KETIK, SLEMAN – Malam di Kapanewon Gamping mendadak riuh dan penuh warna. Ratusan warga tumpah ruah di sepanjang jalan untuk menyaksikan jalannya Upacara Adat Suran Mbah Demang yang berpusat di halaman Kantor Kalurahan Banyuraden, Sleman.
Suasana kian istimewa dengan kehadiran Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang tidak hanya membuka acara tetapi juga melebur bersama masyarakat mengikuti seluruh prosesi budaya tersebut.
Kehadiran orang nomor dua di Sleman ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam merawat kearifan lokal yang sarat nilai sejarah.
Upacara adat yang rutin digelar setiap memasuki bulan Sura dalam penanggalan Jawa ini merupakan bentuk penghormatan serta refleksi atas perjuangan leluhur, Ki Demang Cokrodikromo. Tokoh legendaris tersebut dikenal memiliki kontribusi besar dalam sejarah spiritual dan sosial kemasyarakatan di wilayah Banyuraden.
Melalui momentum ini, masyarakat diajak kembali meneladani sifat welas asih dan keluhuran budi sang tokoh yang semasa hidupnya dikenal sangat memuliakan tamu. Ki Demang selalu menyambut siapa saja tanpa pandang bulu dengan suguhan khas berupa air minum dalam kendi ijem serta hidangan sekul gudhangan berlauk ketan tholo yang dibungkus daun pisang.
Penguatan Nilai Handarbeni
Rangkaian acara malam itu, Selasa 23 Juni 2026, dimeriahkan oleh Kirab Budaya yang mengular panjang. Defile kirab menampilkan barisan Bregada Keprajuritan tradisional yang gagah, berbagai atraksi kesenian rakyat yang memukau, gunungan hasil bumi yang melimpah, hingga arak-arakan ogoh-ogoh yang menarik perhatian. Tanpa canggung, Danang Maharsa turut berjalan kaki bersama warga menyusuri rute kirab menuju Sumur Petilasan Mbah Demang.
Wabup Danang Maharsa menyampaikan pentingnya menjaga nilai spiritual dan budaya lokal didampingi oleh Lurah Banyuraden, Sudarisman (kanan). Acara tahunan yang dihadiri berbagai lapisan masyarakat ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memantik rasa kepemilikan generasi muda terhadap warisan leluhur. (Foto: Pemkab Sleman for Ketik.com)
Dalam sambutannya, Danang Maharsa menyampaikan bahwa Upacara Adat Suran Mbah Demang bukan sekadar tradisi tahunan biasa.
Menurutnya, agenda ini memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang luhur sebagai warisan yang wajib dijaga bersama. Selain sebagai sarana hiburan, acara ini terbukti ampuh mempererat tali silaturahmi sekaligus memantik rasa kepemilikan (handarbeni) generasi muda terhadap budaya Jawa. Salah satu wujud nyatanya adalah komitmen bersama untuk menjaga kelestarian Sumur Petilasan Mbah Demang agar terus mengalirkan air bagi kemaslahatan warga.
Danang juga menyatakan rasa bangganya atas konsistensi warga Banyuraden yang merawat tradisi ini melalui semangat gotong royong yang kental. Terlebih lagi, Kirab Suran Mbah Demang memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata daerah.
Event ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2016, serta telah masuk ke dalam kalender event kebudayaan resmi Kabupaten Sleman.
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, Danang mengingatkan bahwa budaya lokal harus menjadi fondasi yang kuat agar masyarakat tidak kehilangan jati diri bangsa.
Gotong Royong dan Sinergi di Balik Layar
Keberhasilan acara yang berlangsung megah dan tertib ini tentu tidak lepas dari persiapan matang di balik layar. Jauh sebelum hari pelaksanaan, Panitia Pelaksana telah menggelar rapat koordinasi dan Technical Meeting sebanyak dua kali dalam sepekan.
Pertemuan intensif tersebut melibatkan Pemerintah Kalurahan Banyuraden, Keluarga Trah Mbah Demang, serta berbagai unsur pengamanan dan medis seperti Polresta Sleman, Polsek dan Danramil Gamping, Puskesmas Gamping II, PMI, Satlinmas, Destana, Jagawarga, TRC Gamping, hingga relawan lokal.
Carik Banyuraden, Hendy Indra U, sempat menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh penggiat seni dan budaya yang tetap berpartisipasi penuh meski di tengah keterbatasan anggaran. Sinergi yang kuat antara seluruh elemen masyarakat, peserta kirab, dan petugas keamanan akhirnya membuahkan hasil manis.
Melalui deklarasi bersama untuk menjaga ketertiban, seluruh rangkaian upacara adat yang juga dihadiri oleh Panewu Gamping, Lurah Banyuraden, serta jajaran sesepuh ini berjalan dengan sukses, aman, dan meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. (*)
.png)