KETIK, SURABAYA – Sungai-sungai di Surabaya terus dinormalisasi guna mencegah aliran tersumbat, mengurangi risiko genangan dan menjaga kualitas lingkungan. Bukan sekadar dikeruk, normalisasi sungai banyak sekali bentuknya, salah satunya pengangkatan sampah dan material yang menggenang di sungai.
Selain itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Surabaya juga melakukan pelebaran sungai, penataan ruang sungai hingga pemeliharaan aliran. Sederhananya, normalisasi adalah upaya untuk mengembalikan fungsi dan kapasitas sungai atau saluran agar aliran air dapat berjalan lebih optimal.
Sungai terus dinormalisasi karena seiring berjalan waktu, sungai dapat mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, pertumbuhan tanaman air, kurangnya kapasitas menampung debut air. Tak hanya terjadi alami, ulah manusia seperti penumpukan sampah dan penyempitan ruang sungai juga menjadi faktor normalisasi sungai perlu dilakukan.
Pemerintah Kota langsung menemukan titik utama di Asemrowo dan Krembangan yang menjadi fokus utama program. Hal ini dilakukan juga karena prediksi musim hujan yang semakin dekat, sehingga dapat menjadi langkah pencegahan paling utama terhadap bencana-bencana seperti banjir, penumpukan sampah yang dapat menyebabkan penyakit.
Dalam prosesnya, Pemkot melakukan penentuan batas ruang sungai, pengukuran, penandaan bangunan yang masuk ruang sungai, sosialisasi dengan warga, penertiban bangunan hingga pengembalian fungsi ruang sungai.
Normalisasi bukan hanya soal upaya mengembalikan aliran sungai lebih terkendali, tetapi juga menata lingkungan agar seluruh wilayah di Surabaya siap menghadapi musim hujan yang diprediksi akan terjadi di rangkaian bulan akhir tahun 2026. (*)
