Soroti Alih Lahan Jadi Vila, Akademisi UMM Sentil Pembangunan Kota Batu Abaikan Ekologi

18 Oktober 2026 04:00 18 Okt 2026 04:00

Nurul Aliyah, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Soroti Alih Lahan Jadi Vila, Akademisi UMM Sentil Pembangunan Kota Batu Abaikan Ekologi

Alun-alun Kota Batu yang menjadi ikon kota wisata. (Foto: Dafa/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti kondisi ekologi Kota Batu yang kian dikhawatirkan. Alih fungsi lahan untuk pembangunan hotel dan vila tanpa melakukan reboisasi atau korestasi akan menyebabkan terjadinya bencana alam.

Ketua Program Studi Magister Sosiologi Pascasarjana UMM, Rachmad K. Dwi Susilo, M.A. Ph.D., melihat Kota Batu memiliki banyak kelompok pecinta lingkungan. Kelompok ini dibentuk tentunya untuk menjaga kelestarian alam di Kota Batu yang telah menjadi ikon.

Ia menyampaikan bahwa upaya mengembangkan Kota Batu menjadi kota otonom membuat pembangunan-pembangunan tidak memperhatikan ekologi, mulai dari penebangan pohon semena-mena, hingga ekosistem hutan Panderman tidak terjaga.

Ia mengungkapkan kekhawatiran ketika terjadi alih fungsi lahan menjadi hotel atau villa yang kerap terjadi tanpa melakukan kegiatan reboisasi atau korestasi di Kota Batu. Persoalan ini terus disuarakan hingga saat ini, tetapi tidak ada perubahan ekologis lebih signifikan. 

Rachmad juga mengingatkan akan bencana banjir bandang yang terjadi di Kota Batu. Menurutnya, pemerintah dan seluruh masyarakat Kota Batu perlu memaknai kejadian banjir bandang pada November 2021 sebagai pelajaran. 

"Alih fungsi lahan menjadi hotel, kemudian menjadi villa, kemudian tidak ada kegiatan reboisasi atau korestasi. Sehingga yang gundul-gundul itu kan dibiarkan begitu saja, gitu. Padahal peristiwa November 2021 itu, terjadi banjir bandang di desa Bulukerto," ujar Rachmad.

"Itu yang mengkhawatirkan kan kalau alih fungsi lahan yang tanaman lindung, kemudian dirubah menjadi tanaman ekonomi produktif. Kalau tanamannya tidak bisa menahan banjir dan tanah longsor selesai, akan terjadi banyak bencana di Kota Batu," imbuhnya.

Menurutnya, kejadian tersebut hanya hianggap bencana alam biasa, hingga sampai saat ini belum ada gerakan revolusioner.

Rachmad juga menyinggung bahwa Nurochman dan Heli Suyanto memiliki visi misi yang sangat ekologi di antara kamdidat calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu ketika pemilihan. Namun, belum ada implementasi signifikan yang dilakukan oleh Nurochman dan Heli Suyanto.

"Tapi di level implementasi itu memang belum secara signifikan. Kalau ceremonial-ceremonial masih banyak. Ceremonial, commitment, rhetorical, itu banyak. Tapi kan, namanya kebijakan tidak boleh berhenti di situ, harus implementasinya itu yang penting, yang penting implementasi dan dampaknya bagi masyarakat," jelas Rachmad.

Ia juga menyoroti masyarakat Kota Batu yang masih merasa tenang dengan kondisi darurat sampah di Kota Batu. Menurutnya, masyarakat Kota Batu identik dengan suku Jawa yang lebih legowo atau menerima semua yang terjadi.

"Ketemuan mahasiswa saya mengenai sampah, itu masyarakat kok tenang-tenang saja, seakan-akan tidak menganggap itu sebagai persoalan penting. Memang mindset masyarakat Jawa kan terlalu nerimo, kesalahan kebijakan dianggap sebagai hal yang lumrah," pungkasnya.

Melalui pengamatan kritis seorang akademisi sosiologi, Rachmad ingin Kota Batu menjadi kawasan yang alami dengan hawa segar sebagai ciri khas. Untuk mempertahankan identitas Kota Batu, memperhatikan sisi ekologi menjadi suatu hal yang penting.(*)

Tombol Google News

Tags:

Universitas Muhammadiyah Malang Kampus UMM Kampus Malang Ekologi Kota Batu Akademisi Umm UMM Kota Batu alih fungsi lahan