Pemkot Batu Kebut Grand Design Smart Integrated Farming, Pembangunan Fisik Dimulai Tahun 2027

18 Juni 2026 13:23 18 Jun 2026 13:23

Dafa Wahyu P., Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Pemkot Batu Kebut Grand Design Smart Integrated Farming, Pembangunan Fisik Dimulai Tahun 2027

Distan KP Kota Batu bersama tim ahli dari Universitas Brawijaya saat survey lokasi pembangunan Smart Integrated Farming di Desa Giripurno, Kota Batu. (Foto: Distan KP Kota Batu)

KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu terus mematangkan rencana pengembangan kawasan Smart Integrated Farming di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji. 

Program pertanian terpadu yang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah tersebut kini memasuki tahap penyusunan grand design dan ditargetkan mulai direalisasikan secara fisik pada tahun anggaran 2027.

Kawasan seluas sekitar 2,3 hektare itu akan dikembangkan secara bertahap hingga 2029 dengan konsep pertanian modern yang mengintegrasikan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, pengolahan limbah, hingga percontohan dan edukasi berbasis pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno, menjelaskan bahwa saat ini penyusunan grand design masih dilakukan bersama tim ahli dari Universitas Brawijaya dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026.

“Untuk saat ini program Integrated Farming masih berjalan. Grand design-nya sedang disusun bersama Universitas Brawijaya dan ditargetkan selesai pada bulan Agustus,” ujarnya, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurutnya, sejumlah tahapan telah dilakukan, termasuk peninjauan langsung ke lahan demplot di Desa Giripurno bersama tim ahli dan perangkat daerah terkait. 

Peninjauan tersebut bertujuan memetakan kesiapan lahan, potensi komoditas unggulan, serta kebutuhan sarana dan prasarana pendukung.

Foto Hendry Suseno, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)Hendry Suseno, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

Hendry menuturkan, konsep Integrated Farming System (IFS) dirancang sebagai model pertanian berkelanjutan yang menghubungkan berbagai subsektor dalam satu kawasan. 

Sistem tersebut memungkinkan pengelolaan tanaman, peternakan, dan lingkungan berjalan secara terpadu sehingga menghasilkan efisiensi sekaligus meningkatkan produktivitas.

“Kami juga sudah melakukan survei bersama dinas-dinas terkait karena program ini melibatkan lintas perangkat daerah. Untuk pelaksanaan fisiknya direncanakan mulai tahun anggaran 2027,” katanya.

Untuk memperkuat koordinasi, Sekretariat Daerah Kota Batu bersama Distan KP juga telah menggelar sosialisasi kepada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). 

Langkah ini dilakukan agar setiap instansi memahami peran masing-masing dalam mendukung pembangunan kawasan pertanian terpadu tersebut.

Dalam tahap perencanaan, sejumlah infrastruktur pendukung akan disiapkan melalui kolaborasi lintas sektor. Infrastruktur tersebut meliputi akses jalan, penerangan kawasan, hingga fasilitas pengelolaan sampah berbasis TPS 3R.

“Nantinya ada kolaborasi dengan beberapa perangkat daerah karena kebutuhan infrastruktur seperti jalan, penerangan, hingga pembangunan TPS 3R juga harus tersedia di kawasan tersebut,” jelas Hendry.

Ia menambahkan, Distan KP akan fokus pada pengembangan fasilitas inti pertanian, seperti pembangunan screen house, kandang ternak, serta lahan percontohan untuk berbagai subsektor pertanian.

Program Smart Integrated Farming merupakan bagian dari implementasi visi dan misi Wali Kota Batu, Nurochman, dan Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, yang tertuang dalam Program Strategis Daerah (PSD) melalui konsep Mbatu SAE.

Sebelumnya, Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa sektor pertanian perlu bertransformasi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar. 

Menurutnya, selama ini hasil pertanian lokal masih menghadapi tantangan dalam memenuhi standar kualitas untuk masuk ke pasar modern.

“Ke depan, petani harus mulai berproduksi berdasarkan kebutuhan pasar. Pengendalian kualitas harus ditingkatkan agar hasil pertanian tidak hanya terserap di pasar tradisional, tetapi juga mampu masuk ke ritel modern dengan nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya.

Selain meningkatkan kualitas produk pertanian, kawasan Giripurno juga diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran pertanian berbasis teknologi yang mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Kami ingin pertanian tampil lebih modern dan diminati anak muda. Jika model ini berhasil, nantinya bisa diterapkan oleh kelompok tani di lahan masing-masing,” kata Nurochman.

Konsep pengembangan kawasan juga mengedepankan prinsip keberlanjutan melalui sistem zero waste. Limbah hasil pertanian maupun peternakan akan diolah kembali menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas lahan.

“Seluruh limbah akan dikelola kembali ke lahan sehingga tercipta ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan begitu manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto mengajak masyarakat untuk turut mendukung pelaksanaan program tersebut. 

Ia memastikan seluruh proses pengembangan kawasan tetap memperhatikan aspek lingkungan, termasuk keberlanjutan sumber daya air bagi masyarakat sekitar.(Adv)

Tombol Google News

Tags:

Smart Integrated Farming Program Prioritas Mbatu Sae Wali Kota Batu Heli Suyanto Berita Kota Batu Info Kota Batu