KETIK, SURABAYA – Suasana campur aduk tengah dialami seorang Jemaah Calon Haji (JCH) 2026, Siti Romlah. Di satu sisi, ia bahagia lantaran doa-doanya untuk bisa berangkat menjadi tamu Allah di Tanah Suci terkabul. Di sisi lain, ia harus pergi tanpa didampingi sang suami.
Perjalanan JCH asal Surabaya ini untuk bisa berangkat haji penuh haru. Ia harus menyisihkan uang hasil kerjanya sebagai pedagang daging di Pasar Setro Makmur selama 14 tahun.
"Saya sehari-hari jualan daging di pasar. Berangkat subuh sampai siang biasanya di pasar. Sehari jualan daging 15–20 kilogram. Pokoknya kalau habis dagingnya, pulang," katanya, Sabtu, 25 April 2026.
Ketekunannya menabung akhirnya berbuah hasil. Ia mendapatkan kesempatan berhaji dan berangkat ke Tanah Suci bersama anaknya. Sementara itu, suaminya telah meninggal dunia pada 25 April 2022.
Ia menceritakan, awal mula keinginannya berhaji berawal dari ucapan polos anaknya saat duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, anaknya ingin pergi ke Tanah Suci setelah melihat Ka'bah.
"Bilang ke bapaknya begitu. Kemudian suami saya mendaftar haji. Dikumpulkan sedikit-sedikit uang dari jualan. Ada Rp25 ribu ditabung, ada Rp50 ribu ditabung," kenangnya.
Namun, saat gilirannya berangkat ke Tanah Suci tiba, sang suami telah meninggal dunia.
"Suami saya meninggal, akhirnya digantikan oleh anak saya yang terakhir. Ya sedih tidak bisa ibadah haji sama suami. Tapi ini takdir, bismillah lancar dan didampingi anak saya," tuturnya.
Romlah yang tergabung dalam kloter 18 telah melakukan persiapan fisik dan mental selama dua minggu terakhir. Ia dijadwalkan masuk Asrama Haji Embarkasi Surabaya hari ini. (*)
