UIN Malang Hadiri Higher Education Advanced Leadership, Wakil Rektor I Tekankan Kualitas Akademik Berkelanjutan

31 Juli 2026 22:09 31 Jul 2026 22:09

Nurul Aliyah, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail UIN Malang Hadiri Higher Education Advanced Leadership, Wakil Rektor I Tekankan Kualitas Akademik Berkelanjutan

Wakil Rektor I dan Wakil Dekan III FKIK UIN Malang menghadiri Higher Education Advanced Leadership yang diselenggarakan pada 29 hingga 31 Juli 2026 di Monash University Indonesia. (Foto: Istimewa)

KETIK, MALANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang turut hadir dalam Higher Education Advanced Leadership, sebuah ruang diskusi pelatihan kepemimpinan yang dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi Indonesia dan luar negeri pada 29 hingga 31 Juli 2026 di Monash University Indonesia.

Pada pelatihan kepemimpinan ini, sebanyak 15 perguruan tinggi di Indonesia hadir sebagai peserta.

UIN Malang diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik H. Basri dan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Begum Fauziyah.

Secara khusus, pelatihan ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari Australian National University, University of Adelaide, Indiana University, serta beberapa perguruan tinggi terkemuka lainnya.

Acara ini menjadi ruang diskusi terkait berbagai isu strategis, seperti pemeringkatan perguruan tinggi dunia (World University Ranking), penguatan kolaborasi internasional, hingga peran perguruan tinggi dalam pertumbuhan ekonomi.

Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Malang, H. Basri menuturkan bahwa pelatihan ini dapat membuka pandangan baru dalam pengembangan perguruan tinggi di tengah ketatnya kompetisi global. Menurutnya, bukan hanya sekadar mengejar peringkat dunia, tetapi kualitas akademik yang lebih penting untuk dibangun.

“Pesan terpenting yang kami peroleh dari para pakar adalah bahwa membangun kualitas akademik jauh lebih penting daripada sekadar mengejar ranking dunia. Jika proses akademik dibangun secara benar, mulai dari pembelajaran, penelitian, hingga tata kelola, maka reputasi internasional akan mengikuti dengan sendirinya,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini, Basri mengungkapkan bahwa para narasumber menekankan bahwa kualitas akademik adalah fondasi utama dalam pengembangan perguruan tinggi, mulai dari kehadiran dosen, mutu materi, metode pembelajaran, hingga sistem evaluasi yang dinilai akan melahirkan lulusan yang berkualitas sekaligus meningkatkan reputasi institusi.

Para pakar juga menyoroti kualitas penelitian di perguruan tinggi Indonesia yang masih berorientasi pada peningkatan jumlah kuantitas publikasi ilmiah tanpa diiringi dengan dampak nyata yang diberikan kepada masyarakat, industri, maupun pengembangan teknologi. 

“Kita tidak boleh hanya mengejar kuantitas publikasi. Penelitian harus menghasilkan inovasi yang berdampak, mampu menyelesaikan persoalan masyarakat, mendukung kebijakan publik, dan memberi nilai tambah bagi dunia industri,” jelas Basri.

Mereka menekankan bahwa secara kuantitatif, penelitian Indonesia mampu bersaing dengan sejumlah negara di Asia Tenggara. Namun, peningkatan kuantitas dinilai belum menghasilkan inovasi dalam kemajuan ilmu pengetahuan maupun pembangunan ekonomi.

Forum diskusi ini juga membahas terkait alasan strategis banyak perguruan tinggi yang gencar dalam mengejar pemeringkatan internasional. Sebab, ketika perguruan tinggi berhasil mendapatkan posisi dalam rangking dunia, reputasi institusi akan meningkat, menarik mahasiswa asing, memperluas kolaborasi internasional, serta memperkuat sumber pendapatan perguruan tinggi.

Meski demikian, para pakar tetap menegaskan bahwa ambisi internasional harus ditopang dnegan investasi yang memadai. Sementara, perguruan tinggi di Indonesia menghadapi paradoks antara target yang tinggi dengan keterbatasan anggaran.

Berbanding terbalik dengan Tsinghua University yang memiliki anggaran sekitar 8 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan lebih dari Rp140 triliun per tahun yang dapat dimanfaatkan untuk merekrut akademisi kelas dunia, memperkuat riset unggulan, serta menghasilkan inovasi berdampak luas terhadap sains dan teknologi.

Basri menyampaikan pengalaman negara-negara seperti China dan Vietnam hang menunjukkan bahwa keberhasilan dalam meraih pemeringkatan internasional tidak bisa dibangun melalui jalan pintas, melainkan dengan investasi jangka panjang terhadap kualitas dosen, mahasiswa riset, dan tata kelola perguruan tinggi.

“Pelatihan ini menjadi refleksi bagi kami di UIN Malang. Internasionalisasi harus dibangun melalui peningkatan kualitas akademik yang berkelanjutan. Ranking merupakan konsekuensi dari mutu, bukan tujuan yang dicapai dengan segala cara,” tutur Basri.

Rangkaian acara Higher Education Advanced Leadership ditutup dengan kunjungan para akademik ke Universitas Indonesia. Acara ini menjadi bagian ruang belajar mengenai praktik tata kelola perguruan tinggi dan pengembangan kepemimpinan akademik yang adaptif dalam menghadapi tantangan global.(*)

Tombol Google News

Tags:

UIN Malang Kampus Malang Kota Malang UIN Maliki Malang