Beras Fortifikasi Itu Apa? Fakta Kandungan Vitamin dan Mineral di Dalamnya

1 Oktober 2026 06:00 1 Okt 2026 06:00

Thumbnail Beras Fortifikasi Itu Apa? Fakta Kandungan Vitamin dan Mineral di Dalamnya

Ilustrasi beras fortifikasi. (Pexels/Bryan)

KETIK, JAKARTA – Beras fortifikasi menjadi salah satu bentuk inovasi pangan yang dirancang untuk menambah asupan mikronutrien dari makanan sehari-hari. Berbeda dari beras konvensional, produsen menambahkan vitamin dan mineral tertentu ke dalam beras melalui teknologi fortifikasi.

Kepala Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB University, Dr Puspo Edi Giriwono, menjelaskan bahwa fortifikasi dilakukan untuk meningkatkan kandungan zat gizi tertentu dalam beras.

“Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien, yaitu tiga vitamin dan dua mineral. Vitamin tersebut antara lain vitamin B1, B9, dan B12, sedangkan mineralnya adalah besi dan zink,” jelas Dr Puspo.

Dengan tambahan tersebut, beras fortifikasi membawa sejumlah mikronutrien yang tidak menjadi komponen utama dalam beras biasa. Penambahan besi, misalnya, diarahkan untuk membantu mengatasi dan menurunkan risiko anemia.

Sementara itu, zink berperan dalam mendukung daya tahan tubuh dan pertumbuhan yang optimal. Vitamin B1, B9, dan B12 juga menjadi bagian dari mikronutrien yang ditambahkan melalui proses fortifikasi.

 

Fortifikasi Ditujukan untuk Memperkuat Asupan Gizi

Fortifikasi pangan pada dasarnya bertujuan meningkatkan kandungan zat gizi pada bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Dalam beras fortifikasi, produsen menambahkan mikronutrien tertentu agar zat gizi tersebut dapat masuk melalui makanan yang menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari.

Karena beras menjadi salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi, penambahan vitamin dan mineral ke dalamnya dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan asupan mikronutrien masyarakat.

Namun, keberadaan zat gizi tambahan tidak hanya bergantung pada jenis vitamin dan mineral yang digunakan. Cara produsen memasukkan fortifikan ke dalam buliran beras juga menentukan seberapa baik zat gizi tersebut terlindungi selama proses pengolahan.

Dr Puspo menjelaskan, produsen dapat menggunakan beberapa teknologi, yakni coating, dusting, dan ekstrusi. Ketiga metode tersebut memiliki karakteristik berbeda dalam menempatkan fortifikan pada atau di dalam buliran beras.

Teknologi ekstrusi, misalnya, memungkinkan fortifikan masuk ke dalam buliran sehingga relatif lebih terlindungi dari oksigen, cahaya, dan panas.

 

Bukan Sekadar Menambah Vitamin dan Mineral

Pengembangan beras fortifikasi juga harus mempertimbangkan apa yang terjadi setelah produk meninggalkan fasilitas produksi. Konsumen umumnya masih melakukan sejumlah tahapan pengolahan sebelum beras dikonsumsi, termasuk mencuci beras.

Pada teknologi yang menempatkan fortifikan di permukaan bulir, sebagian zat gizi tambahan dapat berisiko larut dan terbuang ketika beras dicuci. Sebaliknya, teknologi ekstrusi dapat memberikan perlindungan lebih karena fortifikan berada di dalam buliran.

Selain teknologi, produsen juga perlu memastikan kandungan fortifikan tetap memenuhi standar selama produksi, distribusi, dan penyimpanan. Perbedaan stabilitas vitamin dan mineral dapat menyebabkan kadar sejumlah komponen menurun lebih cepat dibandingkan komponen lainnya.

Karena itu, beras fortifikasi tidak hanya berkaitan dengan jenis vitamin dan mineral yang ditambahkan. Teknologi pengolahan, kebiasaan konsumen, hingga pengujian dan penyimpanan turut menentukan seberapa konsisten zat gizi tersebut dapat dipertahankan sampai produk dikonsumsi. (*)

Tombol Google News

Tags:

Beras Fortifikasi Fortifikasi Beras Vitamin Dan Mineral Zat Gizi Teknologi Pangan Kandungan Beras Keamanan Pangan IPB