Kakek Satu Kaki Mengamen di Jalan, Camat Tulangan Sidoarjo Jemput dan Antar Pulang

26 Mei 2026 07:35 26 Mei 2026 07:35

Fathur Roziq

Editor
Thumbnail Kakek Satu Kaki Mengamen di Jalan, Camat Tulangan Sidoarjo Jemput dan Antar Pulang

Camat Tulangan Andi Sulistiono mengantar Suyanto naik ke mobil pikap petugas ketenteraman dan ketertiban umum (trantibum) Kecamatan Tulangan pada Jumat (22 Mei 20026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

KETIK, SIDOARJO – Pengamen jalanan kerap bermunculan di persimpangan lampu merah. Jika pengais uang receh itu ternyata seorang difabel, berbahaya bagi keselamatannya. Camat Tulangan M.  Andi Sulistiono membujuk seorang penyandang disabilitas yang mengamen di lampu merah pertigaan Tulangan. Pengamen itu ditraktir makan, diantar pulang.

Jumat siang (22 Mei 2026), panas masih mendera Jalan Raya Kepadangan, Tulangan. Tepatnya, depan Pasar Tulangan. Suyanto tampak berjalan tertatih ke tengah jalan. Dengan kruk di kedua lengannya, lelaki 60 tahun tersebut mendekati kendaraan yang berhenti. Itu karena kaki kirinya (maaf, buntung).

Kaus dan celananya sudah lusuh. Kulitnya kehitaman. Jenggot telah memutih. Lelaki asal Desa Waung, Kecamatan Krembung, itu mengenakan topi di kepala. Sekadar demi menahan terik sinar matahari.

Sambil membawa mikrofon tanpa kabel, Suyanto berusaha menyanyi. Entah lagu apa karena tidak begitu jelas syairnya. Berharap ada pengendara yang iba dan memberikan rupiah. Suara lelaki itu terhenti saat Camat Tulangan Andi Sulistiono terlihat mendekat. Suyanto menepi. Andi mengikuti.

Foto Camat Tulangan Andi Sulistiono berusaha membujuk Suyanto agar tidak mengamen lagi di jalanan. Ternyata tidak mudah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)Camat Tulangan Andi Sulistiono berusaha membujuk Suyanto agar tidak mengamen lagi di jalanan. Ternyata tidak mudah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Keduanya lantas duduk di sebuah bangku. Mereka mengobrol. Andi Sulistiono mengatakan sudah berkali-kali dirinya menemui Suyanto mengamen di jalanan. Padahal, pertigaan Tulangan tergolong ramai. Arus lalu lintas melaju dari tiga arah. Dengan kondisi kaki yang tinggal sebelah, tentu saja keselamatan kakek dua cucu itu rentan tertabrak kendaraan.

”Pak, tidak enak dilihat. Njenengan nggih bahaya nanti kalau ada kendaraan yang kencang,” kata Andi Sulistiono.

Wis talah, Pak. Aku kudu yo opo (Sudahlah, saya harus bagaimana lagi),” ujar Suyanto.

”Pak, Njenengan ini menjadi kewajiban pemerintah. Sudah tiga kali saya mengingatkan agar tidak mengamen di jalan. Sekarang saya antar pulang,” tegas Andi Sulistiono.

Wis ngene lho, Pak. Pemerintah mbantu aku opo?” sergah suami Sukarsih, 55, tahun tersebut.

Andi Sulistiono pun menjelaskan bahwa dirinya berharap Suyanto tidak mengamen lagi di jalanan. Kondisinya yang butuh bantuan akan disampaikan ke Dinas Sosial (Dinsos) Sidoarjo. Bagaimana keluarganya di rumah juga bakal dilaporkan untuk mendapatkan uluran tangan pemerintah.

”Kami ini ingin Njenengan bisa hidup tenang di rumah. Damai sama keluarga,” tutur Andi Sulistiono. 

Suyanto yang semula bersikeras tak mau pulang itu akhirnya luluh. Dia terdiam. Juga, berterus terang bahwa dirinya tinggal bersama anak dan istri serta menantu di Desa Waung, Kecamatan Krembung. Akhirnya Suyanto juga tidak keberatan untuk diantar pulang.

Andi Sulistiono pun memanggil mobil pikap petugas Trantibum Kecamatan Tulangan. Suyanto dibantu naik ke pikap. Sebelum mengantar pulang, Andi Sulistiono mengajaknya makan dulu. Tapi, Suyanto menolak. Makanan itu pun akhirnya dibungkus saja.

Sampai di Desa Waung, diketahui bahwa Suyanto tinggal bersama istri, anak, menantu, dan dua cucunya. Sehari-hari putrinya bekerja di sebuah pabrik. Menantu bekeja serabutan. Dan, Sukarsih, istrinya, momong anak tetangga.

”Pak Suyanto ini dapat bantuan pangan non tunai (BPNT) senilai Rp 200 ribu sebulan,” jelas Andi Sulistiono.

Foto Camat Tulangan Andi Sulistiono berusaha membujuk Suyanto agar tidak mengamen lagi di jalanan. Ternyata tidak mudah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)Camat Tulangan Andi Sulistiono berusaha membujuk Suyanto agar tidak mengamen lagi di jalanan. Ternyata tidak mudah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Dilihat dari foto di KTP-nya, Suyanto pernah tercatat bekerja sebagai karyawan swasta. Wajahnya juga terlihat segar dan ganteng sekitar 10 tahun lalu. Rambutnya rapi. Sekarang kulitnya gelap. Uban pun tumbuh sampai ke janggutnya.

Nasib lelaki kelahiran 24 November 1966 itu berubah sejak mengalami kecelakaan. Tahun berapa dan seperti apa kejadiannya, Suyanto enggan bercerita. Yang pasti, kakinya harus diamputasi saat itu. Meski begitu, semangatnya tetap tinggi untuk mencari rezeki. Dia berharap masih bisa bekerja jika mendapatkan modal dan keterampilan.

Menurut Andi Sulistiono, sebelum Suyanto, ada empat orang lain yang sering mengamen di Pertigaan Tulangan. Ada perempuan emak-emak, remaja, maupun manusia perak. Satu per satu mau dibujuk untuk pulang dan tidak mengamen di jalan.

”Semuan bukan warga Tulangan. Jadi saya antar balik ke desa masing-masing,” tegas Andi Sulistiono. (*)

 

Tombol Google News

Tags:

Tulangan Sidoarjo Pengamen Jalanan Pertigaan Tulangan Pengamen Disabilitas