Di Hadapan 300 Ulama dan Aktivis NU, Kiai Imjaz Ungkap Kehidupan Keluarga dan Kepemimpinan Rais Aam PBNU

1 Oktober 2026 11:17 1 Okt 2026 11:17

Putri Nabilla S., Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Di Hadapan 300 Ulama dan Aktivis NU, Kiai Imjaz Ungkap Kehidupan Keluarga dan Kepemimpinan Rais Aam PBNU

KH Miftachul Akhyar dalam silaturahmi pasca-Muktamar ke-35 NU, Minggu, 27 September 2026, di Cirebon.(Foto: Dok PWNU Jatim)

KETIK, JAKARTA – Gala Dinner Pekan Rekonsiliasi dan Ukhuwah Nahdliyyin Pasca-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi forum untuk mendorong rekonsiliasi dan menjaga ukhuwah warga Nahdliyin. Forum yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Minggu, 27 September 2026, juga menekankan pentingnya tabayun dalam menyikapi perbedaan pandangan setelah Muktamar.

Sekitar 300 ulama serta aktivis NU, baik struktural maupun kultural, menghadiri kegiatan yang diinisiasi Imam Jazuli Foundation (IJF) tersebut. Forum itu menjadi bagian dari upaya menyatukan kembali misi dan gerakan warga NU setelah dinamika Muktamar ke-35.

Salah satu pembahasan dalam forum tersebut adalah kesaksian KH Imam Jazuli mengenai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar.

Kiai Imjaz, sapaan KH Imam Jazuli, mengatakan kesaksiannya disampaikan untuk melakukan tabayun terhadap berbagai informasi dan tudingan yang berkembang di ruang publik terkait KH Miftachul Akhyar.

“Saya ini orang yang objektif. Saya ingin klarifikasi sedikit saja berbagai bully, ujaran kebencian dan fitnah yang berkembang di ruang publik terkait KH Miftachul Akhyar, yang intinya ingin menjatuhkan marwah, wibawa, dan kehormatan beliau sebagai Rais Aam PBNU,” ungkap pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia ini.

Kesederhanaan KH Miftachul Akhyar

Kiai Imjaz menuturkan, setelah Muktamar ke-35 NU, ia bersama keluarga bersilaturahmi dan sowan langsung ke kediaman KH Miftachul Akhyar di Surabaya. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk melakukan tabayun terhadap sejumlah informasi yang beredar mengenai kehidupan Rais Aam PBNU.

Salah satunya terkait informasi mengenai rumah KH Miftachul Akhyar yang disebut memiliki fasilitas lift. Menurut Kiai Imjaz, kondisi yang ditemuinya justru menunjukkan kehidupan yang sederhana.

“Saya ini orang yang tidak mudah percaya dengan omongan orang. Saat bertemu Kiai Miftah, saya ngobrol sekaligus tabayun beberapa hal, termasuk kaitan rumah beliau yang memiliki lift, yang ternyata itu adalah pesantren. Rumah Kiai Miftah di belakang pesantren. Masuk gang. Itu pun lantai dua buat tempat santri. Atapnya sudah banyak yang rusak. Sederhana untuk sosok sekaliber pemimpin tertinggi organisasi terbesar di dunia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sikap KH Miftachul Akhyar dalam menghadapi kritik, fitnah, dan ujaran kebencian. Menurut Kiai Imjaz, Rais Aam PBNU memilih diam dan bersabar.

“Saya menanyakan langsung ke Kiai Miftah, kenapa memilih diam dan sabar menghadapi fitnah dan pembullyan. Beliau hanya tersenyum dan mengatakan, biar waktu yang mengungkap semua kebenaran. Ini sungguh luar biasa, akhlak pemimpin NU yang harus kita teladani,” tutur Kiai Imjaz.

Pertemuan tersebut, lanjutnya, berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kiai Imjaz menuturkan KH Miftachul Akhyar dan keluarga turut melayani serta menjamu dirinya dan istrinya secara langsung.

Kesederhanaan Keluarga

Kiai Imjaz juga menyoroti pola pendidikan keluarga KH Miftachul Akhyar yang menurutnya mengedepankan kesederhanaan. Ia menyebut salah seorang putra Rais Aam PBNU merupakan sahabatnya ketika sama-sama berada di Mesir.

“Salah satu putranya itu adalah sahabat saya. Mobil yang dia gunakan Carnival lama. Masyaallah. Ada anaknya lagi, alumni Lirboyo yang menjadi Wakil Katib PWNU Jatim, ke mana-mana naik sepeda motor. Hidup sangat sederhana keluarganya, rumahnya pun masih mengontrak,” ungkapnya.

Menurut Kiai Imjaz, prinsip tersebut juga tercermin dari sikap KH Miftachul Akhyar yang tidak ingin anak-anaknya memanfaatkan posisi sang ayah untuk memperoleh kemudahan, kemewahan, maupun jabatan.

“Saya sendiri kaget saat putra beliau menolak pemberian dari saya yang disaksikan langsung oleh Rais Aam,” tuturnya.

Perjalanan Keilmuan dan Organisasi

Dalam forum tersebut, Kiai Imjaz juga menguraikan perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar yang ditempa melalui sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Tambakberas, Pondok Pesantren Sidogiri, dan pesantren di Lasem, Jawa Tengah.

KH Miftachul Akhyar juga mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ketika ulama tersebut masih mengajar di Indonesia. Salah satu sosok penting dalam perjalanan keilmuannya adalah KH Mashduqi Lasem yang kemudian menjadi mertuanya.

“Kiai Miftah itu santri sekaligus menantu gurunya di Lasem. Pesantren tempat ayah saya juga pernah mondok. Ini menjadi penegasan bagaimana kedalaman ilmu agama beliau, karena tidak mungkin Kiai Mashduqi menjadikan santrinya sebagai mantu bila tidak alim,” ungkap Kiai Imjaz.

Menurutnya, bekal keilmuan dari pesantren tersebut kemudian berpadu dengan aktivitas sosial dan dakwah KH Miftachul Akhyar hingga berkembang menjadi pengajian dan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya.

Kiai Imjaz juga menyebut KH Miftachul Akhyar masih istiqamah menjalankan pengajian kitab, salah satunya Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah as-Sakandari yang digelar setiap Jumat setelah salat Jumat.

Dalam perjalanan organisasi, KH Miftachul Akhyar tercatat aktif dalam struktur Syuriyah NU Surabaya sejak akhir 1970-an. Ia kemudian dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000, Rais PWNU Jawa Timur pada 2007–2015, Wakil Rais Aam PBNU sejak 2015, dan Rais Aam PBNU sejak 2018 hingga kini.

“Kombinasi antara kealiman Kiai Miftah yang ditempa dari pesantren-pesantren besar seperti Tambakberas, Sidogiri, hingga Lasem, dengan ketegasan prinsipnya yang kokoh hasil proses panjang dari perjalanan aktivisme berorganisasi di NU, adalah berkah terbesar bagi PBNU saat ini,” papar Kiai Imam Jazuli.

Dorong Warga NU Tidak Terprovokasi

Selain membahas sosok KH Miftachul Akhyar, Kiai Imjaz mengajak warga NU menyikapi perbedaan pasca-Muktamar dengan mengedepankan tabayun. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan maupun saling merendahkan.

Ia mengingatkan warga NU agar tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Saya telah mendengar, membaca, dan mengikuti secara langsung dengan saksama. Oleh karenanya, jangan karena Muktamar kemudian saling mencaci, memfitnah, dan menjatuhkan kehormatan ulama satu sama lain, apalagi kepada sosok Rais Aam PBNU,” harap Kiai Imjaz.

Ia juga menekankan pentingnya tabayun sebelum mengambil sikap.

“Kadang-kadang kita ini menjelekkan orang, enggak tahu faktanya. Jadi, seandainya saya tidak paham, saya memilih diam. Saya ngomong apa adanya tentang Rais Aam,” jelasnya.

Menurut Kiai Imjaz, informasi yang berkembang di ruang publik dapat membentuk persepsi apabila tidak disertai verifikasi.

“Faktanya banyak framing yang dilakukan pihak tertentu. Jika kita malah terjebak dan menjadi penyebar framing tersebut, itu ibarat menepuk air di dulang, terpercik kita sendiri. Kita justru menjadi pihak yang mendegradasi NU itu sendiri,” ujarnya.

Ia berharap dinamika pasca-Muktamar dapat diarahkan menjadi ruang kolaborasi dan penguatan organisasi. Menurutnya, kepemimpinan dalam organisasi membutuhkan dialog, kesabaran, dan ketenangan dalam menghadapi perbedaan.

“KH Miftachul Akhyar menunjukkan teladan kesabaran dan kepemimpinan yang tenang dan tegas dalam menyampaikan setiap aspirasi dan sikap organisasi serta menghadapi berbagai persoalan organisasi dengan kepala dingin tanpa emosi,” ungkap Kiai Imjaz.

Ia kemudian mengajak warga NU menjaga persatuan dan menguatkan kembali khidmah organisasi setelah Muktamar ke-35.

“Kepemimpinan Kiai Miftach dengan kekuatan moral dan ideologis NU harus dijaga agar memberikan rasa aman bagi warga Nahdliyin di akar rumput. Sudah tiba saatnya para ulama bangkit dan bersatu kembali. Mengisi khidmah utama jam’iyyah untuk umat. Mengarungi abad kedua dengan akar perjuangan pendahulu, penuh keikhlasan, memperkuat profesionalisme organisasi dalam bingkai kepemimpinan kolaboratif, di bawah komando Rais Aam PBNU,” pungkasnya.

Tombol Google News

Tags:

Kiai Imjaz KH Miftachul Akhyar Muktamar Ke-35 Nu nahdlatul ulama KH Imam Jazuli