Di tengah suhu sosial politik nasional yang belakangan terasa panas oleh berbagai aksi unjuk rasa di sejumlah daerah, hadirnya kegiatan Bakti Indonesia: Gerakan Derma Sosial dalam Keberagaman Indonesia menjadi kabar yang menyejukkan.
Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Bakti Keberagaman Indonesia (YBKI) di bawah kepemimpinan Ibu Mulia Jayaputri ini bukan sekadar acara sosial biasa. Ia adalah pesan moral, pesan kemanusiaan, sekaligus pesan kebangsaan yang menjawab dahaga sosial saat ini.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, pada 6, 7, dan 8 Agustus 2026, di Klenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Memilih tempat di Klenteng tentu bukan secara kebetulan.
Klenteng sebagai ruang budaya, sejarah, spiritualitas, dan keberagaman menjadi panggung indah untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia hanya akan kuat bila seluruh anak bangsanya saling peduli, saling menghormati, dan saling membantu tanpa memandang perbedaan agama, etnis, budaya, maupun latar belakang sosial.
Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia yang tidak hanya bicara toleransi di mimbar-mimbar resmi, tetapi menghadirkannya dalam bentuk pelayanan sosial, pemeriksaan kesehatan gratis, dialog kemanusiaan, dan gerakan berbagi kepada sesama.
Selama tiga hari kegiatan, masyarakat dapat mengikuti berbagai layanan dan acara bermanfaat, mulai dari pemeriksaan gigi gratis, medical check up, konsultasi dokter umum, pemeriksaan mata, pemeriksaan jantung, hingga deteksi dini kanker payudara.
Semua ini adalah kebutuhan nyata rakyat. Mereka dahaga sentuhan dan mereka haus kepedulian.
Bagi banyak warga, akses terhadap layanan kesehatan sering kali masih menjadi beban.
Ada yang menunda berobat karena biaya. Ada yang tidak sempat memeriksa kondisi tubuhnya karena keterbatasan ekonomi. Ada pula yang tidak menyadari penyakitnya karena tidak pernah mendapatkan pemeriksaan dini.
Karena itu, apa yang dilakukan YBKI patut diapresiasi. Ini bukan hanya bantuan sosial, tetapi juga bentuk penyelamatan kemanusiaan. Dalam banyak kasus, pemeriksaan dini bisa menyelamatkan nyawa.
Pemeriksaan mata bisa mengembalikan harapan. Pemeriksaan jantung bisa mencegah risiko besar. Deteksi dini kanker payudara bisa menjadi awal dari keselamatan seorang ibu, seorang istri, dan seorang anak perempuan.
Kegiatan ini juga semakin hidup karena dikemas dengan pendekatan yang hangat, populer, dan komunikatif. Ada talkshow dan health talk yang dimeriahkan artis-artis ibu kota seperti Aldi Taher, Fatur, Paramitha Rusady, Sania, dan sejumlah figur publik lainnya.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menghadirkan tokoh-tokoh pemikir dan budayawan seperti Sujiwo Tejo dan Inayah Wahid. Keduanya dikenal sebagai figur yang memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan kebangsaan, kemanusiaan, toleransi, dan keberagaman.
Di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh perbedaan pilihan politik, agama, identitas, dan kepentingan, suara-suara seperti ini sangat dibutuhkan.
Selain itu, hadir pula para pakar di bidangnya masing-masing, seperti Dr. Riamiyati, Peter Nelwan, yang dikenal sebagai psikolog, serta narasumber lain yang memperkaya kegiatan ini dengan perspektif keilmuan, kesehatan mental, dan kepedulian sosial.
Ini penting, karena problem bangsa hari ini bukan hanya soal ekonomi dan politik, tetapi juga soal kesehatan batin, ketegangan sosial, kegelisahan publik, dan menurunnya rasa saling percaya.
Dalam konteks itulah, Bakti Indonesia dapat dibaca sebagai gerakan yang mengisi ruang kosong itu. Ketika sebagian masyarakat mulai lelah dengan hiruk-pikuk politik, saling curiga, saling serang, dan saling menyalahkan, YBKI hadir dengan bahasa yang sederhana tetapi sangat kuat: berbagi.
Berbagi adalah bahasa universal yang mudah dipahami siapa saja, melampaui sekat politik, agama dan suku. Orang lapar tidak bertanya apa agama pemberi makan. Orang sakit tidak bertanya apa pilihan politik dokter yang memeriksanya. Yang mereka rasakan hanyalah satu: masih ada orang baik yang peduli.
Dalam konteks inilah, Ibu Mulia Jaya Putri dan YBKI-nya telah memberi contoh penting. Bahwa mencintai Indonesia tidak harus selalu dilakukan lewat pidato besar, jabatan politik, atau panggung kekuasaan. Mencintai Indonesia juga bisa dilakukan dengan program nyata.(*)
*) Toto Izul Fatah, adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
