KETIK, ACEH BARAT – Keluarga almarhum Badli, warga Desa Cot Kumbang, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, membantah berbagai informasi yang beredar di media terkait kondisi hidup almarhum sebelum ditemukan meninggal dunia di sebuah gubuk di kawasan hutan Cot Kumbang Pulo pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Usman, putra kandung almarhum Badli, menegaskan bahwa ayahnya tidak menetap di gubuk yang berada di area kebun tersebut. Menurutnya, gubuk itu hanya digunakan sebagai tempat beristirahat saat berkebun.
"Kami semua peduli kepada orang tua. Cot Kumbang itu tempat berkebun, kan tidak mungkin kita buat layak kali karena di sana tempat berkebun. Beliau di sana berkebun, kalau sudah selesai nanti pulang ke rumah anak yang ini kemudian ke rumah anak yang itu. Banyak anak beliau," kata Usman, Minggu, 19 Juli 2026.
Ia menjelaskan, almarhum lebih sering berpindah-pindah tinggal di rumah anak-anaknya setelah selesai bekerja di kebun. Karena itu, ia menilai anggapan bahwa ayahnya menetap di gubuk di tengah hutan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Usman juga mengaku kecewa atas pernyataan Keuchik Cot Kumbang yang menyebut ayahnya tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan rumah.
"Jadi yang dibilang Keuchik Amin itu kan, rumah bantuan dari pemerintah beliau ada di Desa Cot Kumbang, ada dua di sana. Tanah tempat beliau berkebun itu tanahnya sendiri," katanya.
Selain memiliki rumah bantuan, lanjut Usman, almarhum juga tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ia menyebut bantuan tersebut diterima secara berkelanjutan sejak 2022 hingga 2026.
"Beliau juga mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari tahun 2022 sampai tahun 2026 ini beliau juga masih dapat bantuan dari pemerintah," ujarnya.
Sementara itu, Camat Arongan Lambalek, Erna Martina, membenarkan bahwa sebelumnya keuchik setempat menyampaikan informasi bahwa almarhum tinggal di rumah yang tidak layak huni di kawasan pulau.
"Kita sedang pendataan, nah ketika kami saat pendataan ada juga yang ekspos pertama kan kesepakatan tingkat mukim bahwa beliau ada rumah seperti yang disampaikan anaknya, beliau ada punya dua rumah," kata Erna.
Erna menjelaskan, pemerintah kecamatan saat itu tengah melakukan pendataan masyarakat yang diprioritaskan untuk menerima bantuan. Menurutnya, proses tersebut telah disampaikan kepada pemerintah desa.
"Kalau menurut saya Pak Keuchik paham kondisi almarhum. Menurut pandangan beliau memang tinggal di pulau dan tidak mau tinggal di tempat keramaian. Almarhum memang suka di tempat sepi seperti yang disampaikan keluarga," katanya.
Hingga kini, perbedaan keterangan antara pihak keluarga dan pemerintah desa terkait kondisi tempat tinggal almarhum Badli masih menjadi perhatian. Namun, keluarga menegaskan bahwa almarhum tidak hidup terlantar di gubuk, melainkan memanfaatkan bangunan tersebut sebagai tempat singgah saat mengelola kebunnya. (*)
.png)