AS Perluas Blokade Iran hingga Samudra Global, Puluhan Kapal Dipaksa Putar Balik

26 April 2026 06:47 26 Apr 2026 06:47

Thumbnail AS Perluas Blokade Iran hingga Samudra Global, Puluhan Kapal Dipaksa Putar Balik

Menteri Perang AS, Pete Hegseth dalam jumpa pers di Pentagon, kantor Kementerian Perang AS, Jumat, 25 April 2026. (Foto: war.gov)

KETIK, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) memperluas blokade maritim terhadap Iran secara besar-besaran hingga mencakup jalur pelayaran internasional, dari Selat Hormuz hingga Samudra Pasifik dan Hindia. Langkah agresif ini menandai eskalasi signifikan tekanan Washington terhadap Teheran, terutama terkait program nuklirnya.

Kebijakan tersebut tidak lagi terbatas di kawasan Teluk Persia, melainkan diperluas ke berbagai titik strategis perdagangan global. Dengan cakupan ini, blokade AS terhadap Iran praktis menjangkau hampir seluruh jalur utama distribusi energi dunia.

Hingga Jumat pagi, 25 April 2026, militer AS dilaporkan telah mencegat dan memaksa sedikitnya 34 kapal yang diduga terkait Iran untuk berbalik arah. Aksi ini menunjukkan bahwa blokade tidak hanya bersifat deklaratif, tetapi juga ditegakkan secara aktif dan langsung di laut.

Washington menjadikan langkah ini sebagai instrumen tekanan utama agar Iran menghentikan program nuklirnya. AS menuntut penghentian tersebut dilakukan secara menyeluruh dan dapat diverifikasi sebelum sanksi maupun blokade dicabut.

Menteri Perang AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa pengawasan kini telah menjangkau titik-titik krusial pelayaran dunia tanpa terkecuali.

"Blokade kami semakin meluas dan menjadi global," ujarnya kepada wartawan di Washington, seperti dikutip dari Suara.com, jejaring media Ketik.com, Sabtu, 25 April 2026.

Pemerintah AS memastikan tidak akan ada aktivitas pelayaran keluar dari Selat Hormuz yang luput dari pantauan radar militer mereka.

Selain aspek politik dan keamanan, blokade ini juga menyasar langsung jantung ekonomi Iran. Dengan membatasi akses pelayaran, AS berupaya memutus jalur ekspor, terutama sektor energi yang menjadi tulang punggung perekonomian negara tersebut.

Blokade dilakukan sekutu utama Israel tersebut, untuk memaksa Iran mau berunding sesuai persyaratan yang diinginkan AS. 

"Iran tahu bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk memilih dengan bijak di meja perundingan. Mereka hanya perlu meninggalkan ambisi senjata nuklir secara nyata dan terverifikasi," kata Hegseth.

Di sisi lain, kebijakan ini berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas global. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur vital distribusi minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan tersebut berisiko mengganggu rantai pasok energi internasional.

Situasi ini mempertegas meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, langkah blokade skala global tersebut berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan berdampak pada ekonomi dunia. (*)

Tombol Google News

Tags:

##amerikaserikat Iran ##selathormuz ##samudrapasifik ##samudrahindia ##programnuklir ##blokadeglobal