KETIK, KEDIRI – Semakin meningkatnya penggunaan pembayaran digital mendorong mahasiswa (KKN) Universitas Brawijaya mengadakan pendampingan pembuatan QRIS bagi pelaku UMKM di Desa Jajar, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada 14 Juli 2026.
Program ini bertujuan membantu pelaku usaha beradaptasi dengan transaksi non-tunai sekaligus meningkatkan daya saing usaha.
Seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital, tidak sedikit pembeli yang mulai memilih bertransaksi menggunakan QRIS. Namun, masih ada pelaku UMKM di Desa Jajar yang belum memiliki QRIS sehingga belum dapat melayani permintaan tersebut.
Sebagian pedagang mengaku masih belum mengetahui cara mendaftar maupun menggunakan QRIS dalam usahanya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa KKN Universitas Brawijaya mengadakan sosialisasi QRIS.
Melalui kegiatan tersebut, para pelaku UMKM diajak mengenal manfaat QRIS sekaligus memahami langkah-langkah pendaftarannya agar dapat mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital.
Kegiatan pendampingan dan pembuatan QRIS diadakan di balai desa Jajar, tepatnya pada tanggal 14 Juli 2026 sekitar pukul 09.00 pagi.
Acara dimulai dengan registrasi para peserta, dilanjut dengan pembukaan oleh Master of Ceremony dan diisi dengan sambutan dari Kepala Desa Jajar, Ibu Asta yang dilanjut dengan sambutan Koordinasi Desa Jajar, Ridwan. Setelah itu pemaparan materi Qris dari Ridwan dan Nabila selaku Penanggung Jawab.
Dilanjut dengan sesi pre/post test beserta dengan tanya jawab dan diakhiri dengan sesi dokumentasi. Kegiatan ini dihadiri oleh para pelaku UMKM Desa Jajar yang terlihat antusias ketika pemaparan materi dengan menanyakan beberapa hal seperti “bagaimana jika saya tidak mempunyai handphone”, “apa yang harus dilakukan setelah proses pendaftaran selesai”, “kendala apa yang dapat terjadi” dan masih banyak lagi.
"Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM di Desa Jajar memiliki ketertarikan untuk memanfaatkan QRIS sebagai salah satu metode pembayaran dalam menjalankan usahanya," ujar Nabila, mahasiswi KKN Universitas Brawijaya.
Namun, kata Nabila, dari pertanyaan yang disampaikan selama kegiatan, masih terdapat peserta yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut mengenai proses pendaftaran, persyaratan administrasi, penggunaan QRIS, serta langkah yang harus dilakukan setelah proses registrasi selesai.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyampaian informasi saja belum cukup, sehingga diperlukan pendampingan secara langsung agar pelaku UMKM dapat memahami dan menerapkan penggunaan QRIS dengan baik," terangnya.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap pelaku UMKM tidak hanya mengetahui manfaat QRIS, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk mulai menggunakannya dalam kegiatan usaha sehari-hari.
"Oleh karena itu, kami berupaya memberikan pendampingan secara bertahap, mulai dari proses pendaftaran hingga penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran, sehingga pelaku UMKM dapat memanfaatkan sistem pembayaran digital secara lebih optimal untuk mendukung kemudahan transaksi dan perkembangan usahanya,," lanjutnya.
Kegiatan sosialisasi diikuti oleh pelaku UMKM di Desa Jajar yang mendapatkan pemaparan mengenai pengertian, manfaat, serta tata cara penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran digital.
Selain penyampaian materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait proses pendaftaran maupun penggunaan QRIS dalam transaksi sehari-hari.
Pada hari berikutnya, tim mahasiswa KKN Universitas Brawijaya melaksanakan pendampingan secara langsung kepada salah satu pelaku UMKM dalam proses pembuatan QRIS. Pendampingan dilakukan mulai dari pengecekan persyaratan administrasi, pengisian data usaha, proses registrasi, hingga aktivasi kode QR.
Setelah QRIS berhasil diterbitkan, tim mahasiswa juga memberikan demonstrasi dan simulasi transaksi untuk memastikan QRIS dapat digunakan dengan baik sebagai metode pembayaran non-tunai dalam mendukung aktivitas usaha.
Foto bersama pelaku UMKM Desa Jajar saat sosialisasi (Foto: Mahasiswa KKN UB Kediri)
Salah satu pelaku UMKM di Desa Jajar yaitu Yaya, pedagang aneka macam sosis dan minuman dingin mengaku terbantu dengan adanya pendampingan pembuatan QRIS yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Universitas Brawijaya.
Sebelumnya, ia sering menerima pertanyaan dari pelanggan mengenai ketersediaan pembayaran menggunakan QRIS, tetapi belum mengetahui prosedur pembuatannya.
"Selama ini memang banyak pelanggan yang bertanya apakah bisa bayar pakai QRIS, tetapi saya belum terlalu paham bagaimana cara membuatnya," ujarnya.
Setelah proses pembuatan QRIS selesai, ia menyampaikan apresiasinya kepada tim mahasiswa KKN. "Terima kasih sudah membantu proses pembuatannya. Setelah QRIS jadi, langsung saya gunakan untuk melayani pelanggan," ungkapnya.
Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan pembuatan QRIS ini, mahasiswa KKN Universitas Brawijaya berharap semakin banyak pelaku UMKM di Desa Jajar yang mampu beradaptasi dengan perkembangan sistem pembayaran digital.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat daya saing UMKM melalui transaksi yang lebih praktis, aman, dan terdokumentasi dengan baik.
Ke depan, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan terus terjalin sehingga upaya transformasi digital dapat berlangsung secara berkelanjutan serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Jajar.(*)
