Adaptif dan Kaya Nutrisi, Sukun Berpotensi Jadi Superfood Lokal dan Pangan Masa Depan Indonesia

4 Juli 2026 20:45 4 Jul 2026 20:45

Thumbnail Adaptif dan Kaya Nutrisi, Sukun Berpotensi Jadi Superfood Lokal dan Pangan Masa Depan Indonesia

Tanaman Sukun yang bisa tumbuh baik di berbagai daerah di Indonesia, berpotensi menjadi superfood. (Foto: IPB Digitani)

KETIK, BOGOR – Sukun dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pangan masa depan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain kaya nutrisi, tanaman ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Edi Santosa, mengatakan sukun memenuhi sejumlah syarat untuk dikategorikan sebagai superfood. Menurutnya, suatu bahan pangan layak disebut superfood apabila memiliki kandungan gizi yang tinggi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan emisi karbon rendah dan tahan terhadap dampak perubahan iklim.

“Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu,” jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu, 4 Juli 2026. 

Prof Edi menjelaskan, dari sisi kandungan gizi, sukun menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan beberapa sumber karbohidrat lain. Buah ini kaya akan serat, memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, serta mengandung vitamin C. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa sukun mengandung vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn) yang berperan penting dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat sekaligus membantu upaya pencegahan stunting.

“Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan,” ujarnya.

Keunggulan lain sukun terletak pada kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sebagai tanaman tahunan, sukun mampu tumbuh di wilayah dengan curah hujan tinggi maupun daerah yang relatif kering, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Prof Edi, dengan perawatan yang tidak terlalu rumit, pohon sukun tetap mampu menghasilkan buah hampir sepanjang tahun sehingga berpotensi menjadi sumber pangan yang berkelanjutan.

Selain memiliki nilai gizi yang tinggi, sukun juga menyimpan prospek ekonomi yang menjanjikan. Prof Edi menilai komoditas ini dapat dikembangkan menjadi tepung yang kemudian diolah menjadi berbagai produk pangan modern, seperti roti, mi, maupun aneka makanan olahan lainnya.

Ia menambahkan, pengembangan industri berbasis sukun berpeluang memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal Indonesia.

Sementara untuk pasar internasional, Prof Edi menilai promosi masih menjadi tantangan utama. Masyarakat di berbagai negara perlu dikenalkan lebih luas mengenai cara mengolah dan mengonsumsi sukun agar komoditas ini mampu mengikuti jejak keberhasilan nangka yang telah lebih dulu diterima pasar global.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah penguatan promosi, budaya pangan, dan industri. Festival atau perlombaan berbasis sukun dapat menjadi langkah untuk meningkatkan popularitasnya. Media massa juga memiliki peran penting dalam mengenalkan sukun sebagai superfood Indonesia,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sukun Superfood IPB University Prof Edi Santosa ketahanan pangan Perubahan iklim Pangan Lokal Tepung Sukun gizi Stunting