Kol Goreng Jadi Menu Favorit di Warung Tendaan, Bagaimana Dampaknya Bagi Kesehatan?

27 Oktober 2026 03:00 27 Okt 2026 03:00

Tamtatsila Dwi A., Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kol Goreng Jadi Menu Favorit di Warung Tendaan, Bagaimana Dampaknya Bagi Kesehatan?

Ilustrasi. Kol putih yang diolah dengan cara digoreng dapat nengalami perubahan kandungan nutrisi dan kalori. (Foto: Pinterest)

KETIK, JAKARTA – Makan penyetan rasanya kurang lengkap jika tidak ditemani lalapan. Mulai dari mentimun, kemangi, hingga kol putih segar yang biasanya disajikan sebagai pelengkap.

Namun, belakangan ini, kol goreng justru menjadi salah satu menu yang banyak digemari. Teksturnya yang layu, sedikit berminyak, tetapi gurih dan renyah membuat sayuran ini terasa semakin nikmat disantap bersama sambal dan lauk pilihan.

Di balik kenikmatannya, ternyata ada hal yang perlu diperhatikan dari kebiasaan mengonsumsi kol goreng, terutama jika diolah menggunakan banyak minyak atau digoreng berulang kali.

Kol putih merupakan sayuran dari keluarga Brassicaceae, kelompok tumbuhan yang juga mencakup berbagai jenis sayuran kubis-kubisan.

Sayuran ini dikenal rendah kalori, tetapi kaya akan nutrisi, seperti serat, kalium, vitamin C, vitamin K, serta senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Bahkan, kol putih mengandung senyawa yang berpotensi membantu melindungi tubuh dari perkembangan sel kanker. Namun, cara pengolahannya turut memengaruhi kandungan nutrisi dan manfaat yang bisa diperoleh dari sayuran tersebut.

Hal ini turut disoroti oleh Budi Gunadi Sadikin melalui akun TikTok-nya dalam serial BGS (Budi Gemar Sharing). Ia mengingatkan bahwa kol yang dikenal memiliki senyawa antikanker dapat kehilangan sebagian manfaatnya apabila diolah dengan cara yang kurang tepat.

“Padahal kol yang biasa ini punya senyawa antikanker, kalau dia digoreng malah jadi pemicu kanker,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam salah satu kontennya.

Selain itu, kol putih yang awalnya rendah kalori juga dapat mengalami peningkatan kalori setelah digoreng karena menyerap minyak.

Sebagai gambaran, 100 gram kol putih mentah mengandung sekitar 25 kalori. Jumlah tersebut dapat meningkat bergantung pada banyaknya minyak yang terserap selama proses penggorengan.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh dr. Tirta melalui kanal YouTube @TirtaPengPengPeng dalam serial #SuaraKita berjudul Edukasi Buat Yang Ngeyel Gamau Makan Sayur dan Makanan Serat.

Dr. Tirta menjelaskan bahwa sayuran yang digoreng, seperti kol dan terong, dapat mengalami penurunan kandungan nutrisi tertentu akibat proses pemanasan. Ia juga mengingatkan risiko penggunaan minyak secara berulang, terutama ketika sayuran digoreng terlalu lama.

“Sayur yang digoreng terlalu lama, apalagi menggunakan minyak yang digunakan berulang kali, sifatnya akan menjadi seperti gorengan, yaitu berpotensi meningkatkan LDL. Karena sayur yang digoreng berkali-kali itu akan meningkatkan lemak jenuh,” jelasnya.

LDL (Low-Density Lipoprotein) dikenal sebagai kolesterol jahat karena kadar yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko penumpukan plak di pembuluh darah.

Bukan berarti kol goreng harus sepenuhnya dihindari. Namun, memahami cara pengolahan makanan menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan. Sesekali menikmati kol goreng tentu berbeda dengan menjadikannya konsumsi sehari-hari, terlebih jika menggunakan minyak yang telah dipakai berulang kali.

Jadi, kalau biasanya penyetan selalu ditemani kol goreng, tidak ada salahnya sesekali kembali memilih kol segar sebagai lalapan. Selain lebih rendah kalori, kita juga bisa memperoleh manfaat nutrisinya tanpa tambahan minyak dari proses penggorengan.(*)

Tombol Google News

Tags:

Low-density Lipoprotein Lemak Jenuh Pemicu Kanker Kol Putih kol goreng