Waduh! Dampak Kekeringan, Stok Air Perumdam Pacitan Tinggal Dua Bulan

20 Oktober 2026 13:13 20 Okt 2026 13:13

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Waduh! Dampak Kekeringan, Stok Air Perumdam Pacitan Tinggal Dua Bulan

Kantor Perumdam Tirta Dharma Kabupaten Pacitan. Pihaknya mengatakan tengah terjadi penyusutan air baku dan pengaturan distribusi air kepada pelanggan akibat kemarau panjang. (Foto: Dok. Ketik)

KETIK, PACITAN – Kemarau panjang menyebabkan ketersediaan air baku PDAM atau Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Dharma Kabupaten Pacitan menyusut. 

Direktur Perumdam Tirta Dharma Kabupaten Pacitan, Agus Suseno, memperkirakan ketersediaan air di sejumlah wilayah tersebut dapat bertahan sekitar dua bulan.

Perkiraan itu bergantung pada kondisi cuaca dan waktu turunnya hujan.

“Ya, ya, 2 bulan-lah, 2 bulan mungkin sampai akhir Desember. Memang susutnya sangat banyak sekali, karena memang ini kemaraunya panjang,” ungkap Agus saat dikonfirmasi Ketik.com, Selasa, 20 Oktober 2026.

Agus mengatakan, sejumlah wilayah pelayanan yang menghadapi kondisi lebih kritis adalah wilayah pegunungan.

"Ya kalau, kalau apa itu, di kota ya dari Waduk Tukul insyaallah aman ya, sampai katakanlah mungkin sampai  November apa Desember. Tapi kalau untuk beberapa wilayah yang memang ini sudah sangat kritis, termasuk pelayanan kami di Desa Penggung, Kecamatan Nawangan itu kan kan dari Embung, ini sudah kritis juga. Ya hanya kuat sekitar 1 bulan, 2 bulan," ungkapnya.

Agus mengatakan penyusutan air baku membuat pihaknya harus mengatur distribusi agar pelanggan tetap mendapatkan pasokan air, meski dengan jadwal yang menyesuaikan kondisi wilayah.

Perumdam telah menerapkan sistem blok di sejumlah wilayah. 

Melalui skema tersebut, distribusi air dibagi berdasarkan kondisi wilayah dan ketersediaan pasokan agar pelanggan tetap memperoleh air secara bergiliran.

Agus menyebut, di beberapa wilayah, pelanggan hanya bisa mendapatkan aliran air setiap tiga atau empat hari sekali. 

Kondisi geografis, terutama daerah yang jauh dan berada di kawasan pegunungan, menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan jadwal distribusi.

“Iya, di beberapa wilayah memang ini sudah kita berlakukan blok sistem, kita bagi, kan gitu. Kita bagi pada pelanggan-pelanggan itu, yang penting pelanggan bisa masih mendapatkan, kan gitu. Apa, katakanlah, 3 hari sekali atau 4 hari sekali, kan gitu,” jelasnya.

Kemarau Sempat Picu Air Perumdam Pacitan Mirip Comberan

Selain menyusutnya pasokan, kemarau panjang juga menjadi salah satu faktor yang disebut Perumdam berkaitan dengan keluhan kualitas air pelanggan. 

Seorang warga Tanjungsari, Kecamatan Pacitan sebelumnya mengeluhkan air keran yang keruh pekat hingga kehitaman dan dinilai tidak layak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Keluhan itu diunggah pemilik akun Instagram @dewiqariyani pada Jumat, 9 Oktober 2026. 

Dalam video yang dibagikan, kain penyaring di mulut keran terlihat berubah menjadi cokelat kehitaman dalam waktu singkat akibat endapan air.

“Kalau tanpa filter, airnya wujudnya seperti ini, warnanya seperti ini dan tidak bisa digunakan. Setelah saya gunakan penyaring, banyak sekali kan perbedaannya... Tapi tidak maksimal ini, karena kalau buat cuci pakaian putih langsung hitam warnanya,” ungkap Dewiq dalam video.

Setelah unggahan tersebut beredar, Perumdam merespons dan menghubungi pelapor untuk meminta nomor ID pelanggan guna mengirimkan petugas teknis. 

Namun, hingga Selasa, 13 Oktober 2026, siang, warga mengaku belum melihat kedatangan petugas maupun merasakan perubahan kondisi air.

“Sampai hari ini, siang ini, belum ada petugas turun. Lihatlah, ini air comberan atau air apa ini? Terlalu,” keluhnya dalam video susulan.

Menanggapi keluhan tersebut, Agus mengatakan Perumdam telah menindaklanjuti laporan melalui pembersihan dan pengurasan jaringan pipa. 

Laporan air keruh yang diterima sejauh ini berasal dari wilayah Kebon dan Krajan, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan. 

Ia mengklaim belum menerima laporan serupa dari wilayah lain.

“Ya, langsung kita tindak lanjuti, semua-semuanya sudah kita tindak lanjuti, begitu ada laporan langsung kita tindak lanjuti ngoten. Langsung gitu. Begitu ada pengurasan, gitu,” katanya.

Menurut Agus, sumber air penunjang di Dusun Selare, Desa Bangunsari mengering akibat kemarau panjang sehingga aliran dalam jaringan pipa menjadi tidak stabil. 

Perubahan tekanan dapat membuat kotoran di dalam pipa ikut terbawa hingga memengaruhi kondisi air yang diterima pelanggan.

“Ya, salah satu kemarau, kemarau panjang ini, ya karena memang kan sumber kita sebagai penompang kota yang ada di Selare itu kan kering, kan gitu. Akhirnya kan untuk alirannya kan tidak stabil di jaringan pipa itu. Lha jaringan pipa itu kalau ada tekanan kotorannya kan ikut terseret,” jelasnya.

Agus berharap kualitas air kembali membaik setelah penanganan. 

Ia memastikan laporan baru dari pelanggan akan ditindaklanjuti, termasuk dengan pengurasan jaringan apabila diperlukan.

“Ya, insyaallah. Insyaallah begitu. Tapi begitu ada laporan, ada kiriman pelanggan ya langsung kita tindak lanjuti,” ujarnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Perumdam Pacitan Agus Suseno kemarau panjang KRISIS AIR Distribusi Air Waduk Tukul Penggung Nawangan Kelurahan Ploso Air Pdam Keruh Berita pacitan Info Pacitan