KETIK, PACITAN – Kasus antraks yang menyerang ternak di Dusun Janglot, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan memunculkan fakta baru.
Dari total delapan ternak yang mati, salah satu sapi yang belakangan diketahui positif antraks ternyata sempat dijual sebelum hasil laboratorium keluar.
Meski demikian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan antraks pada manusia.
Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, mengungkapkan berdasarkan hasil penelusuran petugas di lapangan, sapi yang mati pada awal kejadian sempat dijual oleh pemiliknya.
Sementara ternak yang mati belakangan langsung ditangani sesuai prosedur dengan cara dikubur.
"Informasinya kemarin yang mati awal itu masih dijual (sapi), tetapi yang terakhir kemarin sudah tidak, langsung dikubur," kata Sugeng Santoso kepada Ketik.com, Senin, 22 Juni 2026.
Kasus kematian ternak di Dusun Janglot sendiri telah dipastikan akibat antraks setelah sampel diperiksa oleh Balai Besar Veteriner Wates.
Total terdapat delapan ternak yang mati, terdiri dari tiga ekor sapi dan lima ekor kambing.
Menurut Sugeng, risiko penularan antraks memang dapat terjadi kepada manusia apabila mengonsumsi atau melakukan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Namun, hingga kini belum ada laporan warga yang menunjukkan gejala tertular penyakit tersebut.
"Efeknya kalau termakan bisa menular ke manusia kalau antraks. Tapi kalau saat ini insyaallah tidak ada kasus di manusia," ujarnya.
Ia menjelaskan, ancaman terbesar justru bukan saat daging sudah dimasak matang, melainkan ketika proses penyembelihan dan pemotongan hewan berlangsung.
Pada fase tersebut, manusia berpotensi bersentuhan langsung dengan darah maupun cairan tubuh hewan yang mengandung bakteri antraks.
"Sebetulnya ketika sudah dimasak matang dan benar-benar matang itu kemungkinan juga mati. Yang dikhawatirkan itu saat proses penyembelihan dan pemotongan karena ada kontak manusia dengan darah," jelasnya.
Meski demikian, Sugeng mengatakan risiko tersebut dapat ditekan apabila masyarakat menerapkan kebersihan dengan baik setelah kontak dengan hewan.
"Setelah itu dicuci bersih menggunakan sabun, insyaallah juga hilang," tambahnya.
DKPP mengaku sejak awal telah mengedukasi masyarakat agar tidak mengonsumsi ternak yang mati mendadak dan belum diketahui penyebab kematiannya.
"Itu memang tidak boleh dimakan. Kami selalu mengingatkan kalau ada kematian ternak dan belum diketahui penyebabnya, lebih baik jangan dikonsumsi," tegasnya.
Sementara itu, penanganan di Dusun Janglot terus dilakukan.
Seluruh ternak yang masih sehat telah mendapatkan vitamin, pengobatan, serta penyemprotan disinfektan di area kandang.
Sugeng menyebut kondisi di lapangan saat ini mulai terkendali dan belum ditemukan tambahan kasus kematian baru.
"Insyaallah tidak ada penambahan. Harapannya memang tidak ada lagi," katanya.
Pekan depan, DKPP juga akan melanjutkan vaksinasi ulang terhadap ternak di wilayah terdampak setelah masa observasi dua pekan pascapenanganan selesai dilakukan.
"Minggu depan akan dilakukan vaksinasi lagi khususnya di wilayah terdampak dan nanti dilanjutkan ke seluruh desa," ujarnya.
Terkait sumber penularan, DKPP menduga tingginya mobilitas ternak antarwilayah menjadi faktor utama penyebaran penyakit.
Namun pemerintah tidak ingin menyalahkan daerah tertentu dan meminta masyarakat tetap tenang agar aktivitas ekonomi peternak tidak terganggu.
"Indikasinya memang karena mobilitas ternak dari satu pasar hewan ke pasar hewan lainnya," pungkas Sugeng.(*)
.png)