KETIK, PACITAN – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 mulai mengubah pola konsumsi bahan bakar masyarakat di Kabupaten Pacitan.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mencatat peningkatan antrean pada jalur pengisian Pertalite, sementara jalur Pertamax terlihat lebih lengang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Pantauan Ketik.com di SPBU Mentoro pada Jumat, 12 Juni 2026, menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular di dispenser Pertalite.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan jalur pengisian Pertamax yang tampak sepi.
Perubahan itu terjadi setelah harga Pertamax mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu, harga Pertalite tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter.
Sejumlah pengendara mengaku memilih beralih ke Pertalite demi mengurangi beban pengeluaran harian.
Salah satunya Heru Nur Cahyono (27), warga Kecamatan Pacitan, yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax untuk aktivitas sehari-hari.
“Sebelumnya saya selalu isi Pertamax. Tapi setelah harganya naik, saya memilih Pertalite karena lebih terjangkau. Yang penting kendaraan tetap bisa digunakan untuk bekerja,” ujarnya.
Menurut Heru, selisih harga yang cukup jauh membuat banyak pengguna kendaraan mempertimbangkan kembali penggunaan BBM nonsubsidi, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menuntut efisiensi pengeluaran rumah tangga.
Fenomena serupa terlihat dari aktivitas di sejumlah SPBU lainnya.
Pengguna Pertalite tampak mendominasi antrean, sementara jumlah konsumen Pertamax menurun dibandingkan sebelum kebijakan penyesuaian harga diberlakukan.
Seorang petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya perubahan pola pembelian BBM sejak harga Pertamax naik.
“Pembeli Pertamax berkurang dibandingkan sebelumnya. Sekarang lebih banyak yang memilih Pertalite karena selisih harganya cukup jauh,” katanya.
Kenaikan harga Pertamax merupakan bagian dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan Pertamina Patra Niaga secara nasional mulai 10 Juni 2026.
Di sisi lain, Pertalite sebagai BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga.
Perbedaan harga yang mencapai Rp6.250 per liter antara Pertamax dan Pertalite dinilai menjadi faktor utama yang mendorong pergeseran pilihan konsumen.
Akibatnya, jalur pengisian Pertalite kini menjadi lebih padat, sedangkan dispenser Pertamax relatif lebih sepi dibandingkan sebelumnya.
Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlangsung selama harga kedua jenis BBM masih terpaut cukup jauh dan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.(*)
.png)