KETIK, SURABAYA – Komite Olahraga Nasional Provinsi Jawa Timur (KONI Jatim) menggelar Rapat kerja Provinsi (Rakerprov) yang berlangsung di Gedung Graha Widya Bhakti, Kampus STESIA, Surabaya, Rabu, 24 Juni 2026.
Rakerprov tersebut diikuti 77 pengurus cabang olahraga (cabor) dan 38 KONI kabupaten/kota se-Jawa Timur. Agenda utama dalam Rakerprov tersebut untuk mematangkan persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2028.
Selain itu acara ini untuk membahas evaluasi program kerja 2025 sekaligus menyusun strategi pembinaan olahraga prestasi untuk tahun 2026.
Ketua KONI Jatim, Muhammad Nabil mengatakan, seluruh pemangku kepentingan olahraga di Jawa Timur harus mulai fokus, seperti melakukan pembinaan atlet berprestasi. Hal ini penting dilakukan sejak dini dengan menggelar pemusatan latihan daerah (Puslatda) dan pembinaan berkelanjutan di masing-masing cabor.
“Konsentrasi kami adalah meraih prestasi yang lebih baik pada PON 2028. Karena itu, seluruh cabang olahraga harus mulai mempersiapkan atlet-atlet terbaiknya dari sekarang,” ujarnya.
M Nabil juga memaparkan sejumlah capaian olahraga Jawa Timur sepanjang 2025, dimana atlet-atlet berhasil menyumbang medali terbanyak bagi Indonesia di berbagai kejuaraan internasional. Bahkan beberapa atlet berhasil meraih gelar juara dunia pada cabor masing-masing.
Kemudian ditingkat nasional, Jawa Timur menempati posisi ketiga pada ajang PON Beladiri setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Menurut Nabil, semua ini menunjukkan efektivitas pembinaan atlet, karena pada ajang tersebut kontingen Jawa Timur hanya mengirimkan 79 atlet.
“Secara persentase keterwakilan, kami hanya mengirim 79 atlet. Namun tingkat efektivitas perolehan kemenangan mencapai lebih dari 78 persen,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang membuka Rakerprov mengapresiasi berbagai prestasi yang telah diraih KONI Jatim bersama seluruh cabor dan KONI daerah.
Ia mengungkapkan, prestasi ini tak lepas dari pentingnya pembinaan atlet usia dini sebagai strategi menjaga regenerasi dan daya saing olahraga Jawa Timur.
“Pencarian bakat sejak usia dini menjadi catatan penting. Pendampingan atlet muda juga harus dilakukan lebih masif agar prestasi olahraga Jawa Timur tetap terjaga,” ujarnya.
Khofifah juga mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang digelar setiap dua tahun sekali sebagai sarana menjaring bibit atlet potensial dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Ia berharap Rakerprov KONI Jatim mampu menghasilkan langkah konkret untuk menghadapi berbagai agenda olahraga, mulai Porprov, PON, hingga Olimpiade.
Wakil Ketua KONI Pusat, Suwarno yang juga hadir pada Rakerprov menyoroti pentingnya pembinaan atlet usia dini. Menurutnya, KONI daerah perlu menyesuaikan pola pembinaan dengan ketentuan usia yang berlaku pada masing-masing cabor.
“Ada sejumlah data dan rekomendasi dari KONI Pusat yang perlu menjadi fokus pembinaan. Terutama terkait penjaringan dan pengembangan atlet usia dini agar dilakukan lebih awal dan terarah,” katanya. (*)
.png)