KETIK, SURABAYA – Zaman serba digital membuat akses informasi semakin mudah dan cepat. Hampir semua hal bisa dijangkau lewat smartphone, kapan saja dan di mana saja. Namun, di balik kemudahan itu, muncul kebiasaan baru terutama di kalangan Gen Z yaitu scrolling media sosial tanpa sadar yang berdampak pada menurunnya kinerja otak.
Peneliti otak dan perilaku manusia, Rizky Admi Edison, mengungkapkan bahwa kebiasaan ini diam-diam menguras energi otak dan menurunkan kemampuan fokus. Hal tersebut disampaikannya dalam kanal YouTube milik Rori Asyari pada 12 Februari 2026.
Menurutnya, meski terlihat santai, aktivitas scrolling justru memaksa otak bekerja tanpa henti dalam waktu singkat.
“Walaupun fisik kita tidak bergerak, otak kita dipaksa memproses berbagai stimulasi. Butuh waktu 5–6 detik untuk memahami satu informasi,” ujarnya.
Setiap kali berpindah dari satu konten ke konten lain, otak melakukan perpindahan fokus secara cepat. Proses ini dikenal sebagai rapid switching, yang justru lebih melelahkan dibandingkan fokus pada satu tugas.
“Yang kita lakukan itu bukan multitasking, tapi rapid switching tasking. Itu menguras energi otak,” jelasnya.
Dampaknya, kemampuan atensi atau fokus menurun. Otak menjadi lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan memicu kondisi brain fog atau kabut mental.
Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan scrolling tanpa tujuan memperpendek attention span, sehingga memengaruhi kemampuan berpikir mendalam, memahami informasi, hingga berkomunikasi.
“Scrolling unmindfully itu merusak otak kita secara perlahan,” tegasnya.
Untuk mengatasinya, penggunaan media sosial perlu dikontrol dan tidak dijadikan pelarian saat merasa bosan.
“Konsumsi media sosial yang ideal bukan ketika kita bosan langsung membuka. Buat disiplin, satu hari satu jam maksimal cukup,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memberi jeda bagi otak untuk beristirahat, termasuk dengan membiarkan diri “bengong” sejenak tanpa distraksi.
Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, kemampuan untuk berhenti justru menjadi kekuatan. Bukan soal seberapa cepat dalam mengakses informasi, tapi seberapa bijak dalam memberi ruang bagi otak untuk bernapas karena dari situlah fokus, kejernihan, dan kualitas berpikir benar-benar terbentuk. (*)
