KETIK, MALANG – Siapa yang belum pernah ke Pasar Oro-Oro Dowo? Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke Malang pasti pernah mampir ke pasar yang telah berdiri sejak zaman Belanda ini. Saking tuanya usia bangunan, bagian depan pasar tidak dapat direvitalisasi secara menyeluruh karena berstatus sebagai cagar budaya.
Pasar yang terletak di Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, ini merupakan peninggalan kolonial Belanda yang berdiri sejak tahun 1932.
Pasar Oro-Oro Dowo, atau yang biasa disebut Pasar OOD, sempat direvitalisasi pada tahun 2017. Namun, pelaksanaannya hanya menyasar area dalam pasar, sedangkan bagian depan tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya karena berstatus sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang.
"Bagian depan bangunan itu sudah ada sejak zaman Belanda, tahun 1932. Jadi tidak boleh dibongkar atau direnovasi, hanya boleh dibersihkan," ungkap Fitri Nur Hayati, Pengelola Pasar Oro-Oro Dowo, saat diwawancarai tim Ketik pada 22 Juli 2026.
Bagian depan pasar masih sangat kental dengan nuansa kuno. Beberapa kios masih menggunakan material kayu tanpa rolling door, dengan fondasi bagian bawah dari batu serta plafon yang masih berbahan kayu asli.
Para pedagang yang menempati bangunan lama pun terus diimbau agar tidak sembarangan mengganti rolling door demi menjaga keaslian bangunan, meski untuk menunjang kenyamanan usaha mereka. Beberapa kios yang masih mempertahankan bentuk aslinya antara lain Bagoplek (Bakso Goreng Plek), Kopi Panca, Kedai Kopi Mbok Bawel, dan masih banyak lagi.
Bagi kamu yang belum pernah merasakan pengalaman berbelanja di pasar ini, yuk ramaikan Pasar Oro-Oro Dowo sambil mencicipi beragam kuliner legendaris yang telah menjadi bagian dari sejarah Kota Malang.
