Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an, Kerap Dijuluki Silent Killer

21 Juni 2026 20:00 21 Jun 2026 20:00

Thumbnail Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an, Kerap Dijuluki Silent Killer

Ilustrasi perbandingan antara hati atau liver yang sehat dengan yang mengalami perlemakan hati atau fatty liver. (Foto: Hunterdongastro)

KETIK, BOGOR – Penyakit perlemakan hati atau fatty liver yang kini dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) semakin sering ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang masih berada di rentang usia 30-an tahun.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menjelaskan bahwa fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak di organ hati yang berkaitan erat dengan gangguan metabolisme tubuh.

Menurutnya, penyakit ini kerap disebut sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak penderita merasa sehat dan tetap beraktivitas normal, padahal kerusakan pada hati sudah mulai terjadi.

“Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver,” ujarnya.

Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus menunjukkan tren peningkatan. Di Indonesia, kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya kasus obesitas dan berbagai gangguan metabolik lainnya.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Sementara itu, prevalensi obesitas sentral atau perut buncit pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8 persen.

Menurut dr Widya, tingginya angka tersebut menjadi sinyal meningkatnya masalah metabolik di masyarakat. Kondisi seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula, serta kurang aktivitas fisik menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya fatty liver.

Ia menegaskan bahwa perlemakan hati bukan hanya persoalan pada organ hati semata. Penyakit ini juga menjadi penanda adanya gangguan metabolik yang memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh.

Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengabaikan diagnosis fatty liver meskipun masih berada pada tahap ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, bahkan kanker hati. (*)

Tombol Google News

Tags:

Fatty Liver Perlemakan Hati MASLD IPB University Kesehatan Hati Silent Killer Gangguan Metabolik