Kebutuhan Tidur Malam Kurang Bisa Bikin Otak Gagal Cerdas dan Pikun, Benarkah?

21 Juli 2026 02:00 21 Jul 2026 02:00

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Kebutuhan Tidur Malam Kurang Bisa Bikin Otak Gagal Cerdas dan Pikun, Benarkah?

Ilustrasi seseorang yang mengantuk karena begadang. Kebiasaan tidur kurang dari tujuh jam per malam dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, hingga meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif dalam jangka panjang. (Foto: Freepic)

KETIK, JAKARTA – Banyak orang menganggap begadang sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Mulai dari menyelesaikan pekerjaan, menonton serial favorit, hingga bermain gim sampai dini hari.

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur bukan sekadar membuat seseorang mengantuk keesokan harinya, melainkan juga dapat memengaruhi kemampuan otak dalam jangka panjang.

Lantas, benarkah kebutuhan tidur malam yang tidak terpenuhi dapat membuat otak gagal berkembang dan memicu kepikunan?

Dikutip dari Halodoc.com dan sejumlah penelitian kesehatan, tidur merupakan proses biologis penting yang berfungsi memulihkan kondisi tubuh sekaligus membantu otak menyimpan, mengolah, dan memperkuat informasi yang diterima sepanjang hari.

Saat seseorang tidur, otak tidak benar-benar beristirahat.

Sebaliknya, organ tersebut justru aktif melakukan konsolidasi memori, memperbaiki sel-sel saraf, hingga membersihkan limbah metabolik yang menumpuk selama beraktivitas.

Kurangnya waktu tidur dapat mengganggu proses tersebut.

Akibatnya, kemampuan berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat informasi mengalami penurunan.

"Ketika tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek," ujar dr. Avelino Verceles dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.

Para peneliti menyebut, orang dewasa idealnya tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap malam.

Sementara anak-anak dan remaja membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang karena otak mereka masih berada dalam tahap perkembangan.

Jika kebutuhan tidur tidak terpenuhi secara terus-menerus, dampaknya bisa cukup serius.

Pertama, otak menjadi lebih lambat dalam menerima informasi baru.

Orang yang kurang tidur cenderung kehilangan fokus sehingga sulit memahami pelajaran atau pekerjaan yang sedang dilakukan.

Kedua, daya ingat mengalami penurunan.

Saraf-saraf yang bertugas menyimpan memori tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan regenerasi, sehingga seseorang menjadi lebih mudah lupa.

Selain itu, kurang tidur juga dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai brain fog atau kabut otak.

Kondisi ini ditandai dengan sulit berpikir jernih, lambat mengambil keputusan, hingga menurunnya tingkat konsentrasi.

Tak sedikit orang yang mengalami brain fog mengeluhkan dirinya menjadi "lemot", sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara, hingga sering lupa meletakkan barang.

Dalam jangka panjang, para ahli mengingatkan bahwa gangguan tidur kronis memiliki kaitan dengan meningkatnya risiko penurunan fungsi kognitif, termasuk demensia dan Alzheimer pada usia lanjut.

Meski demikian, para pakar menegaskan bahwa kurang tidur tidak serta-merta membuat seseorang langsung pikun.

Risiko tersebut umumnya muncul apabila kebiasaan tidur yang buruk berlangsung selama bertahun-tahun dan disertai faktor lain, seperti pola makan tidak sehat, stres berkepanjangan, kurang olahraga, serta penyakit tertentu.

Irama sirkadian atau jam biologis tubuh juga memegang peranan penting.

Ketika seseorang terus-menerus tidur larut malam, tubuh akan kesulitan menyesuaikan ritme alaminya.

Akibatnya, kualitas tidur menurun meski durasi tidur terlihat cukup.

Kondisi inilah yang membuat seseorang tetap merasa lelah setelah bangun tidur.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai memperbaiki pola tidur dengan mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, menghindari konsumsi kafein pada malam hari, serta menjaga jadwal tidur yang konsisten setiap hari.

Dengan kata lain, anggapan bahwa kurang tidur dapat membuat otak "gagal cerdas" dan meningkatkan risiko kepikunan bukanlah sekadar mitos.

Meski tidak terjadi secara instan, kebiasaan mengabaikan kebutuhan tidur dapat memberikan dampak nyata terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang.

Karena itu, tidur yang cukup seharusnya tidak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan makan sehat dan berolahraga.(*)

Tombol Google News

Tags:

kurang tidur Kesehatan otak Begadang Brain Fog pikun demensia Irama Sirkadian Tidur Sehat Halodoc Kesehatan Masyarakat