“Siapa yang bergerak akan makan, siapa yang rajin-tekun akan menanak nasi” Itulah kira-kira terjemahan dari judul di atas. Dapat juga dimaknai: kerja keras, kemandirian, kreativitas, dan tanggung jawab terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Adalah sebuah taktik bertahan hidup yang diwariskan oleh kakek-nenek leluhur Jawa.
Ketika harga sembako naik, kesempatan kerja sempit, dan tuntutan hidup semakin banyak, maka petuah bijak dari leluhur Jawa tersebut menemukan hubungannya. Dalam situasi dan kondisi yang demikian, semua persoalan tidak bisa hanya diselesaikan dengan keluhan-sambatan saja. Manusia diwajibkan ikhtiar dan berusaha dengan segenap akal-budi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia dituntut untuk obah dan sekaligus, ubet.
Obah, bukan hanya bergerak secara fisik, melainkan bangkit dari ketiadaan dan keterbatasan. Tidak menyerah pada nasib, tidak “merelakan diri” menyerah pada kemalasan dan ketakutan. Sementara ubet, lebih condong kepada cerdik. Cerdik mencari peluang baru, cerdik mencari jalan keluar dari masalah dan persoalan yang sedang dihadapi. Selain itu, kreatif dalam mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sumber penghidupan.
Kalau kita jeli, petuah tersebut sejatinya mengajarkan kepada kita tentang etos kerja. Orang yang mau berusaha dan berikhtiar akan mendapatkan hasil. Lanjut, orang yang kreatif, tidak mudah putus asa akan punya peluang dan kesempatan besar untuk bisa bertahan hidup. “Usaha Tidak Akan Mengkhianati Hasil”. Hukum kausalitas atau hukum sebab-akibat, berlaku.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang tidak bisa membaca peluang dan kesempatan yang muncul. Sering kali, manusia abai atau menganggap remeh ketika peluang dan kesempatan datang. Ia tidak menyadari bahwa peluang dan kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Ia tidak segera bertindak untuk memanfaatkannya. Sebetulnya, dengan keterampilan sederhana pun, ia akan mendapatkan pendapatan jika ditekuni secara serius.
Falsafah Jawa itu mengajarkan, bahwa kehidupan harus dihadapi dengan obah. Yang harus pertama kali dilakukan adalah bergerak. Yang kedua adalah mencari jalan kemudian. Tidak harus menunggu semuanya sempurna terlebih dulu. Kenyataannya adalah hidup tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan tidak selalu-tidak pernah datang di awal perjalanan. Sekali lagi, pertama kali yang harus dilakukan adalah bergerak.
Kita tidak hanya dituntut obah saja, tetapi juga ubet. Bergerak saja tidaklah cukup, namun harus dengan taktik yang tepat. Semua orang bolehlah bekerja dengan keras sepanjang hari, tetapi kalau tidak mempunyai cara yang tepat atau taktik yang jitu, hasilnya mungkin tetap kecil. Sebaliknya, seseorang yang mampu membaca peluang dan kesempatan serta bekerja dengan cerdik-cerdas, ia akan mendapatkan hasil yang lebih besar dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.
Yang perlu juga diperhatikan adalah, ketika satu pintu tertutup, ia haruslah dengan segera mencari pintu lain. Ketika cara lama tidak dapat digunakan, ia wajib belajar dengan cara yang baru. Dan ketika usaha yang utama belum bisa menopang kehidupan, ia segera bertindak untuk mencari peluang tambahan tanpa meninggalkan usaha sebelumnya.
Kakek-nenek moyang kita, mungkin tidak mengenal apa itu kewirausahaan. Apa itu entrepreneurship. Tetapi pandangan hidup sing obah mamah, sing ubet ngliwet, telah mengajarkan semangat yang sangat mirip: jangan hanya mengandalkan satu jalan kehidupan. “Banyak Jalan Menuju Roma”. Pendek kata: banyak jalan menuju kesuksesan dan keberhasilan.
Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang rakyatnya terbiasa meminta. Namun bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya punya kemampuan untuk menciptakan nilai. Rakyat perlu didorong menjadi produsen, bukan hanya konsumen. Petani dan nelayan tidak hanya sekadar menjual hasil panen mentah, tetapi juga harus mampu mengolahnya menjadi produk yang punya nilai tambah. Rakyat tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pengembang teknologi, pelaku ekonomi kreatif, serta pengusaha digital. Disinilah ubet menjadi kekuatan dan modal sosial.
Saya tegaskan dalam tulisan opini ini, bahwa jangan sampai rakyat diminta obah dan ubet tanpa kehadiran pemerintah. Jangan sampai rakyat diminta obah dan ubet, tetapi “atmosfer” ekonominya justru penuh hambatan. Ijin usaha harus mudah-sederhana (tidak ruwet-njlimet), modal usaha terakses luas bagi siapa pun, infrastruktur beres dan yang tak kalah penting adalah hukum harus bisa memberikan keadilan serta kepastian. Rakyat memang harus bekerja keras dan cerdik-cerdas, namun negara juga wajib hadir dengan menciptakan ekosistem yang memberikan peluang dan potensi untuk terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan.
Satu hal yang menjadi titik tekan adalah, sing obah mamah, bukan berarti manusia harus bekerja tanpa kenal batas. Justru, manusia harus mengenal batas kemampuan diri. Dalam hal ini, kerja keras tidak sama dengan mengeksploitasi diri. Begitu pula dengan ubet. Tidak boleh diartikan sebagai menghalalkan segala cara. Ia tidak boleh juga diterjemahkan licik. Ubet bukanlah licik dan ubet bukanlah manipulatif. Ubet adalah kreatif, cerdik-cerdas mencari jalan tanpa kehilangan etika serta moral.
Kelicikan dapat terjadi tatkala kecerdikan yang ada tanpa dilandasi oleh etika dan moral. Kerja keras berubah menjadi penghisapan ketika tidak didasari oleh empati, dan kecerdikan-kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat menjadi sumber kehancuran dan kerusakan. Dengan demikian, obah dan ubet harus dilambari dengan etika-moral, empati, dan tanggung jawab
Rezeki harus dijemput dengan kaki yang mau melangkah, tangan yang mau bekerja, dan otak yang mau berpikir. Jangan malas, jangan mudah menyerah dan jangan hanya menunggu. Bergeraklah meskipun lambat dan yakinlah, suatu saat pasti sampai. Berusahalah dengan segenap hati dan pikiran. Pandai-padailah membaca peluang serta kesempatan yang ada. Dan, tetaplah di jalan yang benar. Itulah warisan petuah bijak Jawa yang sebenarnya: obah untuk bertahan hidup dan ubet untuk mengembangkan kehidupan.
“Majulah bangsaku, Jayalah negeriku!” (*)
*) Erry Himawan merupakan “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk Program Studi Manajemen dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI)
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
