KETIK, SURABAYA – Piala Dunia selalu punya cerita magis, dan pada edisi 2026 sekarang sorotan utama tertuju pada sang juara bertahan, Tim Nasional Argentina. Ini disampaikan Widya Rizki, Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya.
“Bagi para milenial dan Gen Z yang mengikuti dinamika sepak bola modern, Argentina punya formula sempurna yang bikin mereka layak diunggulkan lagi. Ini bukan cuma soal taktik di atas kertas, tapi tentang mentalitas juara,” ujarnya di Surabaya pada Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut dia, datang dengan status mentereng, anak asuh Lionel Scaloni masuk kandidat terkuat untuk mencetak sejarah back-to-back juara dunia. Terlebih bagi seorang Lionel Messi yang menjadi top skor Piala Dunia sepanjang masa.
Sang Lord Lionel Messi, kata dia, tetap menjadi kompas bagi timnya. Setiap ada yang berpikir bahwa era peman Inter Miami itu sudah habis maka salah besar. Di Tim Tango, Messi adalah center point alias poros utama permainan “Albiceleste”.
“Visi bermain, akurasi umpan dan magis kaki kirinya tetap jadi ancaman paling menakutkan untuk pertahanan lawan. Scaloni juga telah berhasil membangun sistem dan kehadiran GOAT di lapangan, seolah jadi booster mental tiada tanding buat skuad muda Argentina,” ucapnya.
Di barisan belakang, Emiliano 'Dibu' Martinez merupakan tembok kokoh atau penjaga gawang yang bisa memenangkan pertandingan. Pertahanan yang kuatlah yang memberikan trofi juara dan di sinilah peran vital seorang Martinez.
Berstatus sebagai penjaga gawang terbaik pada edisi Piala Dunia sebelumnya, Dibu adalah garansi keamanan di bawah mistar gawang.
“Karakteristiknya yang flamboyan jago memprovokasi mental striker lawan saat penalti. Refleksnya kelas dewa membuat lini belakang Argentina sangat tenang,” katanya.
Sejumlah faktor tersebut membuat Widya yang merupakan alumnus FISIP Universitas Airlangga Surabaya itu menjagokan Argentina kembali menjadi juara dunia.
Alasan lainnya, lanjut dia, seluruh skuad di tim memiliki mentalitas untuk meraih juara beruntun. Setelah memutus kutukan di Copa America 2021, juara Piala Dunia 2022, dan kembali merajai Copa America 2024, tim ini seolah lupa cara untuk kalah di turnamen besar.
"Mereka tahu cara menang, bahkan saat bermain buruk sekalipun,” tambah Wike, sapaan akrabnya.
Kemudian, kombinasi skuad yang matang antara pemain senior sarat pengalaman dan bintang-bintang muda berbakat membuat transisi permainan Argentina sangat cair dan tidak monoton.
Ditambah lagi era Argentina yang hanya bergantung pada Messi sudah lewat. Sekarang, semua pemain rela "berdarah-darah" demi membantu Messi, dan Messi pun bermain demi kejayaan tim. Argentina kini lebih mementingkan kolektivitas di atas Individualitas.
“Melihat keharmonisan tim, ketangguhan lini belakang yang dikomandoi Dibu Martinez ditambah menakutkannya magis seorang Messi membuat misi back-to-back juara dunia bukan lagi sekadar impian liar,” tutur dia. (*)
.png)