya dan sekitarnya dapat menikmati pertunjukan wayang kulit tersebut secara gratis. Pagelaran mengusung tema “Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya dan Menguatkan Jati Diri Bangsa” sebagai upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya Jawa Timur.
Ketua DPRD Jatim Musyafak Rouf menyampaikan pagelaran tersebut menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian seni dan budaya tradisional di tengah perkembangan zaman, sekaligus memperkenalkan seni pewayangan kepada generasi muda.
“Pelestarian seni dan budaya daerah perlu terus dilakukan agar tidak tergerus perkembangan zaman,” ujarnya di Surabaya pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Menurut politisi PKB itu, wayang kulit merupakan warisan leluhur sekaligus bagian dari jati diri bangsa yang harus dirawat bersama.
Pelestarian budaya, kata dia, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintahan yang saah satu upayanya yakni menghadirkan pertunjukan tradisional di ruang publik agar masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal, menikmati, sekaligus mencintai warisan budaya bangsa.
Pagelaran tersebut menghadirkan Ki Arif Sarjono sebagai dalang yang membawakan lakon Wahyu Jitabsara. Sedangkan, sebagai tambahan hiburan untuk penonton, sejumlah seniman turut memeriahkan pagelaran itu yakni Cak Percil Cs, Abah Kirun hingga Guyon Maton.
Sementara itu, Sekretaris DPRD Jatim Moch. Ali Kuncoro menyampaikan bahwa pertunjukan wayang kulit memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan bagi masyarakat. Kesenian tersebut, lanjut dia, juga mengandung pesan moral, filosofi kehidupan dan kearifan lokal yang masih relevan hingga saat ini.
“Bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat. Berbagai nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya perlu diwariskan kepada generasi muda,” ucap dia.
Mantan Pj Wali Kota Mojokerto tersebut berharap mampu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal dan menikmati seni pewayangan secara langsung. (*)
