Terima Beasiswa untuk Anak Yatim, Ibu Tunggal asal Sidoarjo: Terima Kasih Pak Bupati Subandi

10 Juli 2026 09:59 10 Jul 2026 09:59

Fathur Roziq

Editor
Thumbnail Terima Beasiswa untuk Anak Yatim, Ibu Tunggal asal Sidoarjo: Terima Kasih Pak Bupati Subandi

Azriel Alfarizqi bersama sang kakak, Reta Desfiani, hadir di Mall Pelayanan Publik Sidoarjo untuk menerima beasiswa anak yatim dari Bupati Subandi pada Kamis (9 Juli 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

KETIK, SIDOARJO – Penyerahan beasiswa pendidikan dari Pemkab Sidoarjo disambut sukacita ribuan penerimanya. Para orang tua bersyukur menerima uluran tangan dari pemerintah untuk anak-anak mereka agar bisa melanjutkan sekolah dan kuliah. Para ibu tunggal atau janda pun begitu bahagia.

Wajah Siti Nurjannah terlihat berseri-seri. Kamis pagi (9 Juli 2026), perempuan 42 tahun itu mengantar putrinya, Erlita Arsita Yumna, hadir ke Mall Pelayanan Publik atau MPP Sidoarjo. Bocah yatim itu dapat beasiswa dan sedang asyik berkumpul dengan teman-temannya. Ceria.

”Alhamdullillah, Pak. Anak baru masuk kelas IV, dapat beasiswa,” ucap Nurjannah kepada Ketik.com yang menemuinya sebelum penyerahan beasiswa dimulai.

Di pangkuannya, tampak Aira, menggelayut manja. Balita 3,5 tahun tersebut adalah anak terakhir Nurjannah dari almarhum suaminya, M. Chilmi Anshori. Dua anak mereka lainnya sedang berada di rumah.

”Saya ditinggali empat anak dari suami,” tambah Nurjannah yang menjanda sejak setahun lalu.

Ibu tunggal itu kini tinggal di Dusun Nyamplung, Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Sehari-hari, Nurjannah mencari nafkah dengan berjualan makanan ringan. Dia bikin cilok dan cireng. Hasilnya sekitar Rp 100 ribu per hari dengan modal yang terus diputar.

Dari hasil berjualan cilok dan cireng buatan sendiri itulah Nurjannah menghidupi keempat anaknya. Erlita adalah anak kedua dan bersekolah di MI Thoriqus Salam, Sepande. Kakaknya yang bernama Thalia kuliah masuk ke Unusida Sidoarjo. Perlu biaya juga.

Foto Nurjannah, ibu tunggal asal Desa Sepande, mengantar putrinya, Erlita Arsita, untuk menerima beasiswa anak yatim sambil menggendong anak bungsunya, Aira. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)Nurjannah, ibu tunggal asal Desa Sepande, mengantar putrinya, Erlita Arsita, untuk menerima beasiswa anak yatim sambil menggendong anak bungsunya, Aira. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Bagi Nurjannah, beasiswa anak yatim dari Pemkab Sidoarjo sangat membantu dirinya. Dia tak membayangkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung jika membiayai sendiri sekolah anak-anaknya.

”Maturnuwun Pak Bupati dan Bu Wakil Bupati. Anak saya dibantu beasiswa,” tutur Nurjannah.

Tidak hanya Nurjannah dan anak-anaknya.  Kegembiraan juga dirasakan oleh keluarga Azriel Alfarizqi. Murid Kelas II SDN Sidokerto, Buduran, Sidoarjo, itu juga menerima beasiswa anak yatim dari Pemkab Sidoarjo.

Kamis pagi itu, Azriel diantar oleh kakaknya, Reta Desfiani. Gadis 25 tahun itu mewakili sang ibu, Ani Mariyani, yang tidak bisa mendampingi Azriel untuk menerima beasiswa.

”Ibu harus jaga warung di rumah,” kata Reta Desfiani.

Mereka tiga bersaudara menjadi yatim sejak setahun lalu. Reta memilih tidak berkuliah. Dia kini bekerja sebagai penunggu toko roti di Buduran. Seorang adiknya lagi masih bersekolah di SMK Negeri 3 Sidoarjo atau dulu STM Perkapalan Sidoarjo.

Sambil menunggu acara penyerahan beasiswa, Azriel selalu duduk di samping Reta. Bocah laki-laki itu terlihat ceria. Ketika ditanya ingin bercita-cita menjadi siapa, Azriel dengan lantang menjawab.

”Mau jadi tentara.”

Foto Nurjannah bersalaman dengan Bupati Subandi dan mengucapkan terima kasih karena putrinya dapat beasiswa anak yatim. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)Nurjannah bersalaman dengan Bupati Subandi dan mengucapkan terima kasih karena putrinya dapat beasiswa anak yatim. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Cerita Masa Kecil Bupati Subandi 

Bupati Subandi merespons kebahagiaan para penerima beasiswa anak yatim dari Pemkab Sidoarjo tersebut. Dia bercerita. Selama ini, secara pribadi, menjadi bapak asuh bagi setidaknya 150 anak yatim di Desa Pabean, Kecamatan Sedati. Pendidikan mereka diperhatikan.

Dia mengajak semua pihak untuk selalu memperhatikan anak-anak yatim di Sidoarjo. Beri kesempatan mereka masuk sekolah negeri. Meski tidak ada ibu, mereka masih bisa sekolah. Walaupun sudah tidak punya ayah, harus tetap dipastikan mereka bisa melanjutkan sekolah. Jangan sampai ada anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya. 

”Mari kita kawal bersama,” ungkap bupati yang juga ayah dua anak itu. 

Membantu anak yatim tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan uang. Misalnya Rp 150 ribu. Sebab, pendidikan mereka jauh lebih penting untuk masa depan. Jangan sampai ada anak yatim yang telantar karena tidak punya biaya. Jadi, beasiswa anak yatim sangat penting.   

Kepada anak-anak yatim, Bupati Subandi memberikan semangat agar anak-anak yatim itu tekun belajar demi mencapai cita-cita. Apa pun kondisinya. Sewaktu kecil, lanjut Bupati Subandi yang lahir di Kediri ini, dirinya ikut kakaknya di Pabean Sedati.

Sejak kelas VIII atau II SMP, dia membantu kakak berjualan ayam potong. Tidur 4 jam di malam hari dan 4 jam di siang hari. Karena bekerja pagi dan malam. Pekerjaan itu terus ditekuni sampai dirinya remaja dan duduk di bangku SMA. Sekolah sambil bekerja.  

”Sejak kecil saya sudah bekerja membantu kakak. Sambil sekolah,” ungkapnya.

Jadi, jangan melihat Subandi yang sekarang menjadi bupati. Rumahnya besar. Bahkan, banyak yang menganggap Subandi sebagai bupati terkaya di Jawa Timur. Perjuangan sejak kecil tidaklah mudah. Tak bisa santai-santai. Rebahan dan main HP di kasur. Untuk sukses dibutuhkan semangat belajar yang tinggi. Kerja keras, jujur, dan tekun.

Setelah lulus, para penerima beasiswa harus mampu membantu orang tua. Mengangkat nasib keluarga. Penerima beasiswa anak yatim dan lainnya harus lulus dengan prestasi yang terbaik. Tidak boleh santai-santai.

Panjenengan semua, penerima beasiswa, saya berharap teruslah belajar dengan semangat,” tegas Bupati Subandi. (*)

Tombol Google News

Tags:

Bupati Subandi Beasiswa Anak Yatim Pemkab Sidoarjo Beasiswa Pemkab Sidoarjo Mall Pelayanan Publik