KETIK, MALANG – Inovasi tak biasa datang dari lulusan Institut Teknologi Nasional Malang. Seorang mahasiswa berhasil menciptakan “plastik” berbahan dasar singkong yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bisa dimakan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Trustha Aurora Firdauza, lulusan terbaik Program Studi Teknik Kimia S-1, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITN Malang. Mahasiswi asal Wagir, Kabupaten Malang, ini berhasil meraih IPK 3,84 dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun.
Melalui penelitiannya, Trustha menciptakan edible film, yakni lapisan tipis menyerupai plastik yang terbuat dari pati singkong dan natrium alginat dari rumput laut. Produk ini dirancang sebagai pembungkus bumbu mi instan yang dapat langsung dikonsumsi bersama isinya.
“Inovasi ini untuk menggantikan plastik pembungkus bumbu mi instan. Saya juga menambahkan ekstrak bawang putih, sehingga hasilnya memiliki aroma khas dan membuat bumbu lebih gurih,” ujarnya.
Proses pembuatannya dilakukan dengan metode sederhana. Bahan seperti pati singkong, air, gliserol, dan natrium alginat dicampur, lalu dipanaskan hingga mengental. Selanjutnya, larutan dicetak tipis dan dikeringkan hingga membentuk lembaran menyerupai plastik.
Meski terlihat sederhana, proses penelitian ini tidak lepas dari tantangan. Trustha mengaku sempat mengalami kesulitan dalam menemukan komposisi bahan yang tepat agar hasil edible film memiliki tingkat elastisitas yang baik dan tidak mudah robek.
“Pada tahap awal, tantangan terbesar adalah menemukan formulasi yang pas. Elastisitasnya masih perlu dikembangkan agar sesuai standar,” tambahnya.
Selain memiliki keunikan, produk ini juga menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Edible film mampu bertahan hingga dua bulan pada suhu ruang dan bisa mencapai empat bulan jika disimpan dalam kondisi vakum.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, Trustha juga aktif dalam organisasi kampus. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) serta menjadi asisten Laboratorium Mikrobiologi.
Melalui inovasi ini, Trustha membuktikan bahwa bahan sederhana seperti singkong dapat diolah menjadi teknologi yang unik dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan di masa depan.
