KETIK, PACITAN – Ratusan proyek irigasi perpompaan disiapkan di Kabupaten Pacitan.
Program tersebut menyasar 131 kelompok tani dengan total anggaran sekitar Rp20,043 miliar.
Masing-masing kelompok tani mendapatkan alokasi Rp153 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Susilo Budi, mengatakan dari 131 titik tersebut, sebanyak 11 kelompok tani menggunakan sumber air dari sungai.
Sementara 120 kelompok tani lainnya memanfaatkan sumber air tanah melalui pengeboran.
“Yang 11 itu pengambilannya dari sungai, yang 120 dari pengeboran air tanah. Ini dari APBN, masing-masing Rp153 juta per titik,” kata Susilo kepada Ketik.com, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya berupa pompa air.
Anggaran Rp153 juta per kelompok tani digunakan untuk membangun sejumlah komponen pendukung sistem irigasi, mulai dari bangunan pengambilan air, pompa, instalasi listrik, rumah panel, tangki atau tampungan air, hingga jaringan distribusi menuju lahan pertanian.
“Itu wujudnya bangunan, pengambilan airnya bisa dari sungai atau pengeboran,” jelasnya.
Untuk sumber air tanah, sumur bor yang dibangun memiliki kedalaman rata-rata sekitar 60 meter.
Sementara pompa yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokasi.
“Pacitan masuk kategori pompa submersibel dengan dimensi 1,5 sampai 3 HP. Untuk distribusi air ke lahan pertanian dipakai pipa diameter 1,5 sampai 2 inci karena menyesuaikan anggaran,” ujarnya.
Program tersebut dilaksanakan melalui sistem swakelola atau padat karya.
Dana bantuan disalurkan langsung ke rekening kelompok tani untuk kemudian dikelola dan dikerjakan oleh kelompok penerima sesuai ketentuan program.
Susilo mengatakan, berdasarkan perjanjian kerja sama, pelaksanaan program ditargetkan selesai hingga akhir Desember 2026.
Namun, DKPP Pacitan mendorong agar pengerjaan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga fasilitas tersebut segera dimanfaatkan petani.
“Kalau secara perjanjian kerja sama itu sampai dengan akhir Desember, tapi kami enggak mau menunggu sampai dengan itu,” katanya.
Percepatan pembangunan dinilai penting mengingat kebutuhan air untuk pertanian berpotensi meningkat apabila musim kemarau berlangsung panjang.
DKPP Pacitan sendiri tetap mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman kekeringan.
“Kita tetap ikut prediksi BMKG. Yang jelas, diperkirakan kan ini akan panjang juga,” ucap Susilo.
Keberadaan irigasi perpompaan tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk membuka penanaman baru, tetapi juga menjadi salah satu upaya menyelamatkan tanaman yang sudah ditanam ketika pasokan air mulai menurun.
“Harapan kami pelaksanaan yang irigasi perpompaan itu bisa segera selesai, jadi bisa setidaknya mengantisipasi kalau ada perluasan kekeringan,” pungkasnya.(*)
